KHUTBAH JUMAT 17 AGUSTUS (IMAM ASRORI)
KHUTBAH JUMAT 17 AGUSTUS (IMAM ASRORI)
KHUTBAH JUMAT 17 AGUSTUS 2012
MASJID AL-FARABI UWG
IMAM ASRORI
الحمد لله رب العالمين. والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين. وعلى آله وأصحابه أجمعين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبد ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد خاتم الأبنياء والمرسلين وعلى نبينا إبراهيم خليل رب العالمين.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم.
يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (AlhHujurat/49:13)
MA'ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH
Marilah kita selalu meningkatkan kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan cara mensyukuri nimkmat-nikmat Allah yang kita terima. Salah satu nikmat terbesar yang kita peroleh dari Allah adalah nikmat kemerdekaan negeri Indonesia. Gempita peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun 2012 ini dan tahun 2011 kemarin mungkin tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, karena peringatan HUT kemerdekaan RI tahun ini berada pada bulan Ramadhan. Lebih dari itu, perayaan HUT tahun ini beriringan dengan perayaan Idul Fitri 1433. Meskipun demikian, dalam kaitan ini ada hal penting yang perlu kita syukuri. 17 Agustus tahun ini bertepatan dengan hari Jum’at dan berada pada bulan Ramadhan (28 atau 29 Ramadhan). 17 Agustus yang bertepatan dengan hari Jum’at Ramadhan pernah kita alami pada tahun 1945. Kemerdekaan RI dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta tepat pada hari Jum’at tanggal 9 Ramadhan 1364 H. pemerintah Indonesia dalam rangka memperingati momentum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus membangun masjid megah dengan nama Masjid Istiqlal, yang berarti kemerdekaan.
Jamaatal Muslimin
Tahun 1945 dan beberapa tahun yang mendahului ataupun mengikuti merupakan tahun-tahun kemerdekaan negara-negara jajahan dari cengkraman penjajah. Selama berpuluh tahun bahkan berabad, bangsa kulit putih (Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis) menguasai sejumlah besar wilayah Asia dan Afrika. Berkat rahmat Allah dan perjuangan rakyat, negara-negara jajahan di Asia dan Afrika tersebut akhirnya memperoleh kemerdekaan.
Jamaatal Muslimin
Jika membbuka-buka lemmbaran sejaran Islam, kita memukan bahwa masyarakat semenajung Arab yang semula hidup secara nomaden, ternyata dalam tempo kurang dari satu abad telah berubah menjadi masyarakat/bangsa yang menguasai separoh dari kekuasaan Bizantium di Asia dan sebagian besar Afrika Utara, bahkan menyeberang sampai ke Spanyol. Mereka bergerak dari Kota peradaban madinah untuk melakukan ekspansi demi penyebaran Islam.
Ke Utara dan barat laut, umat Islam meruntuhkan kekuasaan Romawi di Siria, Yordania, Libanon; lalu berbelok ke Barat menundukkan Mesir sampai seluruh wilayah Afrika Utara.
Ke Timur Laut mereka merobohkan keadikuasaan Persia di Irak dan Iran yang dilanjutkan ke Azarbian dan sekitarnya, serta asia Tengah.
Jamaatal Muslimin
Pertanyaannya, adakah perbedaan antara ekspansi umat Islam pada waktu itu dengan ekspansi masyarakat barat ke Asia dan Afrika? Jika orang-orang Eropa yang datang menaklukkan Asia dan Afrika disebut sebagai penjajah, apakah ekspansi Islam ke sebagian besar Afrika dan Asia tidak disebut penjajah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita lihat ciri-ciri penjajah.
Ciri-Ciri Penjajah
Pertama: Memperbudak rakyat demi kepentingan penjajah
Ciri ini jelas tampak sejak jaman Romawi sampai jaman sekarang. Masyarakat jajahan selalu dihinakan dan tak berdaya. Belanda memaksa rakyat negara jajahan untuk mengikuti kerja rodi demi kepentingan penguasa.
