Back To Top

Search This Blog

Friday, 17 August 2018

Gunung sebagai Stabilisator Gerak Bumi (Imam Asrori)


Gunung sebagai Stabilisator Gerak Bumi

Imam Asrori
حمدا لله نحمده ونستعينه ونستغفره.
نعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له . وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلّم على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين له.
أعوذ بالله  من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.
عم يتساءلون. عن النبإ العظيم. الذي هم فيه مختلفون. كلا سيعلمون ثم كلا سيعلمون. ألم نجعل الأرض مهادا. والجبال أوتادا.

Jama’atal muslimin rahimakumullah
            Marilah terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan terus menambah amal kebaikan kita. Dalam rangka meningkatkan ketakwaan tersebut, kita perlu memahami hakikat diri kita; dan untuk memahami hakikat diri kita, kita sebagai manusia perlu mengamati dan menghayati fenomena alam, gejala alam, hukum alam, yang dalam bahasa santri disebut ayat-ayat kauniyah atau sunnatullah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Hari-hari ini perhatian dunia tertuju kepada pulau Lombok yang dalam tempo satu minggu atau dua minggu digonjang sejumlah gempa dengan skala besar. Gempa berkekuatan 6.4 skala richter dan 7 SR. Dua gempa besar dan gempa-gempa susulannya telah mengakibatkan kerusakan luar biasa, utamanya di Lombok Timur dan Lombok Utara.
Ahli geologi Danny Hilman Natawidjaja mengatakan bahwa gempa kedua terjadi 15 kali lebih besar sehingga dampaknya lebih berbahaya. Skala Richter, menurut Danny, bukan skala linier melainkan skala logaritmik, sehingga gempa di skala tujuh artinya 30 kali lebih kuat dari gempa yang terjadi pada skala enam.
            Gempa bumi terjadi karena adanya gesekan ataupun benturan antara lempeng bumi yang satu dengan lempeng bumi lain, atau karena adanya ledakan jauh di dalam perut bumi atau gunung. Menurut Ilmu Pengetahuan, bumi tempat tinggal kita ini berstruktur dan berlapis-lapis. Lapis terluar yang biasa disebut lapisan LITOSFER (lapisan silikat) memiliki ketebalan ±70 km di bawah permukaan air laut. Ketebalan lapisan silikat dengan bagian dalamnya  ibarat ketebalan kulit apel dengan isinya. Lapisan silikat berfungsi melindungi kehidupan di atas bumi ini dari panas luar biasa di dalam perut bumi. Dalam konteks inilah Allah mengambarkan bumi ini sebagai permadani.
الذي جعل لكم الأرض فراشا (Al-Baqarah/2:22)
Dialah Allah yang menjadikan untukmu bumi sebagai permadani. Permadani kita hamparkan di lantai, lalu kita duduk di atasnya agar kita tidak masuk angin atau agar kasar dan kerasnya lantai tidak menyakitkan badan.

Jama’atal muslimin
            Menurut para ahli, kerak bumi yang kita tempati ini terbagi dalam beberapa lempeng raksasa yang mengapung di atas cairan kental (Astenosfer). Lempeng-lempeng bumi tersebut terus bergerak dan suatu saat bisa bergesekan atau berbenturan yang menimbulkan  gempa dan bahkan kehancuran di muka bumi. Dalam kaitannya dengan gerak lempeng bumi ini gunung berperan sebagai stabilisator. Al-Najjar (1994) mengemukakan bahwa akar gunung berfungsi menghambat kecepatan gerak lempeng bumi sehingga benturannya dapat berkurang. Tanpa gunung, gerak lempeng-lempeng bumi semakin cepat, dan akibatnya saat berbenturan, terjadi  goncangan yang sangat dahsyat.
            Fungsi gunung sebagai untuk menstabilkan kerak bumi dan menghambat gerak lempengnya tersebut beberapa kali disebut dalam Al-Qur’an, antara dalam Surat Al-Anbiya’ (21: 31):

وَجَعَلْنَا فِي الأرضِ رَوَاسِيَ أنْ تَمِيْدَ بِهِم وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلاً لَعَلَّهُم يَهْتَدُون

yang artinya:
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.

Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad pernah menegaskan: “Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu bergoyang dan menyentak, lalu Allah menstabilkannya dengan gunung”.

Jamaatal muslimin rahimakumullah
            Gunung dapat berfungsi sebagai stabilisator gerak bumi, karena gunung itu menurut Allah adalah pasak bumi. Allah menyebutnya dengan kata “awtaad” yang bermakna ‘pasak’.

أَلَم نَجْعَلِ الأَرْضَ مَهَادًا. والجِبَال أَوْتَادًا
Tidakkah kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan permadani? Dan gunung-gunung sebagai pasak?

Kita semua tahu bahwa pasak atau paku itu mengokohkan sambungan sejumlah bidang balok atau papan. Kita juga tahu bahwa paku/pasak tersebut biasanya terhunjam  ke bagian dalam balok/kayu, kecuali sebagian kecil saja yang menonjol di permukaan atau bahkan tanpa penonjolan sama sekali. Demikian halnya gunung itu. Menurut Ilmu Bumi Modern, selain bagian yang menjulang di atas permukaan tanah, gunung memiliki “akar” yang menghunjam ke dalam perut bumi sepanjang beberapa kali lipat, sampai 15 kali lipat dari bagian yang menjulang di atas bumi.
Al-Najjar menjelaskan bahwa gunung itu terdiri atas dua bagian: a) bagian yang menjulang di atas permukaan tanah dan b) bagian yang terhunjam di dalam perut bumi. Bagian yang menghunjam jauh lebih panjang daripada bagian yang menjulang. Fungsi gunung yang demikian itu tidak banyak dikemukakan dalam buku-buku, bahkan kamus, ensiklopedi pun sampai saat ini selalu mendefinisikan gunung berdasarkan morfologinya, yaitu sebagai bagian tanah yang menonjol secara ekstrim dari tanah di sekitarnya.

