Back To Top

Search This Blog

Thursday, 22 October 2020

SIKAP HARMONI DUA TOKOH SANTRI

 

SIKAP HARMONI DUA TOKOH SANTRI

IMAM ASRORI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وأصحابه أجمعين

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه وتابعيه أجمعين

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسم الله الرحمن الرحيم

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون (صدق الله العظيم)

 

Jamaatal Muslimin

أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون

Dalam kesempatan khutbah singkat ini khatib mengajak diri khatib sendiri dan para jamaah sekalian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu memperoleh kemenangan dan keberhasilan. Salah satu wujud ketakwaan itu adalah menghormati guru, atau lebih tepatnya yang baik dan harmonis antara guru dan murid. Dalam momentum peringatan hari santri marilah kita simak keharmonisan hubungan antara al-Imam asy-Syafi’I dan al-Imam Ahmad ibnu Hanbal yang keduanya memiliki hubungan guru dan murid.

Dikisahkan bahwa suatu hari al-Imam asy-Syafi’I (sang Guru) berkunjung ke kediaman al-Imam Ahmad (sang murid). Imam Ahmad memiliki seorang putri shalehah, rajin shalat malam dan puasa sunnah, serta senang mendengarkan cerita tentang orang-orang shaleh. Ia sangat senang ketika mengetahui al-Imam asy-Syafi’I akan datang ke rumahnya, dengan harapan bisa melihat langsung perilaku guru bapaknya dan mendengar tutur katanya.  

Dalam kunjungan ini Imam Syafi’I bermalam di rumah Imam Ahmad. Setelah selesai makan malam, Imam Ahmad langsung masuk mushala untuk shalat dan berdzikir, sedangkan Imam Syafi’I menyandarkan punggungnya di kamar. Adapun putri Imam Ahmad memperhatikan Imam Syafi’I sampai fajar. Keesukan harinya, sang putri mengadukan perilaku Imam Syafi’I kepada abahnya. Wahai abah, apakah tamu kita ini betul Imam Syafi’I yang sering abah ceritakan?

Sang putri mengadu: “Kata abah, Imam Syafi’I itu ulama’ besar, mengapa semalam saya tidak melihatnya melakukan shalat, tidak dzikir, apalagi wiridan. Saya dapatkan tiga hal ganjil padanya” tambah sang putri, yaitu: a) ketika kita hidangkan makanan, ia makan sangat lahap dan banyak, berbeda dengan yang kudengar tentangnya, b)  ketika semalam masuk kamar, ia tidak bangun shalat malam, dan c) tadi shalat subuh tanpa wudhu”.

Setelah hari agak siang dan mereka ngobrol-ngobrol santai, imam Ahmad menyampaikan pertanyaan/aduan putrinya itu kepada Imam Syafi’i. Imam Syafi’I pun menjelaskan tiga hal yang menjadikan penasaran pada diri putri Imam Ahmad. Wahai Aba Muhammad (Wahai ayah Muhammad): “saya tadi malam makan banyak karena saya tahu makananmu itu halal dan engkau itu orang yang dermawan. Makanan orang dermawan itu obat, sebaliknya makanan orang pelit itu penyakit. Saya makan banyak sama sekali tidaklah untuk berkenyang-kenyang, tetapi untuk berobat dengan makananmu.

Bahwa tadi malam saya tidak shalat malam itu karena begitu kuletakkan kepalaku di atas bantal, tampak di depan mataku ini alqur’an dan as-sunnah, Allah bukakan di depan mataku ini 72 masalah fiqih. Aku pun langsung memikirkan dan mengorganisasikan 72 masalah fikih tersebut untuk kepentingan umat. Hal itu menghalangiku shalat malam.

Adapun tentang shalat subuh tanpa wudhu itu begini. Mataku ini semalam sama sekali tidak tidur, sehingga aku tidak harus memperbarui wudhuku. Aku tadi shalat subuh bersama kalian dengan wudhu shalat isya’. Selesai memberikan penjelasan, Imam Syafi’I langsung berpamitan pulang.

 

Jamaatal muslimin

            Demikianlah salah satu kisah keharmonisan hubungan antar Imam Syafi’I dan Imam Ahmad.  Dua tokoh yang memiliki hubungan guru-murid itu melakukan saling kunjung, saling menghormati, saling menyayangi. Demikianlah salah satu perilaku santri yang harus kita miliki.

بارك الله لي ولكم بالقرآن الكريم ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.

 

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وأصحابه أجمعين. قال الله تعالى بسم اله الرحمن الرحيم:

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْراً

Artinya, “Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”  (QS.  Al Kahfi : 73)

Salah satu perilaku guru yang dituntut oleh muridnya adalah tidak menghukum murid ketika sang murid bersalah, dan tidak memberi beban yg terlalu berat.

 

contoh iklan

Site Links