Back To Top

Search This Blog

Friday, 17 August 2018

SUPER KURBAN SUPER IKHLAS KELUARGA IBRAHIM




Imam Asrori

الله أكبر  الله أكبر  الله أكبر   الله أكبر   الله أكبر   الله أكبر   
الله أكبر   الله أكبر  الله أكبر 
الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا لا إله إلا الله و الله أكبر
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له و أشهد أنّ محمدا عبده و رسوله
اللهم صلّ و سلّم على سيدنا محمد و على آله و أصحابه و تابعيه إلى يوم الدين
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم   بسم الله الرحمن الرحيم
إنا أعطيناك الكوثر. فصلّ لربك وانْحر  (الكوثر)

Ma`asyiral muslimin
Kita bersyukur ke hadirat Allah yang tidak mencabut iman dari hati kita. Hati kita digerakkan untuk mengingat Allah. Badan kita disehatkan oleh Allah sehingga kita tidak terbaring di rumah sakit. Keluarga kita juga disehatkan oleh Allah sehingga kita tidak harus menungguinya di pembaringan. Kita bersyukur, Allah menuntun kaki kita menuju masjid, tempat yang suci ini untuk melaksanakan kegiatan yang suci pula. Hal itu semua  dan lebih banyak hal lagi yang belum disebut merupakan kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak yang Allah anugerahkan kepada kita.
Tanggal 10 Dzulhijjah merupakan hari raya besar bagi umat Islam di seluruh dunia. Orang-orang di kampung saya di Pati Jawa Tengah menyebut badha gede. Sepuluh Dzulhijjah disebut juga Hari Raya Haji, karena merupakan puncak rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Umat Islam, khususnya para jamaah haji dari seluruh dunia, mulai pagi atau siang hari tanggal 8 Dzulhijjah bergerak menuju Arafah. Mulai siang hari tanggal 8 Dzulhijah, semua ruas jalan di kota Mekah menjadi sibuk dan bising oleh ribuan bus yang mengangkut jutaan jamaah haji ke padang Arafah secara bergelombang. Ruas jalan pedestarian pun dipadati oleh jamaah yang memilih berjalan kaki menuju Arafah. Mereka berbondong-bondong ke padang Arafah untuk melaksanakan wuquf, tunduk tafakkur di hadapan Allah sejak matahari tergelincir sampai terbenam. Selanjutnya mereka bergerak ke Mina untuk melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijah.
Sepuluh Dzulhijah juga disebut sebagai Hari Raya Qurban (iedul qurban atau iedul adha). Pada hari tersebut, umat Islam di seluruh dunia termasuk yang melakanakan ibadah haji, melaksanakan penyembelihan qurban.
Kata  أضحى  berasal dari- أضحية     ضحّى - يضحّي  yang bermakna ‘menyembelih, kemudian secara syariat bermakna menyembelih binatang-binatang tertentu pada tanggal 10 Dzulhijah sesuai dengan ketentuan syariat. Adapun kurban berasal dari akar kata        ق ر ب yang bermakna ‘dekat’. Jadi kegiatan mengalirkan darah atau menyembelih binatang pada tanggal 10 Dzulhijah dilaksanakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kegiatan ibadah haji dan ibadah qurban merupakan ibadah yang disyariatkan dengan bertumpu pada berbagai episode kehidupan keluarga nabi Ibrahim. Kehidupan keluarga nabi Ibrahim sebagian besar atau bahkan seluruhnya berisi episode-episode pengorbanan yang patut kita contoh. Dari berbagai episode kehidupan keluarga Nabi Ibrahim terdapat nilai-nilai yang patut kita teladani berikut ini.

1) Bersabar dan Optimis Penuh Harap
Ma`asyiral muslimin
Sebagaimana tertulis dalam Alqur’an pasangan Ibrahim dan Sarrah tidak mendapatkan keturunan sampai mereka berusia lanjut. Sarrah murung dan sedih. Ibrahim cemas tidak mempunyai keturunan yang akan melanjutkan sejarah kehidupannya. Perasaan murung, sedih, gelisah, cemas inilah yang ada di lubuk hati setiap suami-istri yang tidak segera memperoleh keturunan, lebih-lebih Ibrahim yang menunggu-nunggu sampai usia lanjut. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim tidak putus asa. Ia tetap bersabar dan optimis penuh harap dengan memohon kepada Allah. Nabi Ibrahim tidak beralih ke dukun, paranormal, punden, dan sejenisnya.

