Kemenangan Romawi atas Persi sebagai Bukti Kebenaran "Ramalan" Al-qur'an
IMAM ASRORI
imam.asrori.fs@um.ac.id
الحمد لله رب
العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، وعلى آله وأصحابه أجمعين.
أشهد أن لا إله
إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
ياأيها الذين
آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا
وأنتم مسلمون
معاشر
المسلمين رحمكم الله أوصيكم الله ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Jama’atal Jum’ah, marilah kita
berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Upaya untuk meningkatkan
ketakwaan dapat dilakukan, antara lain dengan mengkaji dan memahami isi
ayat-ayat Al-Qur’an, karena Alqur’an
merupakan panduan hidup umat Islam. Isi Al-qur’an secara umum dapat
dikelompokkan menjadi beberapa aspek, yaitu a) ajaran tauhid, b) akhlak mulia,
c) ilmu pengetahuan, d) kisah, dan e) berita gaib. Alqur’an tidak saja
mengandung berita gaib masa depan jangka panajang (berita tentang kiamat,
akhrat, dll), tetapi juga mengandung berita gaib jangka pendek, bahkan sangat
pendek dan saat ini sudah menjadi masa lampau.
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Dalam kesempatan
khutbah hari ini marilah kita mempelajari salah
satu rangkaian ayat Alqur’an yang berisi ramalan jangka pendek.
Rangkaian ayat yang dimaksud adalah rangkaian awal surat Ar-Rum ayat 1-6
berikut ini.
بسم الله
الرحمن الرحيم
الم (1)
غلبت الروم (2)
في أدنى الأرض وهم من بعد غلبهم سيغلبون (3)
في بضع سنين،
لله الأمر من قبل ومن بعد، ويومئذ يفرح المؤمنون (4)
بنصر الله ينصر
من يشاء وهو العزيز الرحيم (5)
وعْدَ الله لا
يُخلفُ الله وعده ولكن أكثر الناس لا يعلمون (6)
Pada ayat kedua surat
ar-Rum tersebut, Allah menyatakan bahwa ar-Rum telah dikalahkan. Yang dimaksud
dengan ar-Rum ini adalah Romawi Timur (Bizantium) yang dikalahkan oleh Persia.
Romawi Timur dan Persia merupakan dua Negara superpower pada waktu itu. Dalam sejumlah pertempuran antara kedua super
power itu, Romawi Timur atau Bizantium selalu dikalahkan oleh Persia. Satu demi
satu wilayah kekuasaan Bizantium diambil
alih oleh Persia. Ayat 2 tersebut mengacu kepada kekalahan besar Romawi, sampai-sampai Yerusalem terlepas ke tangan Persia. Kondisi yang dialami oleh dua Negara
superpower itu tidak sekedar menjadi buah bibir bagi masyarakat kecil,
masyarakat Arab yang berada di pedalaman semenanjung Arab, melainkan juga
mempengaruhi sikap kehidupan mereka. Pada waktu itu, masyarakat muslim sangat
berempati kepada Bizantium karena merasa sama-sama penganut agama samawi.
Sebaliknya, orang-orang musyrik Mekah bersimpati kepada Persia, karena merasa
sama-sama penganut politheisme (Persia menyembah api/majusi dan masyarakat Arab
menyembah berhala).
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Pada ayat ke 3,
dinyatakan bahwa setelah kekalahan besar tersebut, Romawi akan mengalahkan
Persia (wa hum mim ba’di ghalabihim sayaghlibuun). Ayat ini berisi ramalan
kemenangan Romawi atas Persia. Lebih dari itu, pada awal ayat ke 4, dikemukakan
rentang waktu/perkiraan waktu tahun kemenangan yang akan diperoleh Bizantium,
yaitu dalam rentang waktu bidh’I siniin (<10 tahun). Jadi kemenangan
Romawi atas Persi diramalkan Al-Qur’an akan terjadi dalam rentang waktu 3-9
tahun setelah kekalahannya. Turunnya rangkaian awal surat Ar-Rum tersebut di
satu sisi menjadi bahan olok-olok bagi masyarakat Quraisy yang mendukung
Persia. Mereka mengolok-olok umat Islam bahwa berita masa depan yang dibawa
(Nabi) Muhammad tentang kemenangan Romawi atas Persia tidak akan pernah
terjadi. Lebih dari itu, mereka mengatakan bahwa sebagaimana Romawi yang
semakin hancur, umat Islam pun akan segera hancur.
