SIKAP HARMONI DUA TOKOH SANTRI
SIKAP HARMONI DUA TOKOH
SANTRI
IMAM ASRORI
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وأصحابه
أجمعين
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه وتابعيه أجمعين
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون (صدق
الله العظيم)
Jamaatal Muslimin
أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون
Dalam kesempatan khutbah singkat ini
khatib mengajak diri khatib sendiri dan para jamaah sekalian untuk selalu
meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu
memperoleh kemenangan dan keberhasilan. Salah satu wujud ketakwaan itu adalah
menghormati guru, atau lebih tepatnya yang baik dan harmonis antara guru dan
murid. Dalam momentum peringatan hari santri marilah kita simak keharmonisan
hubungan antara al-Imam asy-Syafi’I dan al-Imam Ahmad ibnu Hanbal yang keduanya
memiliki hubungan guru dan murid.
Dikisahkan bahwa suatu hari al-Imam
asy-Syafi’I (sang Guru) berkunjung ke kediaman al-Imam Ahmad (sang murid). Imam
Ahmad memiliki seorang putri shalehah, rajin shalat malam dan puasa sunnah,
serta senang mendengarkan cerita tentang orang-orang shaleh. Ia sangat senang
ketika mengetahui al-Imam asy-Syafi’I akan datang ke rumahnya, dengan harapan
bisa melihat langsung perilaku guru bapaknya dan mendengar tutur katanya.
Dalam
kunjungan ini Imam Syafi’I bermalam di rumah Imam Ahmad. Setelah selesai makan
malam, Imam Ahmad langsung masuk mushala untuk shalat dan berdzikir, sedangkan
Imam Syafi’I menyandarkan punggungnya di kamar. Adapun putri Imam Ahmad
memperhatikan Imam Syafi’I sampai fajar. Keesukan harinya, sang putri
mengadukan perilaku Imam Syafi’I kepada abahnya. Wahai abah, apakah tamu kita
ini betul Imam Syafi’I yang sering abah ceritakan?
Sang
putri mengadu: “Kata abah, Imam Syafi’I itu ulama’ besar, mengapa semalam saya
tidak melihatnya melakukan shalat, tidak dzikir, apalagi wiridan. Saya dapatkan
tiga hal ganjil padanya” tambah sang putri, yaitu: a) ketika kita hidangkan
makanan, ia makan sangat lahap dan banyak, berbeda dengan yang kudengar
tentangnya, b) ketika semalam masuk
kamar, ia tidak bangun shalat malam, dan c) tadi shalat subuh tanpa wudhu”.
Setelah
hari agak siang dan mereka ngobrol-ngobrol santai, imam Ahmad menyampaikan
pertanyaan/aduan putrinya itu kepada Imam Syafi’i. Imam Syafi’I pun menjelaskan
tiga hal yang menjadikan penasaran pada diri putri Imam Ahmad. Wahai Aba
Muhammad (Wahai ayah Muhammad): “saya tadi malam makan banyak karena saya tahu makananmu
itu halal dan engkau itu orang yang dermawan. Makanan orang dermawan itu obat,
sebaliknya makanan orang pelit itu penyakit. Saya makan banyak sama sekali tidaklah
untuk berkenyang-kenyang, tetapi untuk berobat dengan makananmu.
Bahwa
tadi malam saya tidak shalat malam itu karena begitu kuletakkan kepalaku di
atas bantal, tampak di depan mataku ini alqur’an dan as-sunnah, Allah bukakan
di depan mataku ini 72 masalah fiqih. Aku pun langsung memikirkan dan
mengorganisasikan 72 masalah fikih tersebut untuk kepentingan umat. Hal itu menghalangiku
shalat malam.
Adapun
tentang shalat subuh tanpa wudhu itu begini. Mataku ini semalam sama sekali
tidak tidur, sehingga aku tidak harus memperbarui wudhuku. Aku tadi shalat
subuh bersama kalian dengan wudhu shalat isya’. Selesai memberikan penjelasan,
Imam Syafi’I langsung berpamitan pulang.
Jamaatal muslimin
Demikianlah
salah satu kisah keharmonisan hubungan antar Imam Syafi’I dan Imam Ahmad. Dua tokoh yang memiliki hubungan guru-murid
itu melakukan saling kunjung, saling menghormati, saling menyayangi. Demikianlah
salah satu perilaku santri yang harus kita miliki.
بارك الله لي
ولكم بالقرآن الكريم ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل الله مني ومنكم
تلاوته إنه هو السميع العليم.
الحمد لله رب
العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وأصحابه أجمعين. قال الله
تعالى بسم اله الرحمن الرحيم:
قَالَ
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْراً
Artinya, “Musa berkata: “Janganlah kamu
menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu
kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al Kahfi : 73)
Salah satu perilaku guru yang dituntut oleh muridnya adalah
tidak menghukum murid ketika sang murid bersalah, dan tidak memberi beban yg
terlalu berat.