SUPER KORBAN KELUARGA IBRAHIM-IMAM ASRORI
SUPER KURBAN KELUARGA IBRAHIM
Imam Asrori
الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله
أكبر الله أكبر
الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و
أصيلا لا إله إلا الله و الله أكبر
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له و
أشهد أنّ محمدا عبده و رسوله
اللهم صلّ و سلّم على سيدنا محمد و على
آله و أصحابه و تابعيه إلى يوم الدين
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
إنا أعطيناك الكوثر. فصلّ لربك
وانْحر (الكوثر)
Ma`asyiral muslimin
Kita bersyukur ke hadirat Allah yang
tidak mencabut iman dari hati kita. Hati kita digerakkan untuk mengingat Allah.
Badan kita disehatkan oleh Allah sehingga kita tidak terbaring di rumah sakit.
Keluarga kita juga disehatkan oleh Allah sehingga kita tidak harus menungguinya
di pembaringan. Kita bersyukur, Allah menuntun kaki kita menuju masjid, tempat
yang suci ini untuk melaksanakan kegiatan yang suci pula. Hal itu semua dan lebih banyak hal lagi yang belum disebut
merupakan kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak yang Allah anugerahkan
kepada kita.
Tanggal 10 Dzulhijjah merupakan hari
raya besar bagi umat Islam di seluruh dunia. Orang-orang di kampung saya di
Pati Jawa Tengah menyebut badha gede. Sepuluh Dzulhijjah disebut juga
Hari Raya Haji, karena merupakan puncak rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Umat
Islam, khususnya para jamaah haji dari seluruh dunia, mulai pagi atau siang
hari tanggal 8 Dzulhijjah bergerak menuju Arafah. Mulai siang hari tanggal 8
Dzulhijah, semua ruas jalan di kota Mekah
menjadi sibuk dan bising oleh ribuan bus yang mengangkut jutaan jamaah haji ke padang Arafah secara
bergelombang. Ruas jalan pedestarian pun dipadati oleh jamaah yang memilih
berjalan kaki menuju Arafah. Mereka berbondong-bondong ke padang Arafah untuk melaksanakan wuquf,
tunduk tafakkur di hadapan Allah sejak matahari tergelincir sampai terbenam.
Selanjutnya mereka bergerak ke Mina untuk melempar jumrah Aqabah pada tanggal
10 Dzulhijah.
Sepuluh Dzulhijah juga disebut sebagai
Hari Raya Qurban (iedul qurban atau iedul adha). Pada hari tersebut, umat Islam
di seluruh dunia termasuk yang melakanakan ibadah haji, melaksanakan
penyembelihan qurban.
Kata
أضحى berasal dari- أضحية ضحّى - يضحّي yang bermakna ‘menyembelih, kemudian secara syariat bermakna
menyembelih binatang-binatang tertentu pada tanggal 10 Dzulhijah sesuai dengan
ketentuan syariat. Adapun kurban berasal dari akar kata
ق ر ب yang
bermakna ‘dekat’. Jadi kegiatan mengalirkan darah atau menyembelih binatang
pada tanggal 10 Dzulhijah dilaksanakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kegiatan ibadah haji dan ibadah qurban
merupakan ibadah yang disyariatkan dengan bertumpu pada berbagai episode
kehidupan keluarga nabi Ibrahim. Kehidupan keluarga nabi Ibrahim sebagian besar
atau bahkan seluruhnya berisi episode-episode pengorbanan yang patut kita
contoh. Dari berbagai episode kehidupan keluarga Nabi Ibrahim terdapat
nilai-nilai yang patut kita teladani berikut ini.
