KHUTBAH JIHAD
KHUTBAH JIHAD
Imam Asrori
Jurusan Sastra
Arab Universitas Negeri Malang
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره.
من يهده الله فلا مضل له. ومن يضلله فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم
وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد،
كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم.
في العالمين إنك حميد مجيد.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.بسم الرحمن الرحيم
ي أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله
لعلكم تفلحون (المائدة/5: 35)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan
Ma’asyiral muslimin
أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون فقد فاز المؤمنون فقد فاز
المجاهدون
Marilah kita berusaha untuk lebih bertakwa kepada Allah dengan
mematuhi semua peraturan, perintah, dan
larangannya. Ayat 35 dari surat Al-Maidah/5 memerintahkan kita empat hal, yaitu
perintah beriman, bertakwa, mencari cara untuk mendekat kepada Allah, dan
berjihad. Jika empat itu bisa kita lakukan, kita akan memperoleh kesuksesan.
Kata ‘jihad’ dengan berbagai bentuk derivatnya digunakan dalam
Al-Qur’an sebanyak 41x. Ibn Faris dalam bukunya Mu’jam al-Maqayis fi al-Lughah,
seperti dikutip oleh Quraish Sihab menyatakan bahwa semua kata yang terdiri
dari huruf hijaiyah jim (ج (ha ( ) dan dal (د (pada awalnya mengandung arti kesulitan,
kesukaran atau yang mirip dengannya. Kata jihad juga diturunkan dari ja-ha-da
yang bermakna ‘sungguh-sungguh atau usaha keras’.
Dari akar tersebut diturunkan tiga kata bentukan yang memiliki
hubungan makna, yaitu jiha>d, ijtiha>d, dan muja>hadah. Jiha>d
adalah berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan fisik dan harta.
Ijtiha>d bermakna berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan pikir.
Muja>hadah bermakna berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan
jiwa/batin.
Di dalam Al-qur’an,
tidak semua bentuk derivasi dan infleksi kata jihad digunakan, bahkan sistem
pembentukan dan pemaknaannya tidak sepenuhnya sama dengan teori morfologi Arab
atau para ahli bahasa Arab. Dari 41 x penggunaan turunan kata jihad sebagaimana
telah disinggung, didapatkan data sebagai berikut:
a)
Jahd = 5x
selalu muncul dalam ungkapan “wa aqsamu> billa>hi jahda aima>nihim
yang bermakna ‘bersumpah dengan sungguh-sungguh’
b)
Juhd = 1x
bermkna ‘sesuai dengan kemampuan yang sekedarnya’
c)
kata kerja
ja>hada dengan variasi bentuk lampau, kini, dan perintah = 27 x
d)
nomina pelaku
muja>hidu>n atau muja>hidi>n = 4 x ‘pelaku jihad’
e)
mashdar
jiha>d = 4x
makna2
kebahasaan tersebut digunakan Allah dalam berbagai ayat.
1- آل عمران/3: 142
أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,
padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum
nyata orang-orang yang sabar
Ungkapan ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ‘Allah
belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian bukan berarti
menafikan pengetahuan Allah. Allah maha mengetahui. Allah mengetahui semua hal,
mengetahui siapa saja yang berjihad dan yang tidak mau berjihad. Allah mempunyai
rekaman tentang semua aktivitas manusia. Karena itu, jika kamu mengatakan
dirimu akan masuk surga,maka berjihadlah agar ada rekamannya, agar ada bukti
fisiknya. Bagaimana mungkin kamu bisa masuk surga jika kamu tidak berjihad,
tidak bekerja keras, tidak berusaha sungguh-sungguh menuju surga.
Jama’atal
muslimin
Tidak hanya dalam hal kebaikan Allah
menggunakan kata jiha>d, melainkan juga dalam hal kebatilan.
Maksudnya,penggunaannya dalam kalimat, kata jiha>d bisa dirangkai dengan
kebatilan. Namun demikian, dari segi isi pesan, jihad dalam kebatilan harus
ditolak. Hal itu terdapat dalam Al-qur’an sura Luqman/31: 15 berikut.
لقمان/31: 15
وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما
وصاحبهما في الدنيا معروفا واتبع سبيل من أناب إلي ثم إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم
تعملون
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan
orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka
Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Pada ayat tersebut kedua orang tua yang berusaha keras
agar anaknya menjadi musyrik disebut dengan istilah jiha>d, bahkan dengan
bentuk kata kerjanya ja>had>ka è ja>hada
– yuja:hidu - jiha>d.
