Back To Top

Search This Blog

Thursday, 29 September 2022

 

AL-QUR’AN TIDAK MENGENAL KONSEP ATEISME (30 SEP 2022)

Imam Asrori (imam.asrori.fs@um.ac.id)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين

وعلى آله وأصحابه أجمعين

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللهم صل على نبينا محمد كما صليت على نبينا إبراهيم

وبارك على نبينا محمد كما باركت على نبينا إبراهيم

في العالمين إنك حميد مجيد

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم

أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إلهَهُ هَوَاه وأضَلَّهُ اللهُ علَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِه وَجَعَلَ علَى بَصَرِه غِشاوَة فَمَنْ يَهدِيه مِن بَعدِ الله أفلا تذكرون (الجاثية/45: 23).

أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون فقد فاز المؤمنون

Jamaatal muslimin

Marilah kita berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Upaya untuk meningkatkan ketakwaan dapat dilakukan, antara lain dengan mengkaji dan memahami isi ayat-ayat Al-Qur’an, karena  Alqur’an merupakan panduan hidup umat Islam.

Hari ini kita berada di tanggal 30 September, hari yang sangat bersejarah, hari yang sangat dikenang oleh bangsa Indonesia, sebagai hari pemberontakan G 30 S PKI. Pada 30 September 1965, PKI telah melakukan gerakan penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan dengan sadis sejumlah jenderal dan para ulama.   Tidak hanya di tahun 1965, PKI membuat makar, Ketika Republik baru berusia tiga tahunan, pada September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun, makar PKI tahun 1948 telah memakan korban ribuan ulamak di berbagai daerah Indonesia.

 

Jamaah Muslimin rahimakumuLLaah

Selain dalam skala nasional, komunisme pernah  menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia, yang mewujud dalam PKI dengan segala sepak terjangnya, pada skala universal, komunisme bahkan telah mendominasi dan menguasai tidak kurang dari sepertiga belahan dunia sekaligus meninggalkan ribuan korban kebiadaban. Di belahan barat dunia, komunisme pernah puluhan tahun menguasai Uni Soviet/USRR, Jerman Timur, Hongaria, Bulgaria, Albania, Polandia, Yugoslavia, dll. Di Afrika, Komunisme pernah mendominasi Konggo, Etiopia, Mozambiq. Di Asia Barat, Komunisme pernah menguasai Yaman Selatan dan Afganistan. Di Asia Tenggara dan Timur, Komunisme sampai sekarang tetap jaya di Cina, Vietnam, Korea Utara, Laos, dll.

Menurut Fadhilah Rachmawati dalam jurnal Kritik terhadap Konsep Ideologi Komunisme Karl Marx (2020), komunisme adalah paham atau ideologi yang mengacu pada sistem sosial ekonomi, didasarkan pada kepemilikan komunal (bersama). Menurut Encyclopaedia Britannica, komunisme merupakan doktrin politik serta ekonomi yang bertujuan untuk menggantikan kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan publik dengan kontrol komuna. ideologi komunisme memiliki lima ciri, yakni: a) Komunisme mengajarkan tentang teori perjuangan kelas, b) Kepemilikan barang menjadi milik Bersama, c) Kepentingan kelompok lebih penting, d) Revolusinya menjalar ke seluruh dunia. salah satu pilar penting ideologi komunis adalah ateisme, suatu paham anti tuhan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Pertanyaannya, keberadaan komunismen-ateisme di dunia yang begitu besar, apakah disinggung di dalam al-Qur’an? Jika ya bagaimana dan jika tidak mengapa?.

 

Jamaatal muslimin,

            Dalam bahasa Arab, komunisme disebut syuyu’iyyah, orangnya disebut syuyuu’iyy. Adapun ateisme disebut ilhaadiyyah dan orangnya disebut mulhid. Dalam al-Qur’an tidak terdapat kata syuyu’iyyah, melainkan kata syi’ah  ataupun syiya’ (bentuk jamak). Kata syi’ah dalam al-Qur’an digunakan dengan makna golongan atau kelompok, tetapi tidak ada hubungannya dengan kelompok aliran keagamaan Islam yang berkembang di Iran. Pada surat al-Qashas/28: 15 Allah berfirman:

ودخل المدينة على حينِ غَفلَةٍ مِن أهلِها فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَين يَقْتَتِلَان هَذا مِنْ شِيعَتِه وهذا مِن عَدُوِّه فاستغاثَه الَّذِي مِن شِيعَتِه عَلَى الَّذِي مِن عَدُوِّه فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيه قَال هَذا مِن عَمَل الشَّيطان إنَّه عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِين (القصص/28: 15)

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Pada ayat tersebut, salah satu lelaki yang berkelahi yang berasal dari suku Bani Israil, disebut al-Qur’an dengan frasa min syii’atih “dari kelompoknya”.

Dalam kaitannya dengan ilhaadiyyah, dalam al-Qur’an terdapat enam kata yang diturunkan dari akar lam-ha’-dal, yaitu a) tiga kali bentuk verba yulhiduuna, b) dua x bentuk nomina ism makaan [multahadan], dan c) satu kali bentuk gerund/mashdar ilhaad. Keenam kata dalam al-Qur’an yang diturunkan dari akar lam-ha’-dal tersebut tidak satu pun yang bermakna  anti tuhan atau tidak mempercayai keberadaan tuhan. Verba yulhiduuna yang muncul tiga kali secara umum digunakan dengan makna menyimpang dari kebenaran. Pada al-A’raf/7: 180, verba yulhiduuna disambungkan dengan frasa fii asmaa’ih yang bermakna ‘menyimpang dalam menyebut nama-namanya’. Sebagaimana pada Fushilat/40: 41 verba yulhiduuna disambungkan dengan frasa fii aayaatinaa yang bermakna ‘mengingkari ayat-ayat kami”.