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Di sisi lain,
turunnya ayat itu justru menenangkan umat Islam. Karena itu, menanggapi
cemoohan orang-orang musyrikin, Abu Bakar yang sangat yakin dengan kebenaran
Al-qur’an menantang Ubay bin Khalaf untuk bertaruh 10 ekor onta (judi baru
diharamkan pada periode Madinah). Jika dalam waktu 3 tahun Romawi benar-benar
mengalahkan Persi, Ubay harus membayar 10 onta kepada Abu Bakar. Sebaliknya,
jika dalam waktu 3 tahun Romawi tidak bisa mengalahkan Persia, Abu Bakar harus
membayar 10 onta kepadanya. Tantangan itu diterima Ubay. Ketika Abu Bakar
menyampaikan perihal taruhan yang telah disepakati bersama Ubay kepada
Rasulullah, Rasul mengingatkan bahwa kata bidh’u bermakna 3-9, bidh’u siniin
bermakna rentang 3-9 tahun. Karena itu, Abu Bakar disarankan agar menambah
jumlah onta dan rentang waktunya. Abu Bakar pun menemui Ubay untuk melipatkan
taruhannya menjadi 100 onta dan menambah waktunya menjadi 9 tahun. Kenaikan
taruhan ini pun diterima Ubay.
Waktu pun
berjalan, kedua belah pihak menunggu berita akhir pertikaian Romawi dan Persia.
, Pada tahun 622 M (7-8 tahun setelah kekalahannya yang terakhir) mulai terjadi
pertempuran antara Romawi dan Persia dan benar-benar berakir dengan kemenangan
Romawi. Berita itu pun sampai ditelingan umat Islam yang pada waktu itu telah
berhijrah di Madinah. Umat Islam pun sangat senang dengan kemenangan Romawi
sebagaimana dikemukakan di ujung ayat ke 4 (ويومئذ يفرح المؤمنون dan pada hari itu, maksudnya hari kemenangan
Romawi itu, orang-orang yang beriman merasakan kegembiraan). Berita kemenangan
Romawi atas Persia sampai di masyarakat Arab ketika Ubay bin Khalaf telah mati
dalam perang melawan umat Islam. Karena itu Abu Bakar menuntut bayar 100 onta
dari keluarga Ubay. Setelah dibayarkan, 100 onta itu disedekahkan semua.
Kemenangan Romawi atas Persia benar-benar terjadi
dalam rentang waktu kurang dari 10 tahun. Hal itu sesuai dengan janji Allah.
Pada ayat ke 6 Allah berfirman:
وعْدَ الله لا
يُخلفُ الله وعده ولكن أكثر الناس لا يعلمون (6)
Janji Allah.. Allah tidak akan menyalahi
janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Rangkaian awal surat Ar-Rum tersebut tidak
hanya mengandung berita gaib yang benar-benar menjadi realitas, tetapi juga
mengandung fakta ilmiah. Pada ayat 1-2 disebutkan bahwa Romawi dikalahkan
Persia di tempat yang disebut sebagai adnaa al-ardhi. Kata adnaa
merupakan bentuk superlative dan memiliki akar yang sama dengan kata dunya
yang memiliki beberapa makna antara lain ‘terdekat’ dan ‘terrendah’. Dalam
buku-buku Alqur’an dan Terjemahnya (Depag, 1990; CV Diponegoro), kata adna
al-ardhi pada umumnya dimaknai ‘negeri terdekat’, (negeri terdekat dari
Mekah, yaitu Suria dan Palestina sewaktu dikuasai oleh Bizantium). Terjemahan
ini tidak salah karena menurut sejarah, Romawi mengalami kekalahan besar dari
Persia dalam pertempuran yang terjadi di wilayah cekungan laut mati yang berada di pertemuan Palestina
dan Yordania. Palestina dan Yordania merupakan wilayah kekuasan Romawi yang
paling dekat dari Mekah. Pemaknaan tersebut yang paling mudah dan bisa diterima
oleh masyarakat waktu itu.
