Back To Top

Search This Blog

Thursday, 26 August 2021

WABAH KORONA MENGINGATKAN KEMATIAN

 

WABAH KORONA MENGINGATKAN KEMATIAN

IMAM ASRORI

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Yayasan As-Sanabila Malang

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه والتابيعن إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.  اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعل آل سيدنا محمد

كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما (الأحزاب/56)

 

Jama’atal Jum’ah rahimakumullah

Marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. salah satunya dengan memperbanyak mengingat kematian.

 

            Tahun 2019 wabah korona tanpa permisi datang menerjang. Seluruh dunia menjadi goyang. Dunia kerja lesu dan lengang. Pendidikan dan pengajaran harus berlangsung di dalam jaringan. Pola belajar anak-anak menjadi tidak karu-karuan. Tempat-tempat ibadah pun ikut berubah. Barisan shalat direnggangkan.  Cuci tangan disering-seringkan.  Kerumunan-kerumunan sedapat mungkin dihilangkan, bahkan jabat tangan pun ditakutkan. Masker penutup mulut dan hidung menjadi andalan.

            Wabah korona belum menunjukkan akan berakhir, bahkan varian-varian baru bermunculan dengan serangan yang lebih mematikan. Banyak manusia yang bertumbangan. Berita kematian lewat pengeras suara masjid/mushala bersahutan. Kegiatan takziyah tergantikan oleh ucapan belasungkawa melalui media social yang ada di genggaman. Akibatnya, suami, istri, atau anak yang ditinggal mati, menanggung sedih sendirian.

 

Jamaatal muslimin

            Marilah kita perhatikan firman Allah pada surat ke dua/Al-Baqarah ayat 155-156 berikut:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

الذيِنَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُصِيبَةٌ قالُوا إنا لله وَإِنَا إليه راجعون

Dan sungguh pasti kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ketika tertimpa oleh suatu musibah, mereka berkata: sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kami ini kepadanyalah kembali

Walanabluwannakum bi sya’in minal khauf ‘Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan’. Siapa yang tidak takut dengan datangnya korona ini. Semua orang orang takut, cemas, dan khawatir terkena covid, sehingga tidak berani berkerumun, tidak berani keluar rumah, tidak berani berdekatan, dan seterusnya.

Wal juu’ wa naqshin minal amwaal ‘kami uji dengan rasa lapar, dan berkurangnya harta’. Korona telah menyebabkan banyak orang kelaparan dan kekuarangan uang. Sampai Juli 2020, angka PHK mencapai 3 jutaan. Banyak pekerjaan macet, penghasilan seret. Warung dan pertokoan ditutup atau dikurangi jam operasinya.

Wal anfusi ..kami uji dengan berkurangnya jiwa/kematian. Semua kita tahu bahwa setiap hari, selalu terjadi kematian dengan vonis akibat korona. Angka kematian karena korona di Indonesia sebesar 129.293 dari jumlah kasus 4.026.837. Adapun di dunia kematian akibat korona mencapai 4.463.845 dari total 213.917.541 penderita.

Wats-tsamaraat ‘dan kami uji dengan berkurangnya buah-buahan’. Wabah korona telah menimbulkan kebijakan lockdown dan PPKM. PPKM menyebabkan distribusi buah-buahan dan sayuran tersendat. Akibatnya buah dan sayur di suatu daerah berkurang atau bahkan tidak ada. Dampak korona tampaknya benar-benar terangkum pada ayat ini.

 

Jamaatal muslimin

            Apa yang harus kita lakukan? Bersabar tidak menggerutu. Di ujung ayat Allah mengatakan: وبشر الصابرين  ‘bergembiralah orang-orang yang sabar’. Siapakah orang-orang yang bersabar itu? Pada ayat berikutnya Allah jelaskan, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah berkata: “sesungguhnya kami semua ini milik Allah dan kami semua kembali kepada Allah”. Orang yang bersabar adalah yang ikhlas mengembalikan semua persoalan hidup kepada Allah. Suka dan duka kehidupan ini berasal dari Allah. Allah yang mendatangkan wabah korona ini, tentu Allah mempunyai maksud besar dan kita belum berusaha memahaminya apalagi menerimanya.

            Dengan korona ini mungkin Allah bermaksud mengingatkan kita agar kita lebih mendekat kepada Allah secara sungguh-sungguh dan secara pribadi-pribadi. Ketika kapasitas/kuota shalat berjamaah di masjid dikurangi karena saf harus direnggangkan atau karena yang sakit sedikit saja disarankan tidak ke masjid, maka seharusnya kita lebih meningkatkan pendekatan diri kita kepada Allah secara munfarid, secara sendiri.

            Mungkin selama ini kita lebih senang dengan ibadah yang bersifat upacara, kita lebih senang dengan majlis-majlis, kita senang dengan majlis istighatsah atau istighatsah kubra, majlis yasinan, majlis dzikir berjamaah, majlis mauled dan shalawat, dan sejenisnya. Sebaliknya kita kurang jenak, kurang kerasan dengan dzikir dan wirid sendiri.

 

Jamaatal muslimin

Allah beberapa kali menegaskan salah satu indikator seorang hamba Allah, manusia yang muhsin adalah yang selalu beristighfar di waktu sahur wal mustaghfiriina bil asHaar ‘orang-orang yang beristighfaar di waktu fajar (Ali Imran/3: 17), wabil asHaari hum yastaghfiruun ‘di waktu fajar mereka beristighfaar’ (Adz-Dzariyat/51: 18). Pada ayat sebelumnya (no 17) dikatan oleh Allah bahwa orang yang baik itu كانوا قليلا من الليل ما يهجعون mereka sedikit tidur di waktu malam’. Sedikit tidur di waktu malam bukan karena nongkrong-nongkrong di kafe atau menonton siaran Liga Eropa dan sejenisnya, melainkan karena beristighfar, berkeluh kesah, berbisik-bisik (bermunajat) dengan Allah.

Beristighfar di waktu fajar inilah yang sesungguhnya diajarkan Allah. Beristighfar di waktu fajar, berdzikir-wirid di waktu fajar  lazimnya dilakukan secara sendiri-sendiri, secara personal, antara hamba dan tuhan. Tidak lazim ada upacara istighfar atau istighfar berjamaah,  dzikir-wirid berjamaah, shalawat berjamaah, istighatsah berjamaah yang dilakukan di waktu fajar. Dzikir-wirid, dan majlis-majlis lainnya yang dilakukan berjamaah biasanya tidak dilakukan di waktu fajar.Berdzikir berjamaah dalam bentuk majlis dzikir, istighatsah kubra, majlis shalawat disebut Gus Baha sebagai budaya, adapun dzikir secara individu, terlebih di waktu fajar merupakan ajaran yang sebenarnya atau yang sebenarnya ajaran. Gus Baha berpesan jika kita mengikuti majlis-majlis dzikir berjamaaah jangan sampai hal itu membuat kita meninggalkan  dzikir yang individu karena yang individu inilah yang esensial. Dalam dzikir sendirian kita bisa berakrab-akrab dengan Allah menyampaikan harapan dan kecemasan kita, yad’uuna rabbahum khawfan wa thama’an ‘berdoa kepada Allah dengan penuh kecemasan dan harapan sekaligus (berharaap doa diteerima dan cemas jika ditolak).  

 

 

Jamaatal muslimin

Ada pertanyaan yang patut kita munculkan dalam diri kita. wabah korona yang dampaknya demikian mendunia, wabah korona yang karenanya sejumlah kolega, tetangga, bahkan keluarga kita meninggal dunia, apakah telah membuat diri kita semakin mengingat kematian ataukah justru membuat kita semakin takut terhadap kematian? Jika uban, gigi tanggal, dan tanda-tanda  lansia bisa disebut sebagai surat cinta Allah yang mengabarkan mendekatnya kematian, maka wabah korona ini bisa saya sebut sebagai surat peringatan dari Allah yang memperingatkan kita bahwa kematian bisa datang tiba-tiba. Entah sudah berapa banyak kabar seseorang yang pagi dibawa ke rumah sakit, sore harinya meninggal, atau sore masuk rumah sakit paginya meninggal. Tidak sedikit pula kabar kematian sang istri disusul kabar kematian sang suami, dan sejenisnya. Jika kondisi yang demikian tidak membuat kita ingat mati, maka surat peringatan yang bagaimana yang kita inginkan?

