Gunung sebagai Stabilisator Gerak Bumi (Imam Asrori)
Gunung sebagai Stabilisator
Gerak Bumi
Imam Asrori
حمدا لله نحمده ونستعينه ونستغفره.
نعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له . وأشهد أن محمدا
عبده ورسوله.
اللهم صل وسلّم على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين
له.
أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.
عم يتساءلون. عن النبإ العظيم. الذي هم فيه مختلفون. كلا
سيعلمون ثم كلا سيعلمون. ألم نجعل الأرض مهادا. والجبال أوتادا.
Jama’atal muslimin rahimakumullah
Marilah
terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala,
dengan terus menambah amal kebaikan kita. Dalam rangka meningkatkan ketakwaan
tersebut, kita perlu memahami hakikat diri kita; dan untuk memahami hakikat
diri kita, kita sebagai manusia perlu mengamati dan menghayati fenomena alam,
gejala alam, hukum alam, yang dalam bahasa santri disebut ayat-ayat kauniyah
atau sunnatullah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Hari-hari ini perhatian dunia tertuju kepada pulau Lombok
yang dalam tempo satu minggu atau dua minggu digonjang sejumlah gempa dengan
skala besar. Gempa berkekuatan 6.4 skala richter dan 7 SR. Dua gempa besar dan
gempa-gempa susulannya telah mengakibatkan kerusakan luar biasa, utamanya di
Lombok Timur dan Lombok Utara.
Ahli geologi Danny Hilman Natawidjaja mengatakan bahwa gempa kedua terjadi 15 kali
lebih besar sehingga dampaknya lebih berbahaya. Skala Richter, menurut Danny,
bukan skala linier melainkan skala logaritmik, sehingga gempa di skala tujuh
artinya 30 kali lebih kuat dari gempa yang terjadi pada skala enam.
Gempa
bumi terjadi karena adanya gesekan ataupun benturan antara lempeng bumi yang
satu dengan lempeng bumi lain, atau karena adanya ledakan jauh di dalam perut
bumi atau gunung. Menurut Ilmu Pengetahuan, bumi tempat tinggal kita ini
berstruktur dan berlapis-lapis. Lapis terluar yang biasa disebut lapisan
LITOSFER (lapisan silikat) memiliki ketebalan ±70 km di bawah permukaan air
laut. Ketebalan lapisan silikat dengan bagian dalamnya ibarat ketebalan kulit apel dengan isinya.
Lapisan silikat berfungsi melindungi kehidupan di atas bumi ini dari panas luar
biasa di dalam perut bumi. Dalam konteks inilah Allah mengambarkan bumi ini
sebagai permadani.
الذي جعل لكم الأرض فراشا (Al-Baqarah/2:22)
Dialah Allah yang menjadikan untukmu bumi sebagai
permadani. Permadani kita hamparkan di lantai, lalu kita duduk di atasnya agar
kita tidak masuk angin atau agar kasar dan kerasnya lantai tidak menyakitkan
badan.
Jama’atal muslimin
Menurut
para ahli, kerak bumi yang kita tempati ini terbagi dalam beberapa lempeng
raksasa yang mengapung di atas cairan kental (Astenosfer). Lempeng-lempeng bumi
tersebut terus bergerak dan suatu saat bisa bergesekan atau berbenturan yang
menimbulkan gempa dan bahkan kehancuran
di muka bumi. Dalam kaitannya dengan gerak lempeng bumi ini gunung berperan
sebagai stabilisator. Al-Najjar (1994) mengemukakan bahwa akar gunung berfungsi
menghambat kecepatan gerak lempeng bumi sehingga benturannya dapat berkurang.
Tanpa gunung, gerak lempeng-lempeng bumi semakin cepat, dan akibatnya saat
berbenturan, terjadi goncangan yang
sangat dahsyat.
Fungsi
gunung sebagai untuk menstabilkan kerak bumi dan menghambat gerak lempengnya
tersebut beberapa kali disebut dalam Al-Qur’an, antara dalam Surat Al-Anbiya’
(21: 31):
وَجَعَلْنَا فِي الأرضِ رَوَاسِيَ أنْ تَمِيْدَ بِهِم وَجَعَلْنَا
فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلاً لَعَلَّهُم يَهْتَدُون
yang artinya:
Dan
telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak)
goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan
yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.
Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad pernah menegaskan:
“Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu bergoyang dan menyentak, lalu Allah
menstabilkannya dengan gunung”.
Jamaatal
muslimin rahimakumullah
Gunung dapat berfungsi sebagai
stabilisator gerak bumi, karena gunung itu menurut Allah adalah pasak bumi.
Allah menyebutnya dengan kata “awtaad” yang bermakna ‘pasak’.
أَلَم نَجْعَلِ
الأَرْضَ مَهَادًا. والجِبَال أَوْتَادًا
Tidakkah kami telah menjadikan bumi sebagai
hamparan permadani? Dan gunung-gunung sebagai pasak?
Kita semua tahu bahwa pasak atau paku itu mengokohkan
sambungan sejumlah bidang balok atau papan. Kita juga tahu bahwa paku/pasak
tersebut biasanya terhunjam ke bagian
dalam balok/kayu, kecuali sebagian kecil saja yang menonjol di permukaan atau
bahkan tanpa penonjolan sama sekali. Demikian halnya gunung itu. Menurut Ilmu
Bumi Modern, selain bagian yang menjulang di atas permukaan tanah, gunung
memiliki “akar” yang menghunjam ke dalam perut bumi sepanjang beberapa kali
lipat, sampai 15 kali lipat dari bagian yang menjulang di atas bumi.
