HUJAN RAHMAT DAN HUJAN LAKNAT DALAM AL-QUR’AN
Masjid Ar-Rahman Bunulrejo Kota Malang
2 Desember 2022
Imam Asrori (imam.asrori.fs@um.ac.id)
السلام عليكم ورحمة الله
وبركاته
الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على أشرف المرسلين
وعلى آله وأصحابه أجمعين
أشهد أن لا إله إلا الله
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
اللهم صل على نبينا محمد
كما صليت على نبينا إبراهيم
وبارك على نبينا محمد كما
باركت على نبينا إبراهيم
في العالمين إنك حميد مجيد
أعوذ بالله من الشيطان
الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
:"وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ
الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ
الْحَمِيدُ"(الشورى/42: 28)
أوصيكم ونفسي بتقوى الله
فقد فاز المتقون فقد فاز المؤمنون
Jamaatal
muslimin
Marilah kita berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah
subhanahu wata’ala. Upaya untuk meningkatkan ketakwaan dapat dilakukan, antara
lain dengan mengkaji dan memahami isi ayat-ayat Al-Qur’an, karena Alqur’an merupakan panduan hidup umat Islam.
Jama’atal muslimin, hari-hari kita berada di musim penghujan. Hampir setiap
hari hujan turun di wilayah kita, bahkan di wilayah-wilayah lain di nusantara
ini. Karena itu tidak ada salahnya pada khutbah siang ini kita berbicara
tentang hujan sebagaimana yang dibicarakan di dalam al-Qur’an.
Dalam bahasa Arab, hujan disebut dengan berbagai istilah/kata, tiga
di antaranya kata مَطَر mathar, غيث
ghaits, dan صيّب shayyib. Dalam
pemakaian sehari-hari, ketiga kata tersebut digunakan sebagai sinonim penuh.
Misalnya, jika ada mahasiswa mengatakan kemaren hujan sangat lebat, ia boleh
mengatakan “laqad nazala al-mathar ams ghaziiran, atau kata mathar diganti
ghaits “laqad nazala al-ghaits ams ghaziiran”, atau diganti dengan kata shayyib
“laqad nazala ams ash-shayyib ghaziiran”.
Jamaatal
muslimin
Berbeda dengan penggunaan sehari-hari, di dalam al-Qur’an ketiga
kata tersebut, atau setidaknya kata mathar dan ghaits digunakan
dengan diberi karakter makna khusus. Di dalam al-Qur’an, kata ghaits
dikaitkan dengan rahmat atau manfaat. Di dalam al-Qur’an, kata ghaits selalu
digunakan dalam konteks kebaikan, dalam konteks rahmat, dan manfaat. Mari kita
perhatikan dua ayat yang mengandung kata ghaits berikut.
:"وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ
مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ
الْحَمِيدُ"(الشورى/42: 28)
Dan Dialah Yang menurunkan hujan
sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha
Pelindung lagi Maha Terpuji.
Pada ayat tersebut kata ghaits ‘hujan’ dibarengi/diikuti kata
rahmat untuk menunjukkan bahwa hujan yang diturunkan Allah dan disebut dengan
kata ghaits ini merupakan rahmat. Mari kita lihat ayat yang lain.
ثُمَّ يَأتِي مِنْ
بَعْدِ ذَلِك عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعصِرُون (يوسف/12: 49)
Kemudian
setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup)
dan di masa itu mereka memeras anggur."
Ayat 47-48 Surat Yusuf mengemukakan mimpi penguasa Mesir bahwa ada tujuh
sapi betina gemuk-gemuk dimakan tujuh sapi betina kurus-kurus. Mimpi tersebut
dita’wil oleh Nabi Yusuf—yang sedang dipenjara—bahwa akan tiba masa tujuh tahun
yang sangat makmur dengan hasil bumi lalu diikuti tujuh tahun paceklik dahsyat
sehingga meludeskan tabungan hasil panen raya tujuh tahun sebelumnya. Pada tahun
ke 8 (setelah 7 tahun paceklik), Allah menurunkan hujan yang dengan hujan ini,
mereka bisa bercocok tanam dan berhasil panen, sehingga memeras anggur hasil
panen. Hal itu menunjukkan bahwa hujan yang turun pada tahun ke 8 itu menjadi
rahmat. Penurunan hujan yang menjadi rahmat inipun dikemukakan dengan verba yughaatsu
‘dihujani’, dari kata bendanya ghaits.
Jamaatal
muslimin
Berbalikan dengan ghaits, kata mathar di dalam al-Qur’an
dikaitkan dengan siksa, azab, bencana, laknat, dan sejenisnya. Kata mathar
dalam al-Qur’an selalu digunakan dalam konteks azab. Berikut contoh ayat al-Qur’an
yang mengandung kata mathar atau bentuk turunan lainnya.
وَلَقَد أَتَوْا عَلَى الْقَريَةِ
الَّتِي أُمطِرَت مَطَرَ السَّوْءِ أَفَلَم يَكُونُوا يَرَوْنَها بَل كَانُوا لَا
يَرجُونَ نُشُورا (Al-Furqan/25:40)
Dan
sesungguhnya mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum)
yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka
apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan adalah mereka itu tidak
mengharapkan akan kebangkitan.
Pada ayat tersebut dikemukakan bahwa hujan batu pernah ditimpakan
kepada kampung Sadum (kaum Nabi Luth). Dalam hal ini hujan batu itu disebut
dengan kata mathar, bahkan peristiwa hujan batu itu juga disebut dengan verba umthirat.
Jamaah sekalian, marilah kita perhatikan ayat berikut:
فلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا
مُستَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِم قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنا بَل هُوَ مَا اسْتَعجَلتُم
بِه رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أليم (Al-Ahqaf/46:
24)
Maka
tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah
mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada
kami". (Bukan)! bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan
segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih,
Pada ayat 24 surat Al-Ahqaf ini, hujan laknat//bencana yang
ditimpakan kepada kaum Ad (kaum Nabi Hud yang menghuni desa Ahqaf) disebut
dengan kata mathar atau mumthir. Awalnya mereka menantang Nabi Hud agar
mendatangkan azab karena pembangkangan mereka. Allah pun datangkan mendung
hitam di langit desa Ahqaf yang mereka kira akan segera hujan. Ternyata awan
pekat itu berubah menjadi hujan badai selama 7 hari 8 malam tanpa henti,
sehingga desa rata dengan tanah.
Jamaatal
muslimin
Apa yang perlu kita lakukan jika
turun hujan? Rasulullah mengajarkan doa khusus Ketika turun hujan: Allahumma
shayyiban naafi’an ‘Ya Allah jadikanlah hujan yang turun ini membawa
manfaat’. Ini doa yang sebaiknya kita baca Ketika hujan turun, karena hujan
yang turun kadang-kadang membaca bencana. Betapa sering kita mendengar berita
musibah banjir yang diakibatkan oleh besarnya curah hujan di negara kita dan di
negara lain. Kita yang di RW 19 pun sering cemas ketika mendung hitam
menggelantung di langit kita.
Doa memohon kebaikan hujan tersebut mungkin tidak masuk di
kurikulum sekolah/madrasah kita, termasuk tidak begitu diajarkan di pesantren
kita, padahal satu dari dua musim kita adalah musim penghujan. Kita bersyukur,
Rasulullah Muhammad memiliki kepedulian luar biasa terhadap umatnya, sehingga
meskipun hidup di negara padang pasir yang frekuensi turun hujannya bisa
dihitung dengan jari, beliau Rasulullah mengajarkan doa yang bagus itu Allaahumma
shayyiban naafi’an. Dalam konteks negeri padang pasir, doa Rasulullah
tersebut juga tetap relevan, karena meskipun jarang turun hujan, kadang-kadang
ketika turun hujan, turunlah hujan dengan sangat lebat disertai badai. Karena
itu kita bisa memahami ajaran yang memberikan rukhsah atau dispensasi
untuk tidak berjamaah di masjid, yang disebabkan oleh hujan yang lebat.
Rasulullah juga mengajarkan doa untuk meminta hujan berhenti atau
digeser ke tempat lain. Ada suatu Riwayat bahwa Ketika suatu hari Jumat
Rasulullah sedang berkhutbah, datanglah seorang lelaki yang mengadukan musibah
kekeringan yang melanda kampungnya sehingga sawah ladang tidak berproduksi dan
hewan ternak mati. Rasulullah langsung berdoa minta hujan
اللَّهُـمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعاً
نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ
Ya Allah,
berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman,
bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda
(HR. Abu Dawud no. 1169)
Setelah Rasul berdoa, hujan turun di
kampung itu sampai tujuh hari. Hujan tujuh hari tanpa henti itupun tidak
membuat mereka bisa bercocok tanam, bahkan sisa-sisa binatang ternak mereka
mati terbawa banjir. Karena itu lelaki yang seminggu lalu meminta hujan melalui
doa Rasulullah tersebut, datang lagi mengadu Rasulullah dan memohon agar hujan
berhenti. Rasulullah pun berdoa:
اللَّهُـمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى
الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Ya Allah,
hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah, berilah hujan ke
daratan tinggi, beberapa anak bukit dasar lembah dan tanah-tanah yang
menumbuhkan pepohonan (HR. Bukhari no. 1014).
Kalau kita ingin agar hujan digeser ke tempat lain, kitab isa bisa
ambil bagian awal dari doa tersebut allahumma hawaalainaa walaa ‘alainaa
‘ya Allah turunkanlah hujan ke tempat lain di sekitar kita, jangan timpakan terhadap
kita
Jamaatal muslimin
Membaca doa-doa Rasul untuk meminta
hujan turun dan berhenti tersebut saya teringat dulu sewaktu masih di desa, Ketika
kemarau berkepanjangan, setiap menjelang shalat puji-pujian yang dibaca
menjelang shalat berisi doa memohon hujan:
اللهُمَّ اسقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا وَلَا تَجعَلنَا مِنَ القَانِطِين،
إلهِي يا كَرِيم أنْزِل عَلَينَا مَاءً مِنَ السَّمَاء مَطَرًا مِدرَارا
Ya Allah, siramilah kami dengan
hujan. Jangan Kau jadikan kami berputus asa. Ya Tuhan yang mahapemurah,
turunkan kepada kami hujan lebat air dari langit.
بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الىيات والذكر
الحكيم وتقبل منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.