Back To Top

Search This Blog

Friday, 19 July 2019

BERSHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM IMAM ASRORI UNIVERSITAS NEGERI MALANG Yayasan As-Sanabila Malang الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين وعلى آله وأصحابه والتابيعن إلى يوم الدين. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم وبارك على سيدنا محمد وعل آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما (الأحزاب/56) معاشر المسلمين رحمكم الله أوصيني نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون فقد فاز المؤمنون Jama’atal Jum’ah rahimakumullah Marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah salah satunya dengan memperbanyak bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Allah berfirman di dalam surat Al-Ahzab/56 إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Pada ayat tersebut ada tiga pihak yang bershalawat kepada Nabi Muhammad, yaitu Allah, para malaikat dan orang-orang yang beriman. Dua pihak pertama dinyatakan dengan fi’il mudhari’ yang dalam hal ini maksudnya adalah selalu/terus menerus. Allah dan para maikat terus menerus bershalawat kepada Nabi Muhammad. Adapun pihak ketiga dinyatakan dalam fi’il amr, yang berarti diperintahkan bershalawat. Diperintahkan .. jadi belum tentu melakukannya. Anas Ismail Abu Dawud(1996) dalam kitabnya “Dalilu assa’ilin” menjelaskan bahwa Allah bershalawat kepada Nabinya (Nabi Muhammad), maksudnya memuji beliau di tengah-tengah para malaikat. Malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad maksudnya, mereka mendoakan dan memohonkan istighfar untuknya. Adapun shalawat orang mukmin kepada Nabi Muhammad maksudnya adalah menganggungkannya di dunia dengan mengagungkan asmanya, menolong agama yang dibawa, dan melaksanakan syariatnya. Jama’atal muslimin rahimakumullah Setelah mendapat perintah untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi, para sahabat bertanya kepada beliau tentang caranya. عن أبي محمد كعب ابن عجرة رضي الله عنه قال: خرج علينا النبي صلى الله عليه وسلم، فقلنا: يا رسول الله قد علمنا كيف نسلم عليك، فكيف نصلي عليك؟ قال: قولوا: "اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد. "اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد (متفق عليه) Diriwayatkan dari Abu Muhammad Ka’ab bin Ajrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi keluar menuju kami, lalu kami bertanya: wahai Rasu, kami sudh tahu bagaimana cara menyampaikan salam kepada Nabