KHUTBAH IDUL FITRI 2019: TIGA INDIKATOR KEBERHASILAN PUASA RAMADHAN
KHUTBAH IDUL
FITRI 2019: TIGA INDIKATOR KEBERHASILAN PUASA RAMADHAN
Masjid:
Muhajirin, Jl. Sekayan No 35 Malang
IMAM ASRORI
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
الله أكبر - الله أكبر
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر
الله أكبر - الله أكبر
- الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
لا إله إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ
عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ
مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ،
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ
النَّبِيِّيْنَ.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ،
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ،
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى
لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ
الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ
مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ
بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah
Ramadhan
baru saja mengucapkan salam perpisahan kepada kita. Seiring dengan itu, bulan
Syawal datang mengulurkan tangan kepada kita, lalu kita bermesraan dengannya.
Pada hari raya Iedul fitri ini kita semua bergembira menyambut kedatangan idul
fitri. Kita semua mengenakan baju baru, menyiapkan makanan-makanan khusus.
Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memakai baju terbaik pada hari raya. Maka
Ibnu Umar pun memakai baju terbaiknya, bahkan Ibunda Siti Aisyah menyuruh kedua
budak perempuan untuk menabuh alat musik/rebana di rumahnya dan dibiarkan oleh
Rasulullah.
Bergemberi
di hari Idul Fitri memang boleh dan dianjurkan oleh Rasulullah. Tetapi mengapa
kita bergembira? Dalam hal ini, K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) memperingatkan
kita melalui bait-bait puisinya. Berikut penggalan bait puisi dimaksud.
Hari ini dan mungkin beberapa hari
Sesudah hari ini
Hari yang bersuka-ria
Adakah kau sedang mensyukuri
Kemenanganmu atas setan dan nafsu
Di bulan puasa, maka o, alangkah gembira
Ataukah karena kini
Kau terbebas lagi seperti semula
Tak ada lagi yang kau sungkani?
Apakah ini kemenanganmu
Atau lagi-lagi kemenangan
Setan dan nafsu atas dirimu
Betapa pun, Allahu Akbar!
Bagaimana pun, WaliLlahil hamdu!
Sesudah hari ini
Hari yang bersuka-ria
Adakah kau sedang mensyukuri
Kemenanganmu atas setan dan nafsu
Di bulan puasa, maka o, alangkah gembira
Ataukah karena kini
Kau terbebas lagi seperti semula
Tak ada lagi yang kau sungkani?
Apakah ini kemenanganmu
Atau lagi-lagi kemenangan
Setan dan nafsu atas dirimu
Betapa pun, Allahu Akbar!
Bagaimana pun, WaliLlahil hamdu!
Melalui penggalan puisi itu kita
diingatkan untuk bermuhasabah, mengapa pada hari raya idul fitri ini kita semua
senang dan gembira? Apakah kita senang karena sudah terbebas dari kewajiban
berpuasa? Apakah kita bergembira karena setelah Ramadhan usai kita merasa tidak
perlu lagi menahan nahsu kita? Apakah kita merasa bebas berkata-kata? Apakah
kita benar-benar menang atas syetan atau sebaliknya, syetan yang menang
terhadap kita?
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati
Allah
Kata syawal bermakna peningkatan,
artinya setelah kita melaksanakan pembakaran semangat beribadah Ramadhan
sebulan penuh, sudah semestinya pada bulan Syawal ini kita mencapai peningkatan
prestasi peribadatan. Dalam surat Al-Baqarah 183 yang biasa dibaca oleh para
ustadz dalam kuliah-kuliah Ramadhan, terdapat klausa la’allakum tattaquun
“agar kalian menjadi ora-orang yang bertakwa”. Hal itu berarti bahwa puasa Ramadhan itu dalam rangka membentuk
manusia yang bertakwa. Karena itu, untuk mengetahui apakah puasa yang kita
jalankan itu berhasil atau gagal, kita perlu melihat apakah ciri-ciri orang
bertakwa ada pada diri kita.
Al-qur’an
banyak mengemukakan ciri-ciri orang yang bertakwa, salah satunya pada surat
Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertakwa? Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Salah satuNYA terdapat dalam Surat Ali Imran/3:133-134
Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertakwa? Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Salah satuNYA terdapat dalam Surat Ali Imran/3:133-134
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها
السماوات والأرض أعدت للمتقين
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ
فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ
النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada
saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)
Jamaah shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Jamaah shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah
Pada ayat 133 kita diperintahkan
Allah untuk bersegara/cepat-cepat mendapatkan ampunan dan surga Allah yang
seluas bumi dan langit yang disedikan
bagi orang-orang yang bertakwa. Ayat ini bagaikan pengumuman atau iklan dari
Tuhan yang mempromosikan ampunan dan surga. Untuk mendapat ampunan dan surga,
kita tidak boleh santai atau leha-leha. Sebaliknya, kita harus bergegas
mendapatkan ampunan Allah, sebagaimana para ibu bergegas ke super market super market, untuk memburu produk yang sedang
dipromosikan. Kita juga perlu bersegera membeli kavling di surga, makin luas
makin baik, sebagaimana kita semua menginkan rumah yang luas di dunia.
Di akhir ayat tersebut ditegaskan bahwa ampunan dan surga itu hanya
disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu kita harus menjadikan
diri kita sebagai orang yang bertakwa agar memenuhi syarat untuk mendapatkan
ampunan dan surga itu. Orang yang tidak bertakwa tidak akan mendapatkannya,
karena tidak memenuhi syarat.
