WABAH KORONA MENGINGATKAN KEMATIAN
WABAH KORONA MENGINGATKAN KEMATIAN
IMAM ASRORI
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
Yayasan
As-Sanabila Malang
الحمد لله رب
العالمين والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه والتابيعن
إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
كما صليت على
سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعل آل سيدنا محمد
كما باركت على
سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.
أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
إن الله
وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا
عليه وسلموا تسليما (الأحزاب/56)
Jama’atal
Jum’ah rahimakumullah
Marilah
kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu
wata’ala. salah satunya dengan memperbanyak mengingat kematian.
Tahun 2019 wabah
korona tanpa permisi datang menerjang. Seluruh dunia menjadi goyang. Dunia kerja
lesu dan lengang. Pendidikan dan pengajaran harus berlangsung di dalam
jaringan. Pola belajar anak-anak menjadi tidak karu-karuan. Tempat-tempat
ibadah pun ikut berubah. Barisan shalat direnggangkan. Cuci tangan disering-seringkan. Kerumunan-kerumunan sedapat mungkin
dihilangkan, bahkan jabat tangan pun ditakutkan. Masker penutup mulut dan
hidung menjadi andalan.
Wabah
korona belum menunjukkan akan berakhir, bahkan varian-varian baru bermunculan
dengan serangan yang lebih mematikan. Banyak manusia yang bertumbangan. Berita
kematian lewat pengeras suara masjid/mushala bersahutan. Kegiatan takziyah
tergantikan oleh ucapan belasungkawa melalui media social yang ada di
genggaman. Akibatnya, suami, istri, atau anak yang ditinggal mati, menanggung sedih
sendirian.
Jamaatal muslimin
Marilah
kita perhatikan firman Allah pada surat ke dua/Al-Baqarah ayat 155-156 berikut:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ
وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
الذيِنَ إِذَا
أَصَابَتْهُم مُصِيبَةٌ قالُوا إنا لله وَإِنَا إليه راجعون
Dan sungguh pasti kami akan
menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu
orang-orang yang ketika tertimpa oleh suatu musibah, mereka berkata:
sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kami ini kepadanyalah
kembali
Walanabluwannakum bi sya’in minal khauf ‘Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan’. Siapa yang tidak
takut dengan datangnya korona ini. Semua orang orang takut, cemas, dan khawatir
terkena covid, sehingga tidak berani berkerumun, tidak berani keluar rumah,
tidak berani berdekatan, dan seterusnya.
Wal juu’ wa naqshin minal amwaal ‘kami uji dengan rasa lapar, dan berkurangnya harta’. Korona telah
menyebabkan banyak orang kelaparan dan kekuarangan uang. Sampai Juli 2020, angka
PHK mencapai 3 jutaan. Banyak pekerjaan macet, penghasilan seret. Warung dan
pertokoan ditutup atau dikurangi jam operasinya.
Wal anfusi ..kami uji
dengan berkurangnya jiwa/kematian. Semua kita tahu bahwa setiap hari, selalu
terjadi kematian dengan vonis akibat korona. Angka kematian karena korona di
Indonesia sebesar 129.293 dari jumlah kasus 4.026.837. Adapun di dunia kematian
akibat korona mencapai 4.463.845 dari total 213.917.541 penderita.
Wats-tsamaraat ‘dan kami uji
dengan berkurangnya buah-buahan’. Wabah korona telah menimbulkan kebijakan
lockdown dan PPKM. PPKM menyebabkan distribusi buah-buahan dan sayuran
tersendat. Akibatnya buah dan sayur di suatu daerah berkurang atau bahkan tidak
ada. Dampak korona tampaknya benar-benar terangkum pada ayat ini.
Jamaatal muslimin
Apa yang
harus kita lakukan? Bersabar tidak menggerutu. Di ujung ayat Allah mengatakan: وبشر الصابرين ‘bergembiralah
orang-orang yang sabar’. Siapakah orang-orang yang bersabar itu? Pada ayat
berikutnya Allah jelaskan, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah
berkata: “sesungguhnya kami semua ini milik Allah dan kami semua kembali kepada
Allah”. Orang yang bersabar adalah yang ikhlas mengembalikan semua persoalan
hidup kepada Allah. Suka dan duka kehidupan ini berasal dari Allah. Allah yang
mendatangkan wabah korona ini, tentu Allah mempunyai maksud besar dan kita
belum berusaha memahaminya apalagi menerimanya.