1) Bersabar dan Optimis Penuh Harap
Ma`asyiral muslimin
Sebagaimana tertulis dalam Alqur’an
pasangan Ibrahim dan Sarrah tidak mendapatkan keturunan sampai mereka berusia
lanjut. Sarrah murung dan sedih. Ibrahim cemas tidak mempunyai keturunan yang
akan melanjutkan sejarah kehidupannya. Perasaan murung, sedih, gelisah, cemas
inilah yang ada di lubuk hati setiap suami-istri yang tidak segera memperoleh
keturunan, lebih-lebih Ibrahim yang menunggu-nunggu sampai usia lanjut. Meskipun
demikian, Nabi Ibrahim tidak putus asa. Ia tetap bersabar dan optimis penuh
harap dengan memohon kepada Allah. Nabi Ibrahim tidak beralih ke dukun,
paranormal, punden, dan sejenisnya.
رب
هب لي من الصالحين. فبشرنه بغلام حليم (الصفات: 100-101)
"Ya
Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang
shaleh.
Maka
Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
2) Rela Berkorban Diri untuk mendapatkan ridha Allah
Kehidupan keluarga nabi Ibrahim penuh
dengan pengorbanan diri.
(a) Mengorbankan Egoisme
Pada
ayat 101 ditegaskan bahwa Allah menggembirakan Ibrahim dengan seorang anak
laki-laki. Bagaimana cara Allah mengabulkan doa Ibrahim?. Tidak lain adalah
melalui suatu bentuk pengorbanan yang sangat besar. Sarrah, istri Ibrahim
berkorban. Ia korbankan perasaannya. Ia korbankan ego pribadinya. Ia meminta
kepada suaminya agar menikahi Hajar (pembantunya). Ini adalah pengorbanan yang
sangat besar dari seorang istri. Bagaimana tidak? Pada umumnya istri tidak mau
suaminya menikah lagi apapun alasannya. Tapi Sarrah tidak saja rela dan
mempersilakan suaminya untuk menikah lagi, tetapi justru ia sendiri yang menyarankan
dan memilihkan wanita untuk dijadikan istrinya.
Mungkinkah
para muslimat melakukan pengorbanan semacam ini? Jika Sarrah rela mengorbankan haknya yang
sangat besar (merelakan suaminya menikah lagi), kapan kaum muslimah ini rela
atau mendorong suaminya untuk banyak berinfak, untuk banyak meluangkan waktu
demi anak yatim, demi fakir-miskin, dan
demi-demi yang lain lagi.
Ma`asyiral muslimin
(b) Ibrahim Harus berpisah dengan Anak dan Istri di
Pengasingan
Kini Ibrahim dituntut untuk berkorban. Pernikahannya dengan Siti Hajar
benar-benar mendatangkan karunia lahirnya seorang anak, yaitu nabi Ismail. Dengan
lahirnya si buah hati, kebahagiaan menyelimuti rumah tangga Ibrahim. Tak terkecuali Sarrah
istri pertama Ibrahim. Tetapi kebahagiaan Sarrah lama-lama berubah menjadi
kesedihan. Ia menjadi cemburu terhadap Hajar yang memberi keturunan kepada
Ibrahim. Ia merasa tidak berarti bagi Ibrahim, sebaliknya Hajar menjadi sumber
kebahagiaannya. Hati Sarrah pun terasa sakit dan gelisah setiap kali melihat bayi
Ismail. Hatinya semakin sakit ketika melihat Ibrahim bercengkerama bahagia
bersama Hajar sambil menggendong Ismail.
Perasaan hatinya berulangkali ia
sampaikan kepada Ibrahim. Berulang kali pula ia meminta suaminya untuk membawa
Hajar dan Ismail ke tempat yang jauh, agar tidak terlihat lagi olehnya, agar
tidak terdengar lagi suaranya, bahkan agar tidak terdengar lagi beritanya.
Untuk menjaga perasaan istri pertamanya
dan dengan mengikuti petunjuk wahyu, Siti Hajar dan anaknya yang belum lama
lahir ia bawa pergi ke arah selatan menelusuri ganasnya gurun pasir. Di siang hari, panasnya membakar kulit dan di malam hari
dinginnya meremukkan tulang. Berhari-hari mereka berjalan ke arah selatan
seolah tanpa tujuan, sampai akhirnya tiba di lembah kering menyeramkan tanpa
penghuni. Di lembah yang menyeramkan itulah Ibrahim meninggalkan anak dan
istrinya dengan perbekalan seadanya.