Kedua: Memeras Rakyat dan Menguasai Kekayaan negara
Semua penjajah, baik penjajah Timur maupun barat, selalu memeras rakyat dan negara jajahan. Penjajah Barat di Asia telah menguras hasil pertanian, pertambangan. Kekayaan alam negara jajahan diangkut ke negara penjajah untuk mereka nikmati denegan foya-foya. Sebaliknya masyarakat terjajah sangat menderita. Pajak tanah di Siria mencapai 10%, bahkan di Mesir mencapai 20%. Belgia menguasai tambang tembaga, emas, dan lain-lain di Kongo. Belanda menguasai minyak dan hasil pertanian Indonesia. Perancis menguasai hasil tambang dan pertanian di Afrika Utara. Inggris menguasai hasil alam dan minyak bumi di Timur Tengah dan Teluk Persia. Rusia tidak ketinggalan menguras habis kekayaan Asia Tengah dan Eropa Timur.
Ketiga: Menyebarkan Kerusakan Moral di seluruh wilayah negara jajahan
Penjajah menyebarkan suap-menyuap, sikap fanatisme, sistem riba. Mempromosikan buka aurat bagi perempuan, dan berbagai kerusakan moral lainnya.
Jamaatal Muslimin
Dua ciri penjajahan yang pertama, yaitu memperbudak rakyat jajahan dan mengeksploitasi hasil alam negara jajahan cenderung dirasakan oleh golongan masyarakat bawah saja. Orang kaya atau masyarakat yang memiliki kedudukan dapat melepaskan diri dari dampak ciri pertama dan kedua itu dengan cara menjilat penguasa. Berbeda dengan itu, pengrusakan sistem moral dan perilaku yang dilakukan oleh penjajah dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, bahkan sampai pasca penjajahan sekarang ini.
Jamaatal Muslimin
Tiga ciri utama penjajah tersebut sama sekali tidak dikenal dalam ekspansi Islam. Islam telah menaklukkan emperium Romawi dan persi, tetapi masyarakat yang ditaklukkan tidak merasa terjajah dan diperbudak. Ketika Amru bin Ash menaklukkan Mesir, justru orang-orang Mesir sendiri yang membantu Amr bin Ash menaklukkan bentengnya sebagai bentuk penerimaan rakyat Mesir terhadap keadilan Islam.
Berikut adalah sepotong kisah keadilan Umar bin Khatab terhadap rakyat Mesir.
Dikisahkan bahwa seorang warga Qibti mengadukan putra Gubernur Amru bin Ash kepada Khalifah Umar, karena telah memukul anaknya gara-gara ia mengalahkan putra Amru dalam lomba lari. Amru dan putranya beserta pelapor dan putranya pun dihadapkan kepada khalifah. Setelah jelas kebenaran aduan tersebut, khalifah memberikan cambuk kepada putra warga mesir itu untuk mencambbuk balas putra Amru. Umar pun menutup sidang itu dengan berkata kepada Amru: ”Sejak kapan Anda memperbudak manusia, padahal ibunya melahirkannya dalam keadaan merdeka?”
Ekspansi Islam juga tidak diwarnai eksploitasi ekonomi untuk kepentingan umat islam. Sebagai contoh, Abu Ubaidah Al-Jarrah ketika menaklukkan Syiria mewajibkan pajak dengan jaminan pemeliharaan keamanan wilayah. Ketika suatu saat pasukan Romawi berkumpul untuk menyerang kaum muslimin di Syiria, Abu Ubaidah pun mengembalikan pajak yang telah dikumpulkannya kepada rakyat.
Pada segmen periode lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah memarahi walikotanya yang mewajibkan pajak kepada ahli kitab yang masuk Islam. Menurut sang Walikota, apabila masyarakat yang telah ditaklukkan itu dibebaskan dari pajak karena mereka mau masuk Islam, maka keislaman mereka dapat merugikan kas negara. Umar bin Abdul Aziz pun menulis surat teguran kepada sang Walikota:
“Janganlah menarik pajak dari orang-orang yang masuk Islam. Pendapat dan kebijakan Anda itu salah, karena Allah sewaktu mengutus Muhammad bukanlah merupakan siksaan, melainkan merupakan rahmat dan petunjuk”
Jamaatal Muslimin
Pengrusakan sistem dan moral sebagai ciri ketiga dari penjajahan juga tidak dilakukan umat islam. Sebaliknya umat Islam justru memberantas kerusakan moran dan membangun sistem peradaban. Islam memberantas suap-menyuap. Rasulullah bersabda: لعن الله الراشي والمرتشي
Rasulullah juga memarahi petugas zakat yang menerima hadiah dari wajib zakat.
