MENGHORMATI
KERAGAMAN PEMAHAMAN
Imam
Asrori
Universitas
Negeri Malang
Yayasan
As-Sanabila Malang
الحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام علي أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه المختارين وعلى من
تبعه إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم
صل وسلم على نبينا محمد كما صليت على نبينا إبراهيم. وكرّم وبارك على نبينا محمد
كما كرّمت وباركت على نبينا إبراهيم
في العالمين إنك حميد مجيد.
أعوذ بالله من الشيطان
الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
يا أيها الناس إنا خلقناكم
من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله
عليم خبير (الحجرات/49: 13)
Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.
Jamaatal muslimin rahimakumuLLah
Marilah kita selalu berusaha
meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, terlebih di bulan
Ramadhan ini, yang tujuan dari ibadah puasa kita adalah menjadi orang bertakwa.
Jadi Ketika kita berpuasa, puasa ini bukanlah indicator dari ketakwaan. Puasa
ini ada treatmen kita menuju pribadi yang bertakwa. Upaya menjadi orang
bertakwa dapat kita tempuh, salah satunya adalah dengan menjadikan al-Qur’an
sebagai tuntunan kita, menjadikan hadits Rasul sebagai panduan kita, menjadikan
para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in sebagai contoh hidup bagi kita,
salah satunya dalam bersikap menghadapi perbedaan dan keragaman.
Jamaah
sekalian, Bhineka tunggal ika merupakan jati diri bangsa Indonesia.
Berbeda-beda tapi satu itulah Indonesia. Indonesia ada karena perbedaan, karena
keragaman. Indonesia ada karena ada Jawa, ada Sumatera, ada Kalimantan, ada
Sulawesi, ada Ambon, dan seterusnya, baik dalam arti pulau, budaya, suku,
ataupun manusianya. Kalau hanya ada Jawa, atau hanya ada Sumatera, atau hanya
Kalimantan, atau hanya hanya yang lain, maka
itu bukanlah Indonesia.
Perbedaan
dan keragaman itu bukanlah monopoli Indonesia. Perbedaan dan keragaman itu
kodrat dunia, kodrat alam semesta. Di alam semesta ada bumi, matahari, ada
venus, ada Jupiter, ada mars, ada Saturnus, dan seterusnya. Kalau hanya ada
bumi, hanya matahari, hanya mars, atau hanya yang lain, maka ini bukanlah alam.
Allah berfirman dalam surat al-Hujurat/49: 13 yang dibaca di awal khutbah tadi.
Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku. Itu adalah kodrat manusia. Adapun tugas manusia adalah lita’aarafu
saling berkenalan, saling memahami, saling menghormati, untuk selanjutnya
bekerjasama.
Sebagai
fitrah dan kodrat kehidupan, perbedaan dan keragaman tidaklah terbatas pada
suku bangsa, melainkan juga pada pemikiran, ideologi, keyakinan, bahkan pada
pemahaman terhadap aspek-aspek mikro pada satu bidang ataupun keyakinan yang
sama. Dalam konteks perbedaan keyakinan, Allah memerintah Rasul agar mengajak
ahli kitab (umat Nasrani dan Yahudi) untuk
mencari titik temu ta’aalaw ilaa kalimatin sawaa’. Hal itu
ditegaskan Allah dalam surat Ali Imran/3: 64 berikut.
قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد
إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا
فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون (آل عمران/3: 64)
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab,
marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan
tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling
maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang
yang berserah diri (kepada Allah)".
Kepada pihak di luar Islam, khususnya ahli kitab kita diminta
untuk mencari titik temu ajaran kita dan ajaran mereka, apalagi kepada sesama
umat Islam yang yang berada dalam satu ikatan agama dan akidah. Sesama umat
Islam sangat dianjurkan untuk ta’alaw ilaa kalimatin sawaa’ ‘marilah kit
acari titik temu, bukan titik beda. Sesama umat Islam sangat diperintahkan
untuk lita’aarafuu saling kenal sesama umat Islam yang berbeda-beda
paham. Mengapa kita harus mengenali perbedaan kita? Karena perbedaan kita dalam
berada sudah ada sejak jaman para sahabat, dan perbedaan/keragamaan ini adalah kekuatan
kita, kita berbeda tetapi kita satu, kita beragam tetapi tetap satu adanya.
Untuk saling kenal, kita perlu membaca kitab yang berbeda-beda, kita perlu
menyimak majlis-majlis yang memiliki pemahaman yang berbeda. Jika kita selalu
menutup diri maka tidak akan pernah ada ta’aarafuu, apalagi memperoleh titik
temu.
Jamaatal
muslimin rahimakumullah
Berikut satu contoh perbedaan paham
yang terjadi di kalangan para sahabat.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar
radhiyaLLahu anhuma. Baru saja pulang dari Perang Ahzab/Khandaq, Rasulullah
memberangkatkan Kembali pasukannya sambil berpesan: Tidaklah seseorang
melakukan shalat Asar, kecuali di kampung Bani Quraizhah”.
Pesan ini dimaknai berbeda oleh para sahabat. Waktu Asar telah
tiba sebelum mereka tiba di kampung Bani Quraizhah. Sebagian prajurit tidak
berhenti untuk melaksanakan shalat Asar di perjalanan, karena memahami pesan
Rasulullah tadi secara tekstual ‘tidaklah shalat kecuali di kampung Bani
Quraizhah. Mereka ini akhirnya melakukan shalat Asar relative larut malam,
yaitu setelah shalat Isya’. Sebagian prajurit tetap shalat Asar di tengah perjalanan, meskipun mereka belum
tiba di kampung Bani Quraizhah. Hal itu karena mereka memahami pesan Rasulullah
tadi sebagai perintah untuk mempercepat langkah agar segera sampai di kampung
Bani Quraizhah, Adapun shalat Asar tetap sesuai waktu. Ketika pemahaman yang
berbeda ini disampaikan kepada Rasulullah, beliau tidak mempermasalahkan
keduanya. Kedua belah pihak pun tidak saling menyalahkan.