Betapa berat perasaan Nabi Ibrahim waktu itu. Tidak mungkin ia
tinggalkan Sarrah, karena dialah istri pertamanya yang mendampinginya dalam
hidup sampai usia lanjut, dalam duka dan suka. Di sisi lain ia juga berat hati
untuk meninggalkan istri ke duanya yang baru memberinya seorang anak. Tetapi ia
harus tinggalkan istri dan anak yang baru dilahirkannya, anak yang
diharap-harap sejak lama. Mereka ditinggalkan di tempat yang jauh, di lembah
yang sepi mencekam, kering kerontang. Sebelum meninggalkan mereka, Ibrahim
memanjatkan doa berikut kepada Allah:
ربَّنا إنِّي أسكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتي
بوادٍ غيرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيتِك الْمحَرَّم رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصلوةَ
فاجْعَل أَفئِدَةً مِنَ الناس تَهوِي
إِلَيْهِم وَ ارْزُقْهُم مِن الثمَرَاتِ لَعَلَّهُم يَشْكُرُون (إبراهيم:37)
Ya Allah Tuhan kami, aku telah tinggalkan anak dan isteri di
lembah yang tidak berpepohonan di dekat baitul haram. Ya Tuhan! semoga mereka
menegakkan shalat. Jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka dan berilah
mereka rejeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
Doa Mnabi Ibrahim tersebut mengandung nilai-nilai luhur:
·
Nilai
keimanan dan ketawakkalan: meninggalkan anak dan istri di tengah padang pasir
tandus tidak mungkin dilakukan manusia kecuali karena keimanannya yang sangat
besar kepada Allah dan tawakkal kepada Nya.
·
Optimisme:
optimisme Nabi Ibrahim tercermin pada doa beliau memohon dikaruniai
buah-buahan. Ketika memasuki jazirah Arab kemungkinan besar tidak terbayang di
hati kita akan adanya buah-buahan yang dihasilkannya. Bagaimana mungkin bumi
yang berupa hamparan gunung-gunung batu cadas menghasilkan buah-buahan, bahkan
tetumbuhan saja tidak terbayang bisa hidup di sana. Tetapi tidak demikian
dengan Nabi Ibrahim. Beliau begitu optimis bahwa batus sekeras apapun denganaa
kehendak Allah tentulah bisa menghasilkan apa saja termasuk tetumbuhan dan
bebuahan. Karena itulah Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar anak dan istri
yang ditnggalkan di lembah mekah itu dikaruniai buahan-buahan.
·
Nilai
peribadatan: dalam situasi yang lebih mendesak manusia untuk memperoleh
keamanan fisik, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar anak dan istrinya
menjadi orang-orang yang mengingat Allah dengan menegakkan shalat.
·
Nilai
sosial-kepribadian: Nabi Ibrahim memohon agar hati manusia condong kepada
anak-istrinya. Penggalan doa ini pun mengandung optimisme bahwa wilayah yanag
sepi tersebut akan menjadi ramai. Ketika sudah ramai, manusia yang tinggal di
sana berhati baik kepada Hajar dan Ismail. Lingkungan akan bersikap baik kepada
kita, jika kita pun bersikap baik kepada yang ada di sekitar kita.
Ma`asyiral muslimin
Ketika Ibrahim baru saja beberapa
langkah meninggalkan Hajar dan Ismail, Hajar segera mengikutinya dari belakang
lalu memagang tali kekang Onta yang dikendarai Ibrahim sambil berkata: Ya
Ibrahim! Kemanakah Engkau akan pergi? Kenapa kami ditinggalkan di sini? di
tempat yang menakutkan ini?