Dengan mengingat kematian, kita menjadi bersiap-siap untuk menyambutnya. Sebaliknya jika kita takut mati kita tidak akan pernah siap menghadapinya, padahal kematian pasti datang dan kita tidak tahu kapan ia datang.

 

 

Allah berfirman di dalam surat Al-ankabut/29:57

كل نفس ذائقة الموت ثم إلينا ترجعون

Pada surat al-Jumuah ayat 8 Allah berfirman:

 

قُل إن الموتَ الذي تفِرُّون منه فَإِنَّه مُلاقِيكم، ثم تُرَدُّون إلى عالِم الغيب والشهادة، فيُنَببِّؤُكُم بما كنتم تعملون

 Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari  daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu kan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah : 8).

 

Semua yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin, takdir dan ketetapan-Nya. Siapapun yang ditakdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab, dan siapapun yang dikehendaki tetap hidup pasti akan hidup. Meskipun tidak ada wabah korona, jika ajal seseorang datang, maka ia tidak bisa menambah jatah kehidupannya. Sebaliknya, meskipun korona menimpa seseorang dua kali, jika belum tiba ajalnya, maka korona tidak akan menyebabkan kematiannya.

 

Jamaatal muslimin

            Ada cerita menarik antara Nabi Sulaiman dan Malaikat Izrail sang pencabut nyawa. Nabi Sulaiman berteman akrab dengan Malaikat Izrail. Izrail pun sering bersilaturahim di kediaman Nabi Sulaiman. Suatu hari, Malaikat Izrail bermaksud silaturrahim, tetapi ketika tiba di rumah Nabi Sulaiman, Malaikat Izrail mendapati Nabi Sulaiman sedang menerima tamu seorang lelaki. Malaikat Izrail memandangi lelaki itu dengan pandangan tajam penuh Tanya, lalu pergi. Lelaki itu tahu kalau tadi ada yang datang tetapi tidak jadi masuk, lalu ia bertanya kepada Nabi Sulaiman tentang keberadaan lelaki itu. Nabi Sulaiman mengatakan bahwa dia adalah Malaikat Izrail. Mendengar jawaban nabi Sulaiman, lelaki ini menjadi takut mati karena Izrail tadi memandanginya terus. Karena itu ia bermaksud menghindar dari Izrail. Ia minta tolong agar Nabi Sulaiman mengutus sang angin mengantarnya ke India (Dia piker dengan segera ke India, Izrail tidak akan menemukannya). Pada episode berikutnya, Malaikat Izrail datang lagi ke rumah nabi Sulaiman dan ditanya oleh beliau: “mengapa engkau waktu itu ke sini terus memandangi dengan tajam salah seorang tamu saya? Malaikat Izrail menjelaskan bahwa hari itu sebetulnya ia punya tugas mencabut nyawa lelaki itu di India, tetapi saya merasa heran kok lelaki yang harus saya cabut di India, dia masih berada di sini (Palestina). Begitu hamper tiba jam yang ditentukan, saya pun langsung ke India, oo ternyata ia sudah berada di sana dan langsung saya tunaikan tugasku.

 

            Dari kisah ini jelas bahwa waktu kematian dan tempatnya sudah ditentukan oleh Allah, bahkan mungkin juga cara bagaimana kematian itu dialami oleh manusia. Karena itu kita janganlah takut kepada kematian. Mari kita siapkan dan kita sambut kematian kita yang pasti adanya.

 

بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

 

 

 

 الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه والتابيعن إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.  اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعل آل سيدنا محمد

كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما (الأحزاب/56)

أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون

 

contoh iklan

Site Links