رب هب لي من الصالحين. فبشرنه بغلام حليم (الصفات: 100-101)
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

2) Rela Berkorban Diri untuk mendapatkan ridha Allah
            Kehidupan keluarga nabi Ibrahim penuh dengan pengorbanan diri.

(a) Mengorbankan Egoisme
Pada ayat 101 ditegaskan bahwa Allah menggembirakan Ibrahim dengan seorang anak laki-laki. Bagaimana cara Allah mengabulkan doa Ibrahim?. Tidak lain adalah melalui suatu bentuk pengorbanan yang sangat besar. Sarrah, istri Ibrahim berkorban. Ia korbankan perasaannya. Ia korbankan ego pribadinya. Ia meminta kepada suaminya agar menikahi Hajar (pembantunya). Ini adalah pengorbanan yang sangat besar dari seorang istri. Bagaimana tidak? Pada umumnya istri tidak mau suaminya menikah lagi apapun alasannya. Tapi Sarrah tidak saja rela dan mempersilakan suaminya untuk menikah lagi, tetapi justru ia sendiri yang menyarankan dan memilihkan wanita untuk dijadikan istrinya.
Mungkinkah para muslimat melakukan pengorbanan semacam ini?  Jika Sarrah rela mengorbankan haknya yang sangat besar (merelakan suaminya menikah lagi), kapan kaum muslimah ini rela atau mendorong suaminya untuk banyak berinfak, untuk banyak meluangkan waktu demi anak yatim, demi  fakir-miskin, dan demi-demi yang lain lagi.

Ma`asyiral muslimin
(b) Ibrahim Harus berpisah dengan Anak dan Istri di Pengasingan
            Kini Ibrahim dituntut untuk berkorban. Pernikahannya dengan Siti Hajar benar-benar mendatangkan karunia lahirnya seorang anak, yaitu nabi Ismail. Dengan lahirnya si buah hati, kebahagiaan menyelimuti rumah tangga Ibrahim. Tak terkecuali Sarrah istri pertama Ibrahim. Tetapi kebahagiaan Sarrah lama-lama berubah menjadi kesedihan. Ia menjadi cemburu terhadap Hajar yang memberi keturunan kepada Ibrahim. Ia merasa tidak berarti bagi Ibrahim, sebaliknya Hajar menjadi sumber kebahagiaannya. Hati Sarrah pun terasa sakit dan gelisah setiap kali melihat bayi Ismail. Hatinya semakin sakit ketika melihat Ibrahim bercengkerama bahagia bersama Hajar sambil menggendong Ismail.
Perasaan hatinya berulangkali ia sampaikan kepada Ibrahim. Berulang kali pula ia meminta suaminya untuk membawa Hajar dan Ismail ke tempat yang jauh, agar tidak terlihat lagi olehnya, agar tidak terdengar lagi suaranya, bahkan agar tidak terdengar lagi beritanya.
Untuk menjaga perasaan istri pertamanya dan dengan mengikuti petunjuk wahyu, Siti Hajar dan anaknya yang belum lama lahir ia bawa pergi ke arah selatan menelusuri ganasnya gurun pasir. Di siang hari, panasnya membakar kulit dan di malam hari dinginnya meremukkan tulang. Berhari-hari mereka berjalan ke arah selatan seolah tanpa tujuan, sampai akhirnya tiba di lembah kering menyeramkan tanpa penghuni. Di lembah yang menyeramkan itulah Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya dengan perbekalan seadanya.
Betapa berat perasaan Nabi Ibrahim waktu itu. Tidak mungkin ia tinggalkan Sarrah, karena dialah istri pertamanya yang mendampinginya dalam hidup sampai usia lanjut, dalam duka dan suka. Di sisi lain ia juga berat hati untuk meninggalkan istri ke duanya yang baru memberinya seorang anak. Tetapi ia harus tinggalkan istri dan anak yang baru dilahirkannya, anak yang diharap-harap sejak lama. Mereka ditinggalkan di tempat yang jauh, di lembah yang sepi mencekam, kering kerontang. Sebelum meninggalkan mereka, Ibrahim memanjatkan doa berikut kepada Allah:
ربَّنا إنِّي أسكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتي بوادٍ غيرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيتِك الْمحَرَّم رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصلوةَ فاجْعَل أَفئِدَةً مِنَ الناس  تَهوِي إِلَيْهِم وَ ارْزُقْهُم مِن الثمَرَاتِ لَعَلَّهُم يَشْكُرُون (إبراهيم:37)
Ya Allah Tuhan kami, aku telah tinggalkan anak dan isteri di lembah yang tidak berpepohonan di dekat baitul haram. Ya Tuhan! semoga mereka menegakkan shalat. Jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka dan berilah mereka rejeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Doa Mnabi Ibrahim tersebut mengandung nilai-nilai luhur:
·       Nilai keimanan dan ketawakkalan: meninggalkan anak dan istri di tengah padang pasir tandus tidak mungkin dilakukan manusia kecuali karena keimanannya yang sangat besar kepada Allah dan tawakkal kepada Nya.
·       Optimisme: optimisme Nabi Ibrahim tercermin pada doa beliau memohon dikaruniai buah-buahan. Ketika memasuki jazirah Arab kemungkinan besar tidak terbayang di hati kita akan adanya buah-buahan yang dihasilkannya. Bagaimana mungkin bumi yang berupa hamparan gunung-gunung batu cadas menghasilkan buah-buahan, bahkan tetumbuhan saja tidak terbayang bisa hidup di sana. Tetapi tidak demikian dengan Nabi Ibrahim. Beliau begitu optimis bahwa batus sekeras apapun denganaa kehendak Allah tentulah bisa menghasilkan apa saja termasuk tetumbuhan dan bebuahan. Karena itulah Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar anak dan istri yang ditnggalkan di lembah mekah itu dikaruniai buahan-buahan.
·       Nilai peribadatan: dalam situasi yang lebih mendesak manusia untuk memperoleh keamanan fisik, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar anak dan istrinya menjadi orang-orang yang mengingat Allah dengan menegakkan shalat.
·       Nilai sosial-kepribadian: Nabi Ibrahim memohon agar hati manusia condong kepada anak-istrinya. Penggalan doa ini pun mengandung optimisme bahwa wilayah yanag sepi tersebut akan menjadi ramai. Ketika sudah ramai, manusia yang tinggal di sana berhati baik kepada Hajar dan Ismail. Lingkungan akan bersikap baik kepada kita, jika kita pun bersikap baik kepada yang ada di sekitar kita.