Jika demikian, maka jihad/upaya secara total dan
maksimal hanya benar dilakukan di jalan Allah, dalam kebenaran Allah, bukan
untuk membela taghut, golongan, dan kepentingan. Allah berfirman:
وجاهدوا في الله حق جهاده
Dan berjihadlah
kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya (Alhajj/22:78)
Jamaatal
muslimin
Jihad sering dipahami sebagai
perjuangan fisik/bersenjata. Sebenarnya konsep jihad tidak terbatas pada
perjuangan fisik. Jauh ebelum adanya izin berjihad dengan mengangkat senjata,
uamt Islam telah diperintahkan untuk berjihad melawan orang-orang kafir tanpa
menggunakan senjata tajam.
Menurut sejarah, ijin mengangkat
senjata baru diberikan pada tahun 2 H menjelang perang Badar, tetapi ketika
masih berada di Mekah, perintah berjihad telah diberikan, misalnya pada surat
Al-Furqan/25: 52 berikut.
الفرقان/25: 52
فلا تطع الكافرين وجاهدهم
به جهادا كبيرا
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah
terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar.
Pada ayat tersebut, berjihad melawan orang-orang kafir disebut
sebagai jihad yang besar jiha>dan kabi>ra. Tetapi tidak dimaksudkan
sebagai jihad perang, melainkan jihad dengan al-Qur’an. Yaitu jihad dengan
mengedepankan nilai-nilai , moralitas yang dikandung dalam al-Qur’an, misalnya
kejujuran, keadilan, solidaritas, kesabaran, dan sebagainya.
Dalam berbagai ayat, Allah menyatakan dan memerintahkan jihad harta
dan jiwa.
Al-anfal/8: 78
الأنفال/8: 72
إن الذين آمنوا
وهاجروا وجاهدوا
بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله والذين آووا ونصروا أولئك بعضهم أولياء بعض..
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya
pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan
pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain
lindung-melindungi..
التوبة/9: 20
الذين آمنوا
وهاجروا وجاهدوا
في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله وأولئك هم الفائزون
Orang-orang
yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan
diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah
orang-orang yang mendapat kemenangan.
Berhijrah
meninggalkan tanah kelahiran demi mempertahankan keimanan juga merupakan jihad
fi sabilillah, dengan pengorbanan harta yang sangat besar, dan bisa mengancam
keselamaan jiwa. Jihad dengan harta (dan jiwa/nyawa) tidaklah ringan. Banyak
rintangan melintang, banyak hambatan menyumbat, banyak halangan menyilang agar
kita tidak berjihad dengan harta, terlebih dengan jiwa. Rintangan, hambatan,
dan sumbatan tersebut tidak lain adalah setan dan hawa nafsu. Setan dan hawa
nafsu selalu merayu manusia agar kita tidak bersedekah, tidak berinfak secara
total, agar tidak mencurahkan segala tenaga kita untuk kemanusiaan. Dalam surat
Al-Baqarah/2: 268 Allah mengemukakan bahwa setan selalu menjajikan/menakut-nakuti
manusia terhadap kemisknan dan marayu manusia berbuat yang jelek.
Jamaatal
muslimin
Itulah
dua dimensi jihad yang waktunya selalu terbuka. Adapun jihad dengan senjata dan
perang dalam Islam adalah jalan terakhir. Islam adalah kedamaian. Damai
merupakan jalan/manhaj sekaligus tujuan dalam Islam. Perang bukanlah damai,
bahkan sebaliknya, perang itu kontra perdamaian. Damai itu memina sedangkan perang
itu menghancurkan.
Islam tidak menghendaki peperangan.
Menurut Al-Qur’an, peperangan diizinkan hanya menghentikan penganiayaan trhadap
Islam dan umat Islam. Jika Islam atau umat Islam dianiaya oleh pihak-pihak di
luar Islam, maka maka di situlah jihad dengan senjata diperlukan, agar
kedamaian kembali mereka peroleh.
Jamaatal
muslimin
Jika jihad dengan senjata terpaksa
harus ditempuh oleh umat Islam, maka Islam pun telah menggariskan etika perang. Etika perang dalam
Islam ini memerlukan satu sesi khutbah tersendiri. Namun dalam khutbah ini
cukup dikemukakan satu kaidah utamanya, yaitu wala> ta’tadu> ‘janganlah
berlebihan’