Jamaatal muslimin
Praktik beribadah
yang beragam telah terjadi sejak jaman para sahabat. Sepeninggal Rasulullah,
para sahabat meminta fatwa kepada para sahabat senior yang dipandang memiliki
kapabilitas dan integritas tinggi. Mereka antara lain adalah empat khalifah
ar-rasyidah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amru,
Abdullah bin Abbas, juga Zaid bin Tsabit. Ketika ada masalah, sebagian sahabat
ada yang senang meminta fatwa kepada Abdullah bin Abbas, Sebagian lebih senang
kepada Zaid bin Tsabit, dan Sebagian lagi lebih senang kepada yang lain, atau
kepada khalifah. Mereka juga biasa berkata bahwa saya mengikuti madzhab sahabat
ini atau sahabat itu, tanpa saling mempertentangkan, bahkan mereka saling
menghormati dan menghargai.
Sebagai
contoh, suatu saat, Ketika Zaid bin Tsabit akan menaiki keledainya, Abdullah
bin Abbas, putra paman Rasul memegangi kendali kudanya. Sungkan mendapat
penghormatan demikian, Zaid bin Tsabit pun berkata, wahai putra paman
Rasulullah, lepaskan saja tali itu!. Ibnu Abbas menyahut: beginilah kita
diajarkan untuk menghormati ulamak kita.
Begitu indah
perilaku Ibnu Abbas, putra paman Rasul yang juga sangat alim dan berjulukan
tinda umat, tetapi beliau memandang sahabat Zaid sebagai ulama dan
menghormatinya dengan memegangi tali kudanya. Mendapat pernghormatan dari putra
paman Rasul, respon Zaid tidak kalah cantiknya. Zaid meminta ibnu Abbas
mengeluarkan tangannya dan langsung menciuminya sambil berkata: beginilah sikap
kita kepada keluarga Nabi.
Jamaatal muslimin rahimakumullah
Mari kita contoh kemuliaan akhlak dua Imam besar
imam Ahmad bin Hambal dan Al-Imam asy-Syafi’i. al-Imam Asy-syafi’I yang
merupakan guru Imam Ahmad suatu hari mengunjungi muridnya. Para pengikut Imam
Syafi’I justru membuli Imamnya: “Mengapa Engkau tidak duduk manis dan menunggu
Ahmad datang kepadamu?” mendengar pertanyaan yang bernada menyalahkan itu, Imam
Syafi’I menjawab dengan berpantun:
“Semua kemuliaan ada pada Ahmad, Jika dia
mengunjungiku, itu kemurahan hatinya.
Jika aku mengunjunginya, itu sebab keutamaannya.”
Ketika
pada kesempatan berikutnya, Imam Ahmad bin Hanbal berjalan tanpa alas kaki untuk
menyambut kedatangan Imam asy-Syafi’i. Imam Ahmad menuntun kendaraan Imam
Syafi’I dari gerbang kota menuju masjid Jami’ al-Manshur. Melihat itu, “Yahya
bin Ma’in (guru dari putra Imam Ahmad) menegur Imam Ahmad yang dianggapnya
merendahkan ilmu haditsnya yang mulia. Yahya bin Main titip pesan kepada Shaleh
bin Ahmad:
“Sampaikan kepada ayahmu; sungguh tidak patut
dia merendahkan ilmunya dengan cara seperti itu.”
Imam
Ahmad membalas pesan guru putranya itu dengan sangat tegas:
“Katakan kepada gurumu, ‘Sungguh, kemuliaanku
tidak berkurang sedikit pun dengan melakukan ini. Jika gurumu ingin mendapatkan
kemuliaan serupa, ajak dia ke sini untuk menuntun keledai sang Imam
Bersama-sama. Aku dari sebelah kanan dan dia dari sebelah kiri.
Imam Syafi’I, panutan umat muslim
Indonesia sangat mengakui kekuatan ilmu Imam Ahmad, dia mengatakan “Ahmad
adalah sosok yang paling memahami hadits di Irak dan Syam. Sebaliknya Imam
Ahmad konon tidak pernah lupa mendoakan Imam Syafi’I selama 40 tahun.
Jamaatal
muslimin
Mari kita simak dan contoh teladan
Imam Malik, pendiri madzhab maliki sekaligus penulis kitab hadits pertama
Al-Muwatha’. Khalifah Harun ar-Rasyid pernah menawari Imam Malik untuk
menggantungkan Kitab al-Muwatha’ di ka’bah dan menganjurkan masyarakat
mengamalkan isi kitab itu. Jika kita yang ditawari, pasti kita senang, kitab
kita akan diberlakukan secara nasional dan resmi oleh pemerintah. Alih-alih
menerima usulah itu, imam Malik justru menolak dan mengatakan bahwa umat telah
berbeda-beda paham pada masalah furu’ dan mereka telah menyebar di berbagai
negeri, dan mereka itu masing-masing benar menurut ijtihadnya. Karena itu
keragaman dan variasi yang ada tidak perlu dihilangkan tidak perlu
diseragamkan.
Demikianlah akhlak para salafus
shaleh. Saling hormat saling menghargai. Mereka tidak berkenan untuk mengecilkan
paham-paham yang ada, apalagi meminggirkan dan menyirnakan. Perbedaan dan
keragaman adalah rahmat, nikmat, dan kuat. Sebaliknya keseragaman yang
dipaksanakan sejatinya adalah rapuh.
بارك
الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله
منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.
