Back To Top

Search This Blog

Thursday, 21 April 2022

 

MENGHORMATI KERAGAMAN PEMAHAMAN

Imam Asrori

Universitas Negeri Malang

Yayasan As-Sanabila Malang

 


الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه المختارين وعلى من تبعه إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على نبينا محمد كما صليت على نبينا إبراهيم. وكرّم وبارك على نبينا محمد كما كرّمت وباركت على نبينا إبراهيم

في العالمين إنك حميد مجيد.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير (الحجرات/49: 13)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Jamaatal muslimin rahimakumuLLah

Marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, terlebih di bulan Ramadhan ini, yang tujuan dari ibadah puasa kita adalah menjadi orang bertakwa. Jadi Ketika kita berpuasa, puasa ini bukanlah indicator dari ketakwaan. Puasa ini ada treatmen kita menuju pribadi yang bertakwa. Upaya menjadi orang bertakwa dapat kita tempuh, salah satunya adalah dengan menjadikan al-Qur’an sebagai tuntunan kita, menjadikan hadits Rasul sebagai panduan kita, menjadikan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in sebagai contoh hidup bagi kita, salah satunya dalam bersikap menghadapi perbedaan dan keragaman.

Jamaah sekalian, Bhineka tunggal ika merupakan jati diri bangsa Indonesia. Berbeda-beda tapi satu itulah Indonesia. Indonesia ada karena perbedaan, karena keragaman. Indonesia ada karena ada Jawa, ada Sumatera, ada Kalimantan, ada Sulawesi, ada Ambon, dan seterusnya, baik dalam arti pulau, budaya, suku, ataupun manusianya. Kalau hanya ada Jawa, atau hanya ada Sumatera, atau hanya Kalimantan, atau hanya  hanya yang lain, maka itu bukanlah  Indonesia.

Perbedaan dan keragaman itu bukanlah monopoli Indonesia. Perbedaan dan keragaman itu kodrat dunia, kodrat alam semesta. Di alam semesta ada bumi, matahari, ada venus, ada Jupiter, ada mars, ada Saturnus, dan seterusnya. Kalau hanya ada bumi, hanya matahari, hanya mars, atau hanya yang lain, maka ini bukanlah alam. Allah berfirman dalam surat al-Hujurat/49: 13 yang dibaca di awal khutbah tadi. Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Itu adalah kodrat manusia. Adapun tugas manusia adalah lita’aarafu saling berkenalan, saling memahami, saling menghormati, untuk selanjutnya bekerjasama.

Sebagai fitrah dan kodrat kehidupan, perbedaan dan keragaman tidaklah terbatas pada suku bangsa, melainkan juga pada pemikiran, ideologi, keyakinan, bahkan pada pemahaman terhadap aspek-aspek mikro pada satu bidang ataupun keyakinan yang sama. Dalam konteks perbedaan keyakinan, Allah memerintah Rasul agar mengajak ahli kitab (umat Nasrani dan Yahudi) untuk  mencari titik temu ta’aalaw ilaa kalimatin sawaa’. Hal itu ditegaskan Allah dalam surat Ali Imran/3: 64 berikut.

قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون (آل عمران/3: 64)

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Kepada pihak di luar Islam, khususnya ahli kitab kita diminta untuk mencari titik temu ajaran kita dan ajaran mereka, apalagi kepada sesama umat Islam yang yang berada dalam satu ikatan agama dan akidah. Sesama umat Islam sangat dianjurkan untuk ta’alaw ilaa kalimatin sawaa’ ‘marilah kit acari titik temu, bukan titik beda. Sesama umat Islam sangat diperintahkan untuk lita’aarafuu saling kenal sesama umat Islam yang berbeda-beda paham. Mengapa kita harus mengenali perbedaan kita? Karena perbedaan kita dalam berada sudah ada sejak jaman para sahabat, dan perbedaan/keragamaan ini adalah kekuatan kita, kita berbeda tetapi kita satu, kita beragam tetapi tetap satu adanya. Untuk saling kenal, kita perlu membaca kitab yang berbeda-beda, kita perlu menyimak majlis-majlis yang memiliki pemahaman yang berbeda. Jika kita selalu menutup diri maka tidak akan pernah ada ta’aarafuu, apalagi memperoleh titik temu.