Al-Najjar menjelaskan bahwa gunung itu terdiri atas dua
bagian: a) bagian yang menjulang di atas permukaan tanah dan b) bagian yang
terhunjam di dalam perut bumi. Bagian yang menghunjam jauh lebih panjang
daripada bagian yang menjulang. Fungsi gunung yang demikian itu tidak banyak
dikemukakan dalam buku-buku, bahkan kamus, ensiklopedi pun sampai saat ini
selalu mendefinisikan gunung berdasarkan morfologinya, yaitu sebagai bagian
tanah yang menonjol secara ekstrim dari tanah di sekitarnya.
Jama’atal
muslimin rahimakumullah
Alangkah tepat dan indahnya
rangkaian ayat Al-Qur’an yang menggambarkan hakikat gunung tersebut. Al-Qur’an
tidak menggambarkan gunung berdasarkan bentuk luar yang tampak, melainkan
berdasarkan fungsinya yang tidak tampak mata. Selain itu, rangkaian ayat mengandung nilai estetik,
utamanya pada citraan, baik citraan pandang dan pikir. Maksudnya, melalui
pengkiasan gunung dengan pasak tergambar dalam pikiran pembaca, bahwa
gunung-gunung yang berdiri megah itu adalah pasak-pasak yang menancap kuat di dalam tanah. Dari
ketinggian gunung yang tampak terbayang kedalaman yang tertancap.
Jama’atal
muslimin
Ketika gempa mengoyang lombok,
muncul isu-isu yang mengaitkannya dengan perilaku seseorang. Khutbah ini tidak
bermaksud menyalahkan atau membenarkan
isu tersebut. Melalui khutbah ini, khatib mengingatkan bahwa gempa bumi
itu selain sebagai wujud dari hukum alam dan sunnatullah, gempa bumi atau
musibah bisa terjadi karena berkaitan dengan perilaku manusia. Hal ini banyak
dikemukakan di dalam Al-Qur’an, antara lain, ketika umat Nabi Luth menolak
risalah Nabi Nuh bahkan mereka tetap berperilaku homoseks, maka Allah
jungkirbalikkan tempat tinggal mereka.
فلما جاء أمرُنا
جعلنا عاليها سافلَها، وأمطَرنا عليها حجارةً من سجيلٍ منضُود
. Maka
tatkala datang adzab kami, kami jadikan (negeri kaum Luth itu) yang bagian atas
smenjadi di bawah. Dan kami hujani mereka dengan bebatuan yang panas. (Q.S
Hud/11:82).
Penjungkirbalikan
yang dialami umat Nabi Luth bisa jadi dalam bentuk musibah gempa bumi dan longsor
yang mengkibatkan bagian atas bumi runtuh dan tertimbun oleh bagian dasar yang
juga runtuh sesudahnya. Dihujani bebatuan panas bisa jadi berupa gunus meletus
yang batu panasnya berhamburan.
Ketika gempa sedang berlangsung,
terdapat dua kemungkinan besar perilaku manusia, yaitu a) berhamburan keluar
rumah dan atau b) memanggil-manggil nama Tuhan untuk meminta pertolongan,
meskipun selama ini mereka agak melupakan Allah. Mereka berhamburan keluar
rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka memanggil-manggil nama Allah karena
mereka sadar bahwa dirinya tidak berdaya menghadapi bencana tersebut.
Peristiwa gempa bumi dan kepanikan
masyarakat Lombok kemaren itu merupakan miniatur dari peristiwa kiamat kelak.
Peristiwa kiamat dan keadaan manusia pada saat itu banyak digambarkan di dalam
Al-Qur’an, antara lain dalam Surat Al-mA’arij/70: 8-10.
يوم تكون
السماء كالمهل. وتكون الجبال كالعهن. ولا يسأل حميمٌ حميمًا. يُبصرونهم ..
Pada
hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak
Dan
gunung-gunung menjadi seperti kapas
Tidak
ada seorang sahabat karib yang menanyakan temannya, padahal mereka saling
melihat
Pada
ayat tersebut dikatakan, bahwa pada hari kiamat kelak-ketika kehancuran alam
sedang terjadi-manusia menjadi kebingungan sehingga tidak lagi saling
mempedulikan, meskipun mereka itu teman dekat dan saling melihat.
Gambaran
yang lebih mengenaskan terdapat pada ayat 2 surat Al-Hajj berikut
يومَ ترونَها تَذْهَلُ كلُّ مُرضِعةٍ عمَّا أرضَعَت
وَتضعُ كلُ ذاتِ حملٍ حمْلَها وترى الناسَ سُكارى وما هم بسكارى ولكن عذابَ الله
شديد
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat
keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang
disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat
manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi
adzab Allah itu sangat keras (Al-Hajj/22:2)
Betul-betul pandangan yang mengerikan,
ibu-ibu yang menyusui meninggalkan begitu saja bayi susuannya, sebagaimana para
wanita hamil, kandungannya berguguran di sembarang tempat karena kacaunya
keadaan. Orang-orang waras pun tampak seperti mabuk karena kebingungan.
Bingungnya manusia pada hari kiamat
digambarkan Allah dalam surat Al-Qari’ah sebagai anai-anai yang bertebaran ke
sana ke mari.
Kiamat besar belum terjadi, tetapi dihadapkan
pada kiamat-kiamat kecil. Hal itu untuk menjadi pelajaran bagi kita agar kita
menyiapkan diri untuk menghadapi kiamat besar yang akan mengakhiri kehidupan
alam raya ini, dan manusia akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua
perilakunya.