Back To Top

Search This Blog

Friday, 29 December 2017

BELAJAR DAN MENGAJAR

بسم الله الرحمن الرحيم

BELAJAR DAN MENGAJAR

Imam Asrori

Belajar dan mengajar merupakan dua istilah yang saling berkaitan. Seringkali seseorang itu belajar karena diajar. Sebaliknya, seseorang mengajar pihak lain agar bisa belajar. belajar yang baik adalah belajar sambil mengajar. demikian halnya, mengajar yang baik adalah mengajar belajar, mengajar siswa agar pandai belajar.

قال عبد الله بن مسعود: كن عالما أو متعلما ولا تكن ثالثا

Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata: Jadilah kamu orang yang berilmu atau jadilah kamu orang yang mencari ilmu, dan jangan menjadi pihak ketiga. menjadi orang yang berilmu, maksudnya menjadi guru yang mengajarkan ilmu yang dimiliki. Fungsi orang yang berilmu adalah mengajarkan ilmunya. Jika tidak berfungsi sebagai orang yang mengajarkan ilmu, kita diberi pilihan kedua untuk menjadi orang yang menuntut ilmu.
Mencari ilmu dan menyebarkan ilmu merupakan dua fungsi pokok manusia, terlepas profesi apapun yang ia emban, terlebih lagi jika ia berprofesi sebagai guru, dosen, pak kyai, dan atau murid, santri, dan mahasiswa. Guru, dosen, kyai memang secara profesi adalah orang yang pekerjaannya mengajar atau menyampaikan ilmu kepada orang lain. Hal itu tidak berarti bahwa guru, dosen, dan kyai hanya wajib mengajar. guru, dosen, dan kyai pun wajib belajar. agar bisa mengajar dengan baik, guru, dosen, dan kyai harus terus belajar. ada suatu "pepatah" atau ungkapan bahwa guru itu menang semalam. Maksudnya, minimal seorang guru itu harus belajar lebih dulu paling lambat pada malam harinya sebelum esuk paginya mengajar. tetapi sebenarnya seorang guru, dosen, dan kyai tidaklah cukup hanya menang semalam.

Sebaliknya, murid, santri, dan mahasiswa adalah pihak yang menuntut ilmu. sebagai penuntut ilmu, murid berkewajiban belajar sebanyak banyaknya. dalam hal ini proses belajar bisa dilakukan bahkan baik untuk dilakukan dengan cara mengajar. Dari prinsip ini, bapak Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Rektor Paramadina pernah meluncurkan program atau gagasan MAHASISWA MENGAJAR. Dari prinsip ini pula muncul suatu ungkapan every one is a teacher (كل إنسان مدرس).
Dengan mengajar temannya, mahasiswa akan menjadi lebih pinter. Ketika seorang siswa, santri, atau mahasiswa mendapat tugas untuk mengajari temannya, atau mengajarkan suatu hal kepada temannya, maka ia akan belajar sungguh-sungguh  tentang suatu hal tersebut dengan maksud agar bisa menjelaskannya dengan baik kepada temannya. jika teman yang telah diajari tidak atau kurang paham, ia akan bertanya kepada teman yang telah mengajarinya. dengan demikian, siswa yang bertugas mengajari akan belajar lagi agar bisa lebih memahamkan persoalan yang ditanyakan oleh temannya tersebut.

Pada pernyataan Abdullah bin Mas'ud di atas, terdapat kalimat larangan: Janganlah menjadi pihak ketiga. Maksudnya jangan menjadi orang yang tidak mau belajar dan tidak mau mengajar. Kadang-kadang ada orang-orang yang suka "ngisruh". Misalnya, ketika di suatu masjid atau mushalla dilaksanakan suatu majlis ta'lim, ia tidak mau mengikuti majlis ta'lim tersebut, karena merasa sudah bisa. lebih parah lagi kalau ia justru menghasut orang lain untuk tidak mengikuti majlis ta'lim tersebut. orang semacam ini kadang-kadang juga bersikap sini kepada ustadz yang mengisi majlis ta'lim. Sebaliknya, ketika ia diminta untuk mengisi majlis ta'lim, ia menolak. orang yang demikian inilah yang oleh Ibnu Mas'ud diidentifikasi sebagai pihak ketiga.

 

contoh iklan

Site Links