Dengan
korona ini mungkin Allah bermaksud mengingatkan kita agar kita lebih mendekat
kepada Allah secara sungguh-sungguh dan secara pribadi-pribadi. Ketika kapasitas/kuota
shalat berjamaah di masjid dikurangi karena saf harus direnggangkan atau karena
yang sakit sedikit saja disarankan tidak ke masjid, maka seharusnya kita lebih meningkatkan
pendekatan diri kita kepada Allah secara munfarid, secara sendiri.
Mungkin
selama ini kita lebih senang dengan ibadah yang bersifat upacara, kita lebih
senang dengan majlis-majlis, kita senang dengan majlis istighatsah atau istighatsah
kubra, majlis yasinan, majlis dzikir berjamaah, majlis mauled dan shalawat, dan
sejenisnya. Sebaliknya kita kurang jenak, kurang kerasan dengan dzikir dan
wirid sendiri.
Jamaatal muslimin
Allah beberapa kali menegaskan salah satu indikator seorang
hamba Allah, manusia yang muhsin adalah yang selalu beristighfar di waktu sahur
wal mustaghfiriina bil asHaar ‘orang-orang yang beristighfaar di waktu fajar
(Ali Imran/3: 17), wabil asHaari hum yastaghfiruun ‘di waktu fajar
mereka beristighfaar’ (Adz-Dzariyat/51: 18). Pada ayat sebelumnya (no 17) dikatan
oleh Allah bahwa orang yang baik itu كانوا
قليلا من الليل ما يهجعون ‘mereka sedikit tidur di waktu malam’.
Sedikit tidur di waktu malam bukan karena
nongkrong-nongkrong di kafe atau menonton siaran Liga Eropa dan sejenisnya,
melainkan karena beristighfar, berkeluh kesah, berbisik-bisik (bermunajat)
dengan Allah.
Beristighfar di waktu fajar inilah yang
sesungguhnya diajarkan Allah. Beristighfar di waktu fajar, berdzikir-wirid di
waktu fajar lazimnya dilakukan secara
sendiri-sendiri, secara personal, antara hamba dan tuhan. Tidak lazim ada upacara
istighfar atau istighfar berjamaah,
dzikir-wirid berjamaah, shalawat berjamaah, istighatsah berjamaah yang
dilakukan di waktu fajar. Dzikir-wirid, dan majlis-majlis lainnya yang
dilakukan berjamaah biasanya tidak dilakukan di waktu fajar.Berdzikir berjamaah
dalam bentuk majlis dzikir, istighatsah kubra, majlis shalawat disebut Gus Baha
sebagai budaya, adapun dzikir secara individu, terlebih di waktu fajar merupakan
ajaran yang sebenarnya atau yang sebenarnya ajaran. Gus Baha berpesan jika kita
mengikuti majlis-majlis dzikir berjamaaah jangan sampai hal itu membuat kita
meninggalkan dzikir yang individu karena
yang individu inilah yang esensial. Dalam dzikir sendirian kita bisa berakrab-akrab
dengan Allah menyampaikan harapan dan kecemasan kita, yad’uuna rabbahum
khawfan wa thama’an ‘berdoa kepada Allah dengan penuh kecemasan dan harapan
sekaligus (berharaap doa diteerima dan cemas jika ditolak).
Jamaatal muslimin
Ada pertanyaan yang patut kita munculkan dalam diri
kita. wabah korona yang dampaknya demikian mendunia, wabah korona yang karenanya
sejumlah kolega, tetangga, bahkan keluarga kita meninggal dunia, apakah telah
membuat diri kita semakin mengingat kematian ataukah justru membuat kita
semakin takut terhadap kematian? Jika uban, gigi tanggal, dan tanda-tanda lansia bisa disebut sebagai surat cinta Allah
yang mengabarkan mendekatnya kematian, maka wabah korona ini bisa saya sebut
sebagai surat peringatan dari Allah yang memperingatkan kita bahwa kematian
bisa datang tiba-tiba. Entah sudah berapa banyak kabar seseorang yang pagi
dibawa ke rumah sakit, sore harinya meninggal, atau sore masuk rumah sakit
paginya meninggal. Tidak sedikit pula kabar kematian sang istri disusul kabar
kematian sang suami, dan sejenisnya. Jika kondisi yang demikian tidak membuat
kita ingat mati, maka surat peringatan yang bagaimana yang kita inginkan?