Pernyataan “menyimpang dalam menyebut nama-namanya” mengandung makna bahwa pelakunya masih mempercayai keberadaan tuhan, tetapi tuhan yang dipercayai keberadaannya itu tidak dengan nama yang diajarkan. Demikian halnya frasa “mengingkari ayat-ayat kami” mengandung makna bahwa yang diingkari adalah sekedar ayat-ayat yang diajarkan Allah.

Jamaatal muslimin

            Bentuk gerund/mashdar ilhaad digunakan dalam surat al-Hajj/22: 25 pada frasa bi ilhaadin bi zhulmin yang bermakna “berbuat kejahatan dengan zalim”.  Lagi-lagi kata ilhaad tidak digunakan dengan makna khusus mengingkari/menafikan keberadaan tuhan, melainkan dengan makna berbuat kejahatan.

            Berbeda dengan itu, bentuk kata multahadaa yang muncul dua kali pada surat al-Kahfi.18: 27 dan al-Jinn/72: 22 digunakan dengan makna “tempat berlindung”. Pada dua surat itu, kata multahada hadir dalam ungkapan yang sama persis: وَلَن تَجَدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا “kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya”.

 

Jamaatal muslimin

            Jelas bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada konsep ketidakpercayaan kepada tuhan. Jika demikian, bagaimana halnya dengan orang-orang komunis-ateis yang menolak keberadaan tuhan. Apakah mereka benar-benar tidak bertuhan dan keberadaan mereka tidak teramati oleh tuhan, sehingga tidak ada satu ayat al-Qur’an pun yang menyinggung tentang mereka? Naudzu billah min dzalika. Allah maha mengatahui. Tidak ada yang terlewati dari ilmu Allah. Ataukah sebenarnya mereka bertuhan?

            Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita perhatikan pengertian tuhan (ilaahun) menurut Imaduddin’ Abdulrahim (Kuliah Tauhid, 1987). Menurutnya tuhan adalah “sagala sesuatu yang dipentingkan sehingga seseorang rela dikuasai atau didominasi. Menurut saya, hal yang dipentingkan itu tidak sekedar menjadikan pihak yang mementingkannya rela dikuasai dan didominasi, melainkan rela untuk mengabdi, rela berbuat apa saja agar yang dipentingkan itu betul-betul wujud.

Dengan “rumusan” seperti itu, maka bisa dipastikan jika tidak ada orang yang tidak bertuhan. Semua orang pasti bertuhan, karena dalam kehidupan seseorang pasti ada sesuatu yang mendominasinya, sehingga yang mendominasinya itu amat dipentingkan atau amat ditakuti, melebihi segala-galanya. Dengan demikian, orang komunis-ateis pun sebenarnya bertuhan, meskipun mengaku tidak percaya kepada tuhan. Pertanyannya, siapakah tuhan orang komunis-ateis itu? Itu sangat tergantung kepada hal atau siapa yang mendominasi kehidupannya. Bisa jadi tuhannya adalah dirinya sendiri, ajarannya, ideologinya, atau pemimpinnya.

Dalam bahasa almarhum Cak Nur–Nurcholish Madjid—orang-orang komunis itu tidak berhasil benar-benar menjadi ateis. Kalau ateis diartikan tidak memercayai Tuhan dalam kategori agama-agama formal semacam Yahudi, Kristen, Budhisme, Konfusianisme, dan lain-lain, maka memang benar orang komunis itu ateis. Tetapi kalau ateis berarti bebas dari setiap bentuk pemujaan, maka orang komunis adalah orang yang kelompok manusia pemuja yang paling fanatik dan tidak rasional.

Gejala pemujaan menurut Cak Nur ini misalnya bisa dilihat dari pemandangan harian di lapangan Merah Moskow. Deretan panjang orang antre untuk berziarah ke mousoleum Lenin, dengan sikap yang jelas-jelas bersifat “devotional” (pemujaan) seakan meminta berkah kepada sang pemimpin yang jenazahnya terbaring di balik kaca tebal itu. Memang, pemimpin-pemimpin besar komunis pernah “dipertuhankan” pengikutnya: Stalin di Uni Sovyet (kini, Rusia), Mao Ze Dong (Mao Tse Tung) di RRC, Kim Il Sung di Korea Utara. Mereka memang tidak mengakui pemimpin-pemimpin itu sebagai “tuhan-tuhan”, tetapi sikap mereka jelas menunjukkan”prosesi” penuhanan.

 

Jamaatal muslimin

            Sikap ketundukan kepada pendapat sendiri, menganggap diri sendiri paling benar sekaligus menyimpang dari ajaran al-Qur’an, menurut konsepsi al-Qur’an disebut sebagai sikap menuhankan hawa nafsunya.

 

أفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إلهَهُ هَوَاه وَأضَلَّهُ اللهُ علَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِه وَجَعَلَ علَى بَصَرِه غِشاوَة فَمَنْ يَهدِيه مِن بَعدِ الله أفلا تذكرون (الجاثية/45: 23).

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

 

Berdasarkan ayat tersebut, orang-orang komunis-ateis yang pernah mendominasi sepertiga dunia disebut al-Qur’an sebagai orang-orang bertuhan, yaitu menuhankan hawa nafsunya. Mereka tidak disebut mulhid dalam arti ateis, melainkan mulhid dalam arti menyimpang  dari kebenaran, menyimpangkan nama, sifat, dan hakikat tuhan.

بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل الله منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.

 

1-      الأعراف/7: 180

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمآئه سيجزون ما كانوا يعملون

 

contoh iklan

Site Links