Hajar berharap agar Ibrahim menaruh
belas kasihan kepada dirinya dan kepada anaknya Ismail. Ia minta
pertanggungjawaban Ibrahim. Siapa yang akan mencarikan makan dan minum? siapa
yang akan menjaganya dari serangan binatang buas? Siapa yang akan melindunginya
dari terik matahari yang begitu panas dan dari hembusan hawa dingin di malam
hari. Hal itu dikemukakan dengan nada gemetar.
Mendengar keluhan istrinya, Ibrahim
tidak menghiraukannya. Ia sampaikan bahwa ini adalah perintah Allah. Ia meminta
istrinya bersabar dan menerima takdir Allah.
Mendengar jawaban suaminya, Hajar
menjadi paham dan sabar karena Allah pastilah tidak akan menyia-nyiakannya.
Demi menjalankan perintah Allah, ia harus berani berkorban, berkorban
ditinggalkan suami. Berkorban hidup sendiri. Mengorbankan diri dan anaknya
untuk hidup beralas pasir dan bebatuan, beratap langit, berselimut hawa panas
dan dingin, bertetangga bukit-bukit batu yang terjal.
(c) Berkorbar Super Korban
Cukup lama Ibrahim meninggalkan anak
dan istrinya di lembah yang tak berpenghuni itu. Kurang lebih setelah belasan
tahun, dengan ijin istrinya Siti Sarrah, ia berangkat ke selatan untuk
mengunjungi Ismail dan ibunya. Menurut kabar yang ia peroleh, lembah tempat
Ismail
ditinggalkan
telah menjadi ramai, banyak orang tinggal di sana berkat mata air yang mereka temukan.
Bahkan Hajar dan Ismail dihormati warga karena dipandang pemilik mata air
tersebut.
Dari petunjuk warga, Ibrahim menemui anak dan istrinya yang sedang
menggembala kambing di dataran luar kota Mekah
yang kini terkenal sebagai padang
Arafah. Mereka berpelukan untuk melepas rindu. Setelah matahari terbenam,
mereka bertiga kembali ke Mekah. Mereka berhenti di suatu tempat yang disebut
Muzdalifah dan tertidur di sana
karena lelah. Di dalam tidurnya, Ibrahim bermimpi menyembelih putranya sebagai perintah dari
Allah.
Pengorbanan yang amat berat bagi orang
tua. Adakah pengorbanan yang lebih berat dari menyembelih anak kandung dengan
tangan sendiri? Alangkah berat tugas dan pengorbanan tersebut bagi keluarga
Ibrahim. Bertahun-tahun Ibrahim menginginkan anak. Ketika baru saja anak itu
lahir, ia harus menjauhkannya di alam yang ganas. Kini ketika baru saja mereka bertemu kembali
setelah belasan tahun berpisah tanpa alat komunikasi, sang bapak mendapat
perintah untuk menyembelih putra kesayangannya yang semata wayang. Baru saja
Ismail melihat wajah ayahnya dan belum sempat untuk berbagi cerita, ia harus
berkorban, berkorban raga dan nyawa di tangan ayahnya sendiri. Betapa berat
pengorbanan yang harus dibayar Siti Hajar ketika ia harus melihat suaminya
memotong leher anaknya, Betapa berat perasaan yang harus dipikulnya, jika ia
melihat darah segar mengalir deras dari leher putranya yang robek, Ismail
menggelepar lalu mati.
Perintah berkorban super korban itu pun mereka tunaikan
dengan penuh keikhlasan. Di bawah sebuah bukit yang bernama bukit Malaikat.
Mereka bersiap untuk melaksanakan penyembelihan. Ismail mengusulkan agar kedua
tangan dan kakinya diikat dan agar baju yang menutupi badannya dilepas dan
ditutupkan di wajahnya. Ia minta perintah Allah tersebut segera dilaksanakan
setelah pedang diasah yang tajam lebih dulu agar tidak menyakitkan. Baru saja
Ismail merebahkan lehernya di atas batu dan Ibrahim bersiap mendekatkan mata
pedangnya ke leher Ismail, terdengarlah suara memanggilnya: “Hai Ibrahim,
sungguh Engkau telah menetapi perintah dalam mimpimu itu. Sungguh aku akan membalas orang-orang yang melakukan
kebaikan”.