Jamaatal muslimin rahimakumullah

            Berikut satu contoh perbedaan paham yang terjadi di kalangan para sahabat.  

عن ابن عمر - رضي الله عنهما - قال: قال النبي - صلى الله عليه وسلم - لما رجع من الأحزاب: ((لا يُصلِّين أحدٌ العصر إلا في بني قُريظة))، فأدرك بعضَهم العصرُ؛ فقال بعضهم: لا نُصلي حتى نأتيها، وقال بعضهم: بل نُصلي، لم يُرَد منا ذلك، فذُكِر للنبي - صلى الله عليه وسلم - فلم يُعنِّف واحدًا منهم؛ رواه الشيخان.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar radhiyaLLahu anhuma. Baru saja pulang dari Perang Ahzab/Khandaq, Rasulullah memberangkatkan Kembali pasukannya sambil berpesan: Tidaklah seseorang melakukan shalat Asar, kecuali di kampung Bani Quraizhah”.

 

Pesan ini dimaknai berbeda oleh para sahabat. Waktu Asar telah tiba sebelum mereka tiba di kampung Bani Quraizhah. Sebagian prajurit tidak berhenti untuk melaksanakan shalat Asar di perjalanan, karena memahami pesan Rasulullah tadi secara tekstual ‘tidaklah shalat kecuali di kampung Bani Quraizhah. Mereka ini akhirnya melakukan shalat Asar relative larut malam, yaitu setelah shalat Isya’. Sebagian prajurit tetap shalat Asar  di tengah perjalanan, meskipun mereka belum tiba di kampung Bani Quraizhah. Hal itu karena mereka memahami pesan Rasulullah tadi sebagai perintah untuk mempercepat langkah agar segera sampai di kampung Bani Quraizhah, Adapun shalat Asar tetap sesuai waktu. Ketika pemahaman yang berbeda ini disampaikan kepada Rasulullah, beliau tidak mempermasalahkan keduanya. Kedua belah pihak pun tidak saling menyalahkan.

 

Jamaatal muslimin

            Praktik beribadah yang beragam telah terjadi sejak jaman para sahabat. Sepeninggal Rasulullah, para sahabat meminta fatwa kepada para sahabat senior yang dipandang memiliki kapabilitas dan integritas tinggi. Mereka antara lain adalah empat khalifah ar-rasyidah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amru, Abdullah bin Abbas, juga Zaid bin Tsabit. Ketika ada masalah, sebagian sahabat ada yang senang meminta fatwa kepada Abdullah bin Abbas, Sebagian lebih senang kepada Zaid bin Tsabit, dan Sebagian lagi lebih senang kepada yang lain, atau kepada khalifah. Mereka juga biasa berkata bahwa saya mengikuti madzhab sahabat ini atau sahabat itu, tanpa saling mempertentangkan, bahkan mereka saling menghormati dan menghargai.

Sebagai contoh, suatu saat, Ketika Zaid bin Tsabit akan menaiki keledainya, Abdullah bin Abbas, putra paman Rasul memegangi kendali kudanya. Sungkan mendapat penghormatan demikian, Zaid bin Tsabit pun berkata, wahai putra paman Rasulullah, lepaskan saja tali itu!. Ibnu Abbas menyahut: beginilah kita diajarkan untuk menghormati ulamak kita.