Pada ayat 134 dikemukakan indikator orang yang bertakwa. Paling tidak ada
tiga indikator orang bertakwa pada ayat ini.
Pertama, yunfiquuna fis saraa’ wadh sharraa’
Pertama, yunfiquuna fis saraa’ wadh sharraa’
Gemar menginfakkan hartanya baik pada situasi lapang
maupun tegang. Berinfak dalam situasi lapang rejeki dan ketika sedang suka
merupakan hal yang biasa. Tetapi berinfak pada situasi tegang, baik tegang
rejeki maupun tegang emosi, merupakan hal yang luar biasa. Syarat memperoleh
ampunan dan surga tidak cukup hanya biasa berinfak di waktu lapang, melainkan
juga di waktu tegang.
Pada era digital ini, berinfak sangat mudah dilakukan.
jika kita sibuk, kita bisa berinfak tanpa keluar rumah. Cukup dengan layanan
sms banking dan mobile banking infak dapat kita lakukan. Jika kita bisa pesan
layanan transportasi, layanan jual beli, atau pun layanan lainnya melalui
aplikasi gojek, grap, bukalapak, dan sejenisnya, kita juga berinfak dengan
memanfaatkan aplkasi zakat online, infak online, sms banking, dan mobile
banking, YAP (Your All Payment). Keuntungan lain dari berinfak secara online
adalah ringan di hati karena tangan kita tidak secara fisik mengeluarkan uang
dari dompet, sebagaimana kita merasa lebih ringan berbelanja dengan kartu
kreidit dari pada tunai.
Kedua: wal kaazhimiin al-ghaizha “penahan
amarah. Dalam kamus Al-Munawir, kaf-zha’,-mim bermakna menahan. Dari akar itu
ada bentukan kazdhiimah yang bermakna termos. Termos berfungsi menahan panas.
Orang yang memagang termos tidak akan merasakan panas. Demikian perilaku orang
yang bertakwa, ia bagaikan termos yang tidak membiarkan orang di sekitarnya
terdampak kemarahannya. Air panas dalam termos hanya akan dituangkan pada jam
jam tertentu untuk keperluan yang khusus pula, misalnya membuat susu. Demikian
halnya, kemarahan yang ada di dalam hati orang bertakwa itu tidak akan
dikeluarkan jika memang tidak dperlukan.
Jamaah Idul fitri rahimakumullah, selama ramadhan kita
berlatih menahan amarah. Ketika Ramadhan berlalu, bukan berarti kita boleh
marah-marah. Sebaliknya kita justru harus meningkat menjadi PENAHAN AMARAH.
Puasa ramadhan kita ini berhasil, jika kita bisa menjadi penahan amarah. Pada
ayat ini digunakan bentuk ism fa’il (pelaku aktivitas). Kalau ada orang yang
sekali berbohong ia tidak disebut pembohong. Orang yang berkelahi sekali dengan
bergulat, ia tidak disebut pegulat. Seseorang disebut pegulat, jika ia berulang
kali bergulat. Demikian halnya, kita ini oleh Allah dikategorikan al-kazhimiin
al-ghaizha “penahan amarah” jika berulangkali atau bahkan terus menerus bisa
menahan amarah.
Ketiga: wal ‘aafiina ‘anin naas “Pemaaf kesalahan
orang”
Pada Ali Imran 134, yang disebut sebagai indikator
ketakwaan adalah PEMAAF KESALAHAN ORANG” bukan meminta maaf. Meminta maaf
memerlukan keberanian. Sebaliknya, memaafkan orang memerlukan keikhlasan dan
kelapangan dada. Untuk mudah memaafkan orang, kita perlu menyadari bahwa diri
kita juga sering berbuat salah yang juga memerlukan permafaan dari orang lain.
Selama Ramadhan, setiap selesai salat witir kita
didril membaca doa berikut secara berjamaah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ
عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”
pada doa tersebut, kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali. Pembacaannya pun biasanya tiga kali. Berarti kita menyebut kata maaf tiga kali setiap ba’da salat witir. Karena itu sudah semestinya lah orang-orang telah menyeleaikan puasa Ramadhan itu menjadi pribadi yang pemaaf.
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah
Idul
fitri tahun ini hadir beberapa minggu setelah hajatan nasional PILPRES dan
PILLEG. Hajatan tersebut mungkin menyisakan friksi-friksi tertentu di antara
kita umat Islam. Semoga dengan Ramadhan dan semua bentuk ibadah di dalamnya,
kita dapat menghilangkan ganjalan-ganjalan hubungan sosial yang diakibatkan
oleh pemilu yang lalu.
Rasulullah bersabda:
من صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحِتْسَابًا ، خَرَجَ
مِنَ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan melakukan qiyamul
laili dengan mengharap ridha Allah, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya
seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya. Bayi yang baru lahir pasti tidak
punya dosa.
Selain tidak membawa dosa, bayi yang baru lahir juga
telanjang/tanpa pakaian. Agar kesalahan-kesalahan yang timbul dari hubungan
sosial bisa kita saling maafkan, hendaknya kita tampil “telanjang” dalam arti
tanpa menunjukkan identitas golongan, kepartaian, kejam’iyahan kita. Kita cukup
tampil sebagai manusia yang mudah berbuat salah, sehingga perlu saling
memaafkan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
اَللهُ أَكْبَرُ 7×،
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ اللهِ
اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ
"إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا".
اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ
يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ,
وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ.
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ
اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا
اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