Ma`asyiral muslimin
Ketika Ibrahim baru saja beberapa langkah meninggalkan Hajar dan Ismail, Hajar segera mengikutinya dari belakang lalu memagang tali kekang Onta yang dikendarai Ibrahim sambil berkata: Ya Ibrahim! Kemanakah Engkau akan pergi? Kenapa kami ditinggalkan di sini? di tempat yang menakutkan ini?
Hajar berharap agar Ibrahim menaruh belas kasihan kepada dirinya dan kepada anaknya Ismail. Ia minta pertanggungjawaban Ibrahim. Siapa yang akan mencarikan makan dan minum? siapa yang akan menjaganya dari serangan binatang buas? Siapa yang akan melindunginya dari terik matahari yang begitu panas dan dari hembusan hawa dingin di malam hari. Hal itu dikemukakan dengan nada gemetar.
Mendengar keluhan istrinya, Ibrahim tidak menghiraukannya. Ia sampaikan bahwa ini adalah perintah Allah. Ia meminta istrinya bersabar dan menerima takdir Allah.
Mendengar jawaban suaminya, Hajar menjadi paham dan sabar karena Allah pastilah tidak akan menyia-nyiakannya. Demi menjalankan perintah Allah, ia harus berani berkorban, berkorban ditinggalkan suami. Berkorban hidup sendiri. Mengorbankan diri dan anaknya untuk hidup beralas pasir dan bebatuan, beratap langit, berselimut hawa panas dan dingin, bertetangga bukit-bukit batu yang terjal.

