Back To Top

Search This Blog

Monday, 3 June 2019

KHUTBAH JIHAD


KHUTBAH JIHAD
Imam Asrori
Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره.
من يهده الله فلا مضل له. ومن يضلله فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم
وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد،
كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم.
في العالمين إنك حميد مجيد.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.بسم الرحمن الرحيم
ي أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون (المائدة/5: 35)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan

Ma’asyiral muslimin
أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون فقد فاز المؤمنون فقد فاز المجاهدون
Marilah kita berusaha untuk lebih bertakwa kepada Allah dengan mematuhi semua peraturan, perintah,  dan larangannya. Ayat 35 dari surat Al-Maidah/5 memerintahkan kita empat hal, yaitu perintah beriman, bertakwa, mencari cara untuk mendekat kepada Allah, dan berjihad. Jika empat itu bisa kita lakukan, kita akan memperoleh kesuksesan.

Kata ‘jihad’ dengan berbagai bentuk derivatnya digunakan dalam Al-Qur’an sebanyak 41x. Ibn Faris dalam bukunya Mu’jam al-Maqayis fi al-Lughah, seperti dikutip oleh Quraish Sihab menyatakan bahwa semua kata yang terdiri dari huruf hijaiyah jim (ج (ha ( ) dan dal (د (pada awalnya mengandung arti kesulitan, kesukaran atau yang mirip dengannya. Kata jihad juga diturunkan dari ja-ha-da yang bermakna ‘sungguh-sungguh atau usaha keras’.
Dari akar tersebut diturunkan tiga kata bentukan yang memiliki hubungan makna, yaitu jiha>d, ijtiha>d, dan muja>hadah. Jiha>d adalah berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan fisik dan harta. Ijtiha>d bermakna berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan pikir. Muja>hadah bermakna berusaha sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jiwa/batin.
            Di dalam Al-qur’an, tidak semua bentuk derivasi dan infleksi kata jihad digunakan, bahkan sistem pembentukan dan pemaknaannya tidak sepenuhnya sama dengan teori morfologi Arab atau para ahli bahasa Arab. Dari 41 x penggunaan turunan kata jihad sebagaimana telah disinggung, didapatkan data sebagai berikut:
a)      Jahd = 5x selalu muncul dalam ungkapan “wa aqsamu> billa>hi jahda aima>nihim yang bermakna ‘bersumpah dengan sungguh-sungguh’
b)      Juhd = 1x bermkna ‘sesuai dengan kemampuan yang sekedarnya’
c)       kata kerja ja>hada dengan variasi bentuk lampau, kini, dan perintah = 27 x
d)      nomina pelaku muja>hidu>n atau muja>hidi>n = 4 x ‘pelaku jihad’
e)      mashdar jiha>d = 4x

makna2 kebahasaan tersebut digunakan Allah dalam berbagai ayat.
1-      آل عمران/3: 142
أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar

Ungkapan ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ‘Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian bukan berarti menafikan pengetahuan Allah. Allah maha mengetahui. Allah mengetahui semua hal, mengetahui siapa saja yang berjihad dan yang tidak mau berjihad. Allah mempunyai rekaman tentang semua aktivitas manusia. Karena itu, jika kamu mengatakan dirimu akan masuk surga,maka berjihadlah agar ada rekamannya, agar ada bukti fisiknya. Bagaimana mungkin kamu bisa masuk surga jika kamu tidak berjihad, tidak bekerja keras, tidak berusaha sungguh-sungguh menuju surga.

Jama’atal muslimin
            Tidak hanya dalam hal kebaikan Allah menggunakan kata jiha>d, melainkan juga dalam hal kebatilan. Maksudnya,penggunaannya dalam kalimat, kata jiha>d bisa dirangkai dengan kebatilan. Namun demikian, dari segi isi pesan, jihad dalam kebatilan harus ditolak. Hal itu terdapat dalam Al-qur’an sura Luqman/31: 15 berikut.

لقمان/31: 15
وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما وصاحبهما في الدنيا معروفا واتبع سبيل من أناب إلي ثم إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Pada ayat tersebut kedua orang tua yang berusaha keras agar anaknya menjadi musyrik disebut dengan istilah jiha>d, bahkan dengan bentuk kata kerjanya ja>had>ka è ja>hada – yuja:hidu  - jiha>d.