Dengan mengingat kematian, kita menjadi bersiap-siap
untuk menyambutnya. Sebaliknya jika kita takut mati kita tidak akan pernah siap
menghadapinya, padahal kematian pasti datang dan kita tidak tahu kapan ia
datang.
Allah
berfirman di dalam surat Al-ankabut/29:57
كل نفس ذائقة
الموت ثم إلينا ترجعون
Pada surat al-Jumuah ayat 8 Allah
berfirman:
قُل إن الموتَ الذي تفِرُّون منه فَإِنَّه مُلاقِيكم، ثم
تُرَدُّون إلى عالِم الغيب والشهادة، فيُنَببِّؤُكُم بما كنتم تعملون
“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian
yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu kan menemui kamu,
kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan
yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.
Jumu’ah : 8).
Semua
yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin, takdir dan ketetapan-Nya.
Siapapun yang ditakdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab, dan siapapun
yang dikehendaki tetap hidup pasti akan hidup. Meskipun tidak ada wabah korona,
jika ajal seseorang datang, maka ia tidak bisa menambah jatah kehidupannya. Sebaliknya, meskipun korona
menimpa seseorang dua kali, jika belum tiba ajalnya, maka korona tidak akan
menyebabkan kematiannya.
Jamaatal muslimin
Ada
cerita menarik antara Nabi Sulaiman dan Malaikat Izrail sang pencabut nyawa. Nabi
Sulaiman berteman akrab dengan Malaikat Izrail. Izrail pun sering
bersilaturahim di kediaman Nabi Sulaiman. Suatu hari, Malaikat Izrail bermaksud
silaturrahim, tetapi ketika tiba di rumah Nabi Sulaiman, Malaikat Izrail
mendapati Nabi Sulaiman sedang menerima tamu seorang lelaki. Malaikat Izrail
memandangi lelaki itu dengan pandangan tajam penuh Tanya, lalu pergi. Lelaki
itu tahu kalau tadi ada yang datang tetapi tidak jadi masuk, lalu ia bertanya
kepada Nabi Sulaiman tentang keberadaan lelaki itu. Nabi Sulaiman mengatakan
bahwa dia adalah Malaikat Izrail. Mendengar jawaban nabi Sulaiman, lelaki ini
menjadi takut mati karena Izrail tadi memandanginya terus. Karena itu ia
bermaksud menghindar dari Izrail. Ia minta tolong agar Nabi Sulaiman mengutus
sang angin mengantarnya ke India (Dia piker dengan segera ke India, Izrail
tidak akan menemukannya). Pada episode berikutnya, Malaikat Izrail datang lagi
ke rumah nabi Sulaiman dan ditanya oleh beliau: “mengapa engkau waktu itu ke
sini terus memandangi dengan tajam salah seorang tamu saya? Malaikat Izrail
menjelaskan bahwa hari itu sebetulnya ia punya tugas mencabut nyawa lelaki itu
di India, tetapi saya merasa heran kok lelaki yang harus saya cabut di India,
dia masih berada di sini (Palestina). Begitu hamper tiba jam yang ditentukan,
saya pun langsung ke India, oo ternyata ia sudah berada di sana dan langsung
saya tunaikan tugasku.
Dari kisah
ini jelas bahwa waktu kematian dan tempatnya sudah ditentukan oleh Allah,
bahkan mungkin juga cara bagaimana kematian itu dialami oleh manusia. Karena itu
kita janganlah takut kepada kematian. Mari kita siapkan dan kita sambut
kematian kita yang pasti adanya.
بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من
الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم
الحمد لله رب
العالمين والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه والتابيعن
إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
كما صليت على
سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعل آل سيدنا محمد
كما باركت على
سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.
أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
إن الله
وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا
عليه وسلموا تسليما (الأحزاب/56)
أوصيكم ونفسي
بتقوى الله فقد فاز المتقون