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Dalam khasanah
ilmu pengetahuan, terdapat informasi bahwa laut mati merupakan wilayah paling
rendah di muka bumi dengan kedalaman mencapai >417. Temuan tersebut sangat
relevan dan signifikan dengan surat Ar-Rum ayat 1-2 tadi yang menyatakan bahwa
Romawi telah terkalahkan di bumi yang paling rendah, yaitu di cekungan laut
mati. Pada dekade-dekade awal
perkembangan Islam, realitas wilayah laut mati sebagai wilayah paling rendah di
bumi belum bisa dipahami oleh masyarakat Islam, pengukurannya memerlukan
teknologi modern. Berbalikan dengan itu, masyarakat pedagang Arab sudah lazim
melakukan perjalanan dagang ke Yaman dan Syam (Suria). Dengan demikian, kedekatan
jarak Palestina, Yordania, dan Suria berada dalam jangkauan pengalaman mereka.
Karena itulah kata adna al-ardhi lebih banyak diartikan ‘negeri
terdekat’ meskipun sebetulnya lebih tepat diartikan ‘bumi terrendah’.
Jama’atal Muslimin yarhamkumullah
Penyebutan adnaa
al-ardhi yang mengacu kepada wilayah laut mati mengingatkan umat manusia
kepada murka Allah terhadap Kaum Sodom dan Gomorah yang terus membangkang
perintah nabi Luth untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan perilaku
homoseks. Pembangkangan umat Nabi Luth tersebut berujung pada datangnya bencana
gempa bumi dahsyat yang
menjungkirbalikkan tempat tinggal mereka. Allah berfirman dalam Surat Hud:82.
فَلمَّا جاءَ أمْرُناَ جَعَلْناَ عَالِيهَا سافِلَها
وأمْطَرْنا عليها حِجَارةً مِن سِجِّيل مَنْضُود
Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum
Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan
batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi (Hud: 82)
Konon wilayah yang
tempat tinggal umat Nabi Luth yang telah dijungkirbalikkan Allah itulah yang
menjadi laut mati. Danau di aliran sungai Yordan itu disebut laut Mati karena
tidak ada mikroorganism dan biota yang sanggup hidup di sana akibatnya
tingginya kadar garam yang dikandung (mencapai 33% : 3% di laut biasa).
Pembelajaran yang dikemukakan dalam rangkaian 6 ayat awal surat Ar-Rum
dapat disarikan sebagai berikut:
1.
Berita kemenangan bangsa
Romawi atas Persi dalam tempo kurang dari 10 tahun merupakan janji Allah, dan
Allah selalu menepati janji, jangankan janji jangka pendek, janji jangka
panjang berupa pembalasan di akhirat pun pasti Allah tepati
2. Umat Islam (Abu Bakar) merespon cemoohan terhadap kebenaran
Al-qur’an dengan penuh keyakinan dan dengan cara yang cerdas, berani, dan
mematikan.
3. Umat Islam bersikap empati kepada sesama penganut agama samawi
yang ada di belahan dunia lain, maka sudah semestinya umat Islam lebih
bersimpati dan berempati kepada sesama umat Islam di manapun dan bagaimanapun
corak pemahaman keagamaan mereka
4. Kelompok pelaku kebatilan cenderung bersatu hati, namun bagaimanapun kuatnya kebatilan tetap dikalahkan oleh
kebenaran
5.
Kedurhakaan dan perilaku
menyimpang umat manusia berdampak pada kehancuran manusia dan alam.
بارك الله لي
ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله منا ومنكم
تلاوته إنه هو السميع العليم.
الحمد لله رب
العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين، وعلى آله وأصحابه أجمعين.
أشهد أن لا إله
إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
بنصر الله ينصر
من يشاء وهو العزيز الرحيم (5)
وعْدَ الله لا
يُخلفُ الله وعده ولكن أكثر الناس لا يعلمون (6)