(c) Berkorbar Super Korban
Cukup lama Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang tak berpenghuni itu. Kurang lebih setelah belasan tahun, dengan ijin istrinya Siti Sarrah, ia berangkat ke selatan untuk mengunjungi Ismail dan ibunya. Menurut kabar yang ia peroleh, lembah tempat Ismail ditinggalkan telah menjadi ramai, banyak orang tinggal di sana berkat mata air yang mereka temukan. Bahkan Hajar dan Ismail dihormati warga karena dipandang pemilik mata air tersebut.
Dari petunjuk warga,  Ibrahim menemui anak dan istrinya yang sedang menggembala kambing di dataran luar kota Mekah yang kini terkenal sebagai padang Arafah. Mereka berpelukan untuk melepas rindu. Setelah matahari terbenam, mereka bertiga kembali ke Mekah. Mereka berhenti di suatu tempat yang disebut Muzdalifah dan tertidur di sana karena lelah. Di dalam tidurnya, Ibrahim bermimpi  menyembelih putranya sebagai perintah dari Allah.
Pengorbanan yang amat berat bagi orang tua. Adakah pengorbanan yang lebih berat dari menyembelih anak kandung dengan tangan sendiri? Alangkah berat tugas dan pengorbanan tersebut bagi keluarga Ibrahim. Bertahun-tahun Ibrahim menginginkan anak. Ketika baru saja anak itu lahir, ia harus menjauhkannya di alam yang ganas.  Kini ketika baru saja mereka bertemu kembali setelah belasan tahun berpisah tanpa alat komunikasi, sang bapak mendapat perintah untuk menyembelih putra kesayangannya yang semata wayang. Baru saja Ismail melihat wajah ayahnya dan belum sempat untuk berbagi cerita, ia harus berkorban, berkorban raga dan nyawa di tangan ayahnya sendiri. Betapa berat pengorbanan yang harus dibayar Siti Hajar ketika ia harus melihat suaminya memotong leher anaknya, Betapa berat perasaan yang harus dipikulnya, jika ia melihat darah segar mengalir deras dari leher putranya yang robek, Ismail menggelepar lalu mati.
Perintah berkorban super korban itu pun mereka tunaikan dengan keikhlasan yang super pula. Di bawah sebuah bukit yang bernama bukit Malaikat. Mereka bersiap untuk melaksanakan penyembelihan. Ismail mengusulkan agar kedua tangan dan kakinya diikat dan agar baju yang menutupi badannya dilepas dan ditutupkan di wajahnya. Ia minta perintah Allah tersebut segera dilaksanakan setelah pedang diasah yang tajam lebih dulu agar tidak menyakitkan. Baru saja Ismail merebahkan lehernya di atas batu dan Ibrahim bersiap mendekatkan mata pedangnya ke leher Ismail, terdengarlah suara memanggilnya: “Hai Ibrahim, sungguh Engkau telah menetapi perintah dalam mimpimu itu. Sungguh aku akan membalas orang-orang yang melakukan kebaikan”.

فلَمَّا أسلَما وتَلَّهُ للجَبِين. و نَادَينهُ أن يا إبراهيم. قد صدَّقْتَ الرُّءيا إنا كذلك نجزِي الْمُحسنين. إن هذا لَهُوَ البلاء المبين.  وفديناه بذبحٍ عظيم. (الصافات/103-105)
Ketika keduanya telah bersiap dan Ismail direbahkan di atas batu, ada suara memanggilnya: ”Wahai Ibrahim. Kau telah penuhi mimpimu. Sesungguhnya kami akan membalas orang-orang yang berlaku baik. Ini sungguh-sungguh ujian yang nyata-nyata berat. Maka kami menebus Ismail dengan sembelihan yang besar”.


Meskipun perintah yang diterima super dahsyat beratnya, sebagai seorang nabi, Ibrahim meyakini kebenaran perintah tuhannya. Itulah beberapa bentuk pengorbanan besar yang dialami oleh keluarga nabi Ibrahim.

3) Jalinan komunikasi yang santun antara orang tua dan anak
Setelah mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim tidak serta merta melaksanakan perintah itu tanpa mengomunikasikannya kepada putranya Ismail. Dalam hal ini Nabi Ibrahim merasa ada hak Ismail yang harus dihormati. Karena itu, Nabi Ibrahim mengkomunikasikan perintah yang sangat berat itu kepada putranya sebagaimana tercatat dalam firman Allah surat Ash-Shoffat/37 ayat 102 berikut.

فلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السِّعْيَ قال يابُنَيَّ إنِّي أرَى فِي المنام أنِّي أذبَحُكَ فانْظُر ماذا تَرى: قال يا أبتِ افْعَل ما تُؤمَرُ سَتَجِدُنِي إن شاء اللهُ مِن الصابِرِين (الصافات/102:37)
Ketika Ismail sampai pada usia kerja, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh aku melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Ismail berkata: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan kepada Ayah. InsyaAllah ayah dapatkan diriku sabar menerimanya” 

Dalam hal ini, Ibrahim bertutur dengan lembut. Ia sapa putranya dengan kata-kata /ya bunayya/ ‘wahai anakku’. Nabi Ibrahim pun meminta pendapat putranya tentang perintah itu dengan kata-kata yang lembut pula. Ia katakan kepada putranya: /fa-nzhur maadzaa taraa/ ‘bagaimana pendapatmu? Pikirkanlah’. Nabi Ibrahim sangat berhati-hati dalam menyampaikan maksudnya sambil menyembunyikan pergolakan besar yang berkecamuk di dalam batinnya.
Di sisi lain, sebagai putra, Nabi Ismail pun menjawab dengan sangat santun dan penuh percaya diri dilandasi keimanan kepada Allah. Ia sapa ayahnya dengan sapaan hormat /yaa abati/ ‘wahai ayahanda’. Dengan tenang namun tegar dan tegas ia nyatakan siap disembelih karena patuh kepada Allah dengan mengatakan: /if’al maa tu`maru satajidunii insyaallah mina-sh shaabiriin/’Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu Ayahanda, Niscaya ayahanda mendapati diriku sabar’.
  