فلَمَّا أسلَما وتَلَّهُ
للجَبِين. و نَادَينهُ أن يا إبراهيم. قد صدَّقْتَ الرُّءيا إنا كذلك نجزِي
الْمُحسنين. إن هذا لَهُوَ البلاء المبين.
وفديناه بذبحٍ عظيم. (الصافات/103-105)
Ketika keduanya telah bersiap dan
Ismail direbahkan di atas batu, ada suara memanggilnya: ”Wahai Ibrahim.
Kau telah penuhi mimpimu. Sesungguhnya kami akan membalas orang-orang yang
berlaku baik. Ini sungguh-sungguh ujian yang nyata-nyata berat. Maka kami
menebus Ismail dengan sembelihan yang besar”.
Meskipun perintah
yang diterima super dahsyat beratnya, sebagai
seorang nabi, Ibrahim meyakini kebenaran perintah tuhannya. Itulah beberapa
bentuk pengorbanan besar yang dialami oleh keluarga nabi Ibrahim.
3) Jalinan komunikasi yang santun antara
orang tua dan anak
Setelah mendapat perintah untuk
menyembelih putranya, Nabi Ibrahim tidak serta merta melaksanakan perintah itu
tanpa mengomunikasikannya kepada putranya Ismail. Dalam hal ini Nabi Ibrahim
merasa ada hak Ismail yang harus dihormati. Karena itu, Nabi Ibrahim
mengkomunikasikan perintah yang sangat berat itu kepada putranya sebagaimana
tercatat dalam firman Allah surat
Ash-Shoffat/37 ayat 102 berikut.
فلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السِّعْيَ قال يابُنَيَّ إنِّي أرَى فِي المنام أنِّي أذبَحُكَ
فانْظُر ماذا تَرى: قال يا أبتِ افْعَل ما تُؤمَرُ سَتَجِدُنِي إن شاء اللهُ مِن
الصابِرِين (الصافات/102:37)
Ketika
Ismail sampai pada usia kerja, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh aku
melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Ismail berkata:
“Wahai ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan kepada Ayah. InsyaAllah ayah
dapatkan diriku sabar menerimanya”
Dalam hal ini, Ibrahim bertutur dengan
lembut. Ia sapa putranya dengan kata-kata /ya bunayya/ ‘wahai anakku’. Nabi
Ibrahim pun meminta pendapat putranya tentang perintah itu dengan kata-kata
yang lembut pula. Ia katakan kepada putranya: /fa-nzhur maadzaa taraa/
‘bagaimana pendapatmu? Pikirkanlah’. Nabi
Ibrahim sangat berhati-hati dalam menyampaikan maksudnya sambil menyembunyikan
pergolakan besar yang berkecamuk di dalam batinnya.
Di sisi lain,
sebagai putra, Nabi Ismail pun menjawab dengan sangat santun dan penuh percaya
diri dilandasi keimanan kepada Allah. Ia sapa ayahnya dengan
sapaan hormat /yaa abati/ ‘wahai ayahanda’. Dengan tenang namun tegar dan tegas
ia nyatakan siap disembelih karena patuh kepada Allah dengan mengatakan: /if’al
maa tu`maru satajidunii insyaallah mina-sh shaabiriin/’Lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu Ayahanda, Niscaya ayahanda mendapati diriku sabar’.
Ma`asyiral muslimin
Keluarga Ibrahim lulus menjalani ujian
kehidupan ini dengan predikat mumtaz atau summa cumlaude.
Bertitik tolak pada episode penyembelihan Ismail yang kemudian diganti dengan
penyembelihan domba inilah ibadah qurban disyariatkan. Syariat kurban mendidik
kita untuk mengembangkan sikap suka berkorban dan menghindarkan diri untuk
membuat korban.