البقرة: 188: ولا تأكلوا أموالكم بالباطل وتدلو بها إلى الحكام لتأكلوا فريقا من أموال الناس بالاثم وأنتم تعلمون
Islam mengikis tindak hukum yang membedakan golongan masyarakat. Ketika ada seorang wanita bangsawan (Qabilah Makhzumiah) mencuri tidak ada yang berani lapor kepada rasulullah, kecuali Usamah bin zaid. Rasulupun bertanya: wahai Usamah, pakah Anda membebaskan orang-orang yang melanggar batas? Rasulu melanjutkan: Sesungguhnya kehancuran umat sebelum kamu adalah disebabkan mereka membiarkana orang yang mencuri dari golongan bangsawan; sebaliknya kalau yang mencuri rakyat biasa, makaa mereka menghukumnya. Demi Allah jika fatimah binti Rasulullah mencuri, maka akan kupotong tangannya (HR. Abu daud)
Jamaatal Muslimin
Mungkin di antara jamaah ada yang pernah mendengar atau membaca bahwa 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 17 Ramadhan. Hal itu tidaklah benar adanya, baik menurut teori konversi kalender Masehi ke dalam kalender Hijriyah maupun menurut data tertulis. Berdasarkan hasil konfersi kalender Masehi ke dalam kalender Hijriyah, diketahui hahwa 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 10 Ramadhan 1364 (Fikreatif, 1911). Demikian halnya menurut data berita media cetak tahun 1945 tentang pelaksanaan shalat Idul Fitri. Kalau tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1364 H, maka seharusnya Idul Fitri pada tahun 1945—dengan mempertimbangkan kemungkinan ru’yatul hilal—bertepatan dengan 30 Agustus atau 31 Agustus 1945.
Namun demikian, Berdasarkan sumber koran-koran pada tahun 1945, ternyata Shalat Idul Fitri 1945 dilaksanakan pada 7 September (bagi Muhammadiyah) dan 8 September (bagi umat Islam pada umumnya). Kesimpulannya, Idul Fitri tahun 1945 tidak bertepatan dengan tanggal 30 atau 31 Agustus 1945. Hal itu artinya, 17 Agustus 1945 tidak bertepatan dengan 17 Ramadhan.
Jamaatal Muslimin
Meskipun tidak bertepatan dengan 17 Ramadhan, proklamasi kemerdekaan RI yang bertepatan dengan hari Jum’at bulan Ramadhan tetap mengandung makna dan hikmah besar. Kumandang kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 pada hari Jum’at bulan Ramadhan, dari sisi manusia mungkin merupakan suatu kebetulan, tetapi dari sisi Allah hal itu merupakan skenario besar agar bangsa Indonesia selalu dekat dan mematuhi ajaran Allah. Hari Jum’at merupakan hari paling agung dalam seminggu. Pada hari Jum’at, kaum muslim berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan Shalat Jum’at secara berjamaah, yang menjadi forum bersilaturahmi, sekaligus menjadi sarana saling berpesan dan menerima pesan, agar menjadi manusia yang bertakwa. Hal itu mengandung makna, bahwa bangsa Indonesia didorong untuk terus membangun silaturrohim, mau, rela, dan berani untuk saling menasihati untuk memangun kemajuan bersama.
Bulan Ramadhan yang merupakan bulan penurunan Al-Qur’an harus menjadi pendorong bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju di bidang IPTEK, karena Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan tersebut memerintahkan membaca, dan perintah membaca sekaligus mengandung arti perintah untuk menulis, karena kegiatan membaca memerlukan objek baca, yaitu tulisan.
Dikumandangkannya kemerdekaan RI pada Bulan Ramadhan yang merupakan forumtraining centre kedisiplinan dan kejujuran harus selalu mengilhami bangsa Indonesia dengan segenap elemennya, birokrat maupun rakyat, dosen maupun mahasiswa, guru maupun siswa, penjual maupun pembeli, untuk berlaku disiplin dan jujur.
Pada Bulan Ramadhan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap yang lemah ditumbuhkembangkan. Karena itu Republik Indonesia yang dilahirkan pada bulan Ramadhan ini sudah semestinya tumbuh sebagai republik yang peduli terhadap umat yang lemah dalam arti luas.