Ma`asyiral muslimin
     Keluarga Ibrahim lulus menjalani ujian kehidupan ini dengan predikat mumtaz atau summa cumlaude. Bertitik tolak pada episode penyembelihan Ismail yang kemudian diganti dengan penyembelihan domba inilah ibadah qurban disyariatkan. Syariat kurban mendidik kita untuk mengembangkan sikap suka berkorban dan menghindarkan diri untuk membuat korban.
Ismail atau anak secara umum merupakan representasi dari dunia dan kekayaan, termasuk di dalamnya diri kita sendiri yang sangat kita cintai. Penyembelihan kurban merupakan lambang dari penyembelihan nafsu egoeisme dan nafsu hewani. Penyembelihan korban yang kita laksanakan setahun sekali hendaknya dapat mengingatkan dan meningkatkan semangat kita untuk menyembelih dan mengikis habis nafsu egoisme kita di semua aspek kehidupan sepanjang tahun. Kita kikis egoisme kita sebagai ortu yang suka memaksanakan kehendak, selalu merasa benar dan ingin menang. Kita kikis egoesme sebagai anak yang terus menuntut ortu. Kita kikis egoisme kita sebagai suami yang selalu ingin menang terhadap istri. Kita kikis egoisme kita sebagai pengguna jalan, sebagai penjual, sebagai pembeli, dan sebagai sebagai sebagai yang lain.
     Secara material, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya,  mengorbankan putranya, sebagaimana Ismail diperintahkan untuk mengorbankan jiwa raganya. Benar-benar super korban dan dilaksanakan dengan super ikhlas. Bagaimana dengan kita? Kita secara material diperintahkan untuk berkorban kambing atau sapi. Apakah kita masih menolaknya? Apakah kita masih enggan melaksanakannya? Ibrahim diperintah pergi ratusan km menyusuri gurun pasir untuk untuk membawa dan meninggalkan anak istrinya di sana. Adapun kita, tidak lain diperintahkan sekedar pergi ke masjid, hanya beberapa meter dari rumah kita, sekedar untuk shalat berjamaah, apakah kita tidak sanggup melaksanakannya??? Mengapa masjid-masjid cenderung penuh hanya di hari raya?? Mengapa dan mengapa?
إنا أعْطَيناكَ الكَوْثَر. فَصَلّ لِرَبِّك وانْحَر  (الكوثر)
Sesungguhnya kami telah memberimu kenikmatan yang banyak, maka lakukanlah shalat dan berkurbanlah untuk tuhanmu
وفي الحديث عن أبي هريرة: من وجد سعةً فلم يضحّ فلا يقربنَّ مصلانا (رواه أحمد و ابن ماجه)
Dalam hadits lain, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: barang siapa memiliki kelonggaran harta tetapi tidak mau berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kita (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
      
Ma`asyiral muslimin
Demikianlah khutbah iedul adha. Semoga bermanfaat, meningkatkan keimanan dan jiwa berkorban kita. Mohon maaf atas segala  khilaf.

 

أقول قولي هذا و استغفر الله لي و لكم  فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
_____________

الله أكبر  الله  أكبر  الله أكبر   الله أكبر   الله أكبر   الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

اللهم صلّ و سلّم على سيدنا محمد سيد المرسلين و على آله و أصحابه أجمعين و ارحمهم برحمتك يا أرحم الراحمين. اللهم إنا نسألك أن تجعلنا أمة وحدة/ و أن تجعلنا مسلمين مؤمنين/ و أن تجعلنا من الدعاة الصادقين المخلصين، و أن ترزقنا الشهادة بعد طول عمر و حسن عمل. اللهم اجعلنا قرة أعين لوالدينا و للمسلمين. اللهم انصرنا والمسلمين وأهلك أعداءنا وأعداء الدين. اللهم انصر الاسلام و المسلمين في سائر بقعة الأرض. فيلسطين و فلبين في العراق و الإيران في سوريا و إندونيسيا و ماليزيا في السودان و الأردن في أوربا و استراليا في أسيا وأفريقيا.
اللهم اكشف عنا البلاء و الوباء و الغلاء والأمراض ما لا يكشفه غيرك








 

contoh iklan

Site Links