Jika demikian, maka jihad/upaya secara total dan maksimal hanya benar dilakukan di jalan Allah, dalam kebenaran Allah, bukan untuk membela taghut, golongan, dan kepentingan. Allah berfirman:
وجاهدوا في الله حق جهاده
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya (Alhajj/22:78)

Jamaatal muslimin
            Jihad sering dipahami sebagai perjuangan fisik/bersenjata. Sebenarnya konsep jihad tidak terbatas pada perjuangan fisik. Jauh ebelum adanya izin berjihad dengan mengangkat senjata, uamt Islam telah diperintahkan untuk berjihad melawan orang-orang kafir tanpa menggunakan senjata tajam.
            Menurut sejarah, ijin mengangkat senjata baru diberikan pada tahun 2 H menjelang perang Badar, tetapi ketika masih berada di Mekah, perintah berjihad telah diberikan, misalnya pada surat Al-Furqan/25: 52 berikut.
الفرقان/25: 52 فلا تطع الكافرين وجاهدهم به جهادا كبيرا
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar.

Pada ayat tersebut, berjihad melawan orang-orang kafir disebut sebagai jihad yang besar jiha>dan kabi>ra. Tetapi tidak dimaksudkan sebagai jihad perang, melainkan jihad dengan al-Qur’an. Yaitu jihad dengan mengedepankan nilai-nilai , moralitas yang dikandung dalam al-Qur’an, misalnya kejujuran, keadilan, solidaritas, kesabaran, dan sebagainya.

Dalam berbagai ayat, Allah menyatakan dan memerintahkan jihad harta dan jiwa.
Al-anfal/8: 78
الأنفال/8: 72
إن الذين آمنوا وهاجروا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله والذين آووا ونصروا أولئك بعضهم أولياء بعض..
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi..

التوبة/9: 20
الذين آمنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله وأولئك هم الفائزون
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Berhijrah meninggalkan tanah kelahiran demi mempertahankan keimanan juga merupakan jihad fi sabilillah, dengan pengorbanan harta yang sangat besar, dan bisa mengancam keselamaan jiwa. Jihad dengan harta (dan jiwa/nyawa) tidaklah ringan. Banyak rintangan melintang, banyak hambatan menyumbat, banyak halangan menyilang agar kita tidak berjihad dengan harta, terlebih dengan jiwa. Rintangan, hambatan, dan sumbatan tersebut tidak lain adalah setan dan hawa nafsu. Setan dan hawa nafsu selalu merayu manusia agar kita tidak bersedekah, tidak berinfak secara total, agar tidak mencurahkan segala tenaga kita untuk kemanusiaan. Dalam surat Al-Baqarah/2: 268 Allah mengemukakan bahwa setan selalu menjajikan/menakut-nakuti manusia terhadap kemisknan dan marayu manusia berbuat yang jelek.

Jamaatal muslimin
Itulah dua dimensi jihad yang waktunya selalu terbuka. Adapun jihad dengan senjata dan perang dalam Islam adalah jalan terakhir. Islam adalah kedamaian. Damai merupakan jalan/manhaj sekaligus tujuan dalam Islam. Perang bukanlah damai, bahkan sebaliknya, perang itu kontra perdamaian. Damai itu memina sedangkan perang itu menghancurkan.
            Islam tidak menghendaki peperangan. Menurut Al-Qur’an, peperangan diizinkan hanya menghentikan penganiayaan trhadap Islam dan umat Islam. Jika Islam atau umat Islam dianiaya oleh pihak-pihak di luar Islam, maka maka di situlah jihad dengan senjata diperlukan, agar kedamaian kembali mereka peroleh.

Jamaatal muslimin
            Jika jihad dengan senjata terpaksa harus ditempuh oleh umat Islam, maka Islam pun telah  menggariskan etika perang. Etika perang dalam Islam ini memerlukan satu sesi khutbah tersendiri. Namun dalam khutbah ini cukup dikemukakan satu kaidah utamanya, yaitu wala> ta’tadu> ‘janganlah berlebihan’

 

contoh iklan

Site Links