Begitu indah perilaku Ibnu Abbas, putra paman Rasul yang juga sangat alim dan berjulukan tinda umat, tetapi beliau memandang sahabat Zaid sebagai ulama dan menghormatinya dengan memegangi tali kudanya. Mendapat pernghormatan dari putra paman Rasul, respon Zaid tidak kalah cantiknya. Zaid meminta ibnu Abbas mengeluarkan tangannya dan langsung menciuminya sambil berkata: beginilah sikap kita kepada keluarga Nabi.

 

Jamaatal muslimin rahimakumullah

            Mari kita contoh kemuliaan akhlak dua Imam besar imam Ahmad bin Hambal dan Al-Imam asy-Syafi’i. al-Imam Asy-syafi’I yang merupakan guru Imam Ahmad suatu hari mengunjungi muridnya. Para pengikut Imam Syafi’I justru membuli Imamnya: “Mengapa Engkau tidak duduk manis dan menunggu Ahmad datang kepadamu?” mendengar pertanyaan yang bernada menyalahkan itu, Imam Syafi’I menjawab dengan berpantun:

“Semua kemuliaan ada pada Ahmad, Jika dia mengunjungiku, itu kemurahan hatinya.

Jika aku mengunjunginya, itu sebab keutamaannya.”

 

Ketika pada kesempatan berikutnya, Imam Ahmad bin Hanbal berjalan tanpa alas kaki untuk menyambut kedatangan Imam asy-Syafi’i. Imam Ahmad menuntun kendaraan Imam Syafi’I dari gerbang kota menuju masjid Jami’ al-Manshur. Melihat itu, “Yahya bin Ma’in (guru dari putra Imam Ahmad) menegur Imam Ahmad yang dianggapnya merendahkan ilmu haditsnya yang mulia. Yahya bin Main titip pesan kepada Shaleh bin Ahmad:

 

 “Sampaikan kepada ayahmu; sungguh tidak patut dia merendahkan ilmunya dengan cara seperti itu.”

 

Imam Ahmad membalas pesan guru putranya itu dengan sangat tegas:

 “Katakan kepada gurumu, ‘Sungguh, kemuliaanku tidak berkurang sedikit pun dengan melakukan ini. Jika gurumu ingin mendapatkan kemuliaan serupa, ajak dia ke sini untuk menuntun keledai sang Imam Bersama-sama. Aku dari sebelah kanan dan dia dari sebelah kiri.

 

 Jamaah sekalian

            Imam Syafi’I, panutan umat muslim Indonesia sangat mengakui kekuatan ilmu Imam Ahmad, dia mengatakan “Ahmad adalah sosok yang paling memahami hadits di Irak dan Syam. Sebaliknya Imam Ahmad konon tidak pernah lupa mendoakan Imam Syafi’I selama 40 tahun.

 

Jamaatal muslimin

            Mari kita simak dan contoh teladan Imam Malik, pendiri madzhab maliki sekaligus penulis kitab hadits pertama Al-Muwatha’. Khalifah Harun ar-Rasyid pernah menawari Imam Malik untuk menggantungkan Kitab al-Muwatha’ di ka’bah dan menganjurkan masyarakat mengamalkan isi kitab itu. Jika kita yang ditawari, pasti kita senang, kitab kita akan diberlakukan secara nasional dan resmi oleh pemerintah. Alih-alih menerima usulah itu, imam Malik justru menolak dan mengatakan bahwa umat telah berbeda-beda paham pada masalah furu’ dan mereka telah menyebar di berbagai negeri, dan mereka itu masing-masing benar menurut ijtihadnya. Karena itu keragaman dan variasi yang ada tidak perlu dihilangkan tidak perlu diseragamkan.

            Demikianlah akhlak para salafus shaleh. Saling hormat saling menghargai. Mereka tidak berkenan untuk mengecilkan paham-paham yang ada, apalagi meminggirkan dan menyirnakan. Perbedaan dan keragaman adalah rahmat, nikmat, dan kuat. Sebaliknya keseragaman yang dipaksanakan sejatinya adalah rapuh.

 

 بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.

 

contoh iklan

Site Links