Ismail
atau anak secara umum merupakan representasi dari dunia dan kekayaan, termasuk
di dalamnya diri kita sendiri yang sangat kita cintai. Penyembelihan kurban
merupakan lambang dari penyembelihan nafsu egoeisme dan nafsu hewani.
Penyembelihan korban yang kita laksanakan setahun sekali hendaknya dapat mengingatkan
dan meningkatkan semangat kita untuk menyembelih dan mengikis habis nafsu
egoisme kita di semua aspek kehidupan sepanjang tahun. Kita kikis egoisme kita
sebagai ortu yang suka memaksanakan kehendak, selalu merasa benar dan ingin
menang. Kita kikis egoesme sebagai anak yang terus menuntut ortu. Kita kikis
egoisme kita sebagai suami yang selalu ingin menang terhadap istri. Kita kikis
egoisme kita sebagai pengguna jalan, sebagai penjual, sebagai pembeli, dan
sebagai sebagai sebagai yang lain.
Secara material, Ibrahim diperintahkan
untuk menyembelih putranya, mengorbankan
putranya, sebagaimana Ismail diperintahkan untuk mengorbankan jiwa raganya. Benar-benar
super korban dan dilaksanakan dengan super ikhlas. Bagaimana dengan kita? Kita
secara material diperintahkan untuk berkorban kambing atau sapi. Apakah kita
masih menolaknya? Apakah kita masih enggan melaksanakannya? Ibrahim diperintah
pergi ratusan km menyusuri gurun pasir untuk untuk membawa dan meninggalkan
anak istrinya di sana. Adapun kita, tidak lain diperintahkan sekedar pergi ke
masjid, hanya beberapa meter dari rumah kita, sekedar untuk shalat berjamaah, apakah
kita tidak sanggup melaksanakannya??? Mengapa masjid-masjid cenderung penuh
hanya di hari raya?? Mengapa dan mengapa?
إنا أعْطَيناكَ الكَوْثَر. فَصَلّ لِرَبِّك
وانْحَر (الكوثر)
Sesungguhnya
kami telah memberimu kenikmatan yang banyak, maka lakukanlah shalat dan
berkurbanlah untuk tuhanmu
وفي الحديث عن أبي هريرة: من وجد سعةً فلم
يضحّ فلا يقربنَّ مصلانا (رواه أحمد و ابن ماجه)
Dalam
hadits lain, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: barang
siapa memiliki kelonggaran harta tetapi tidak mau berkurban, maka janganlah
mendekati tempat shalat kita (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
Ma`asyiral muslimin
Demikianlah
khutbah iedul adha. Semoga bermanfaat, meningkatkan keimanan dan jiwa berkorban
kita. Mohon maaf atas segala khilaf.
أقول قولي هذا و استغفر
الله لي و لكم فاستغفروه إنه هو الغفور
الرحيم
_____________
الله
أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
اللهم صلّ و سلّم على
سيدنا محمد سيد المرسلين و على آله و أصحابه أجمعين و ارحمهم برحمتك يا أرحم
الراحمين. اللهم إنا نسألك أن تجعلنا أمة وحدة/ و أن تجعلنا مسلمين مؤمنين/ و أن
تجعلنا من الدعاة الصادقين المخلصين، و أن ترزقنا الشهادة بعد طول عمر و حسن عمل.
اللهم اجعلنا قرة أعين لوالدينا و للمسلمين. اللهم انصرنا والمسلمين وأهلك أعداءنا
وأعداء الدين. اللهم انصر الاسلام و المسلمين في سائر بقعة الأرض. فيلسطين و
فلبين في العراق و الإيران في سوريا و إندونيسيا و ماليزيا في السودان و الأردن في
أوربا و استراليا في أسيا وأفريقيا.
اللهم اكشف عنا البلاء و
الوباء و الغلاء والأمراض ما لا يكشفه غيرك