Jama’atal muslimin rahimakumullah
            Alangkah tepat dan indahnya rangkaian ayat Al-Qur’an yang menggambarkan hakikat gunung tersebut. Al-Qur’an tidak menggambarkan gunung berdasarkan bentuk luar yang tampak, melainkan berdasarkan fungsinya yang tidak tampak mata. Selain itu,  rangkaian ayat mengandung nilai estetik, utamanya pada citraan, baik citraan pandang dan pikir. Maksudnya, melalui pengkiasan gunung dengan pasak tergambar dalam pikiran pembaca, bahwa gunung-gunung yang berdiri megah itu adalah pasak-pasak  yang menancap kuat di dalam tanah. Dari ketinggian gunung yang tampak terbayang kedalaman yang tertancap.

Jama’atal muslimin
            Ketika gempa mengoyang lombok, muncul isu-isu yang mengaitkannya dengan perilaku seseorang. Khutbah ini tidak bermaksud menyalahkan atau membenarkan  isu tersebut. Melalui khutbah ini, khatib mengingatkan bahwa gempa bumi itu selain sebagai wujud dari hukum alam dan sunnatullah, gempa bumi atau musibah bisa terjadi karena berkaitan dengan perilaku manusia. Hal ini banyak dikemukakan di dalam Al-Qur’an, antara lain, ketika umat Nabi Luth menolak risalah Nabi Nuh bahkan mereka tetap berperilaku homoseks, maka Allah jungkirbalikkan tempat tinggal mereka.

فلما جاء أمرُنا جعلنا عاليها سافلَها، وأمطَرنا عليها حجارةً من سجيلٍ منضُود
.  Maka tatkala datang adzab kami, kami jadikan (negeri kaum Luth itu) yang bagian atas smenjadi di bawah. Dan kami hujani mereka dengan bebatuan yang panas. (Q.S Hud/11:82).

Penjungkirbalikan yang dialami umat Nabi Luth bisa jadi dalam bentuk musibah gempa bumi dan longsor yang mengkibatkan bagian atas bumi runtuh dan tertimbun oleh bagian dasar yang juga runtuh sesudahnya. Dihujani bebatuan panas bisa jadi berupa gunus meletus yang batu panasnya berhamburan.

            Ketika gempa sedang berlangsung, terdapat dua kemungkinan besar perilaku manusia, yaitu a) berhamburan keluar rumah dan atau b) memanggil-manggil nama Tuhan untuk meminta pertolongan, meskipun selama ini mereka agak melupakan Allah. Mereka berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka memanggil-manggil nama Allah karena mereka sadar bahwa dirinya tidak berdaya menghadapi bencana tersebut.
            Peristiwa gempa bumi dan kepanikan masyarakat Lombok kemaren itu merupakan miniatur dari peristiwa kiamat kelak. Peristiwa kiamat dan keadaan manusia pada saat itu banyak digambarkan di dalam Al-Qur’an, antara lain dalam Surat Al-mA’arij/70: 8-10.

يوم تكون السماء كالمهل. وتكون الجبال كالعهن. ولا يسأل حميمٌ حميمًا. يُبصرونهم ..
Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak
Dan gunung-gunung menjadi seperti kapas
Tidak ada seorang sahabat karib yang menanyakan temannya, padahal mereka saling melihat

Pada ayat tersebut dikatakan, bahwa pada hari kiamat kelak-ketika kehancuran alam sedang terjadi-manusia menjadi kebingungan sehingga tidak lagi saling mempedulikan, meskipun mereka itu teman dekat dan saling melihat.

Gambaran yang lebih mengenaskan terdapat pada ayat 2 surat Al-Hajj berikut
  
يومَ ترونَها تَذْهَلُ كلُّ مُرضِعةٍ عمَّا أرضَعَت وَتضعُ كلُ ذاتِ حملٍ حمْلَها وترى الناسَ سُكارى وما هم بسكارى ولكن عذابَ الله شديد
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras (Al-Hajj/22:2)
Betul-betul pandangan yang mengerikan, ibu-ibu yang menyusui meninggalkan begitu saja bayi susuannya, sebagaimana para wanita hamil, kandungannya berguguran di sembarang tempat karena kacaunya keadaan. Orang-orang waras pun tampak seperti mabuk karena kebingungan.
Bingungnya manusia pada hari kiamat digambarkan Allah dalam surat Al-Qari’ah sebagai anai-anai yang bertebaran ke sana ke mari.
Kiamat besar belum terjadi, tetapi dihadapkan pada kiamat-kiamat kecil. Hal itu untuk menjadi pelajaran bagi kita agar kita menyiapkan diri untuk menghadapi kiamat besar yang akan mengakhiri kehidupan alam raya ini, dan manusia akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua perilakunya.



 

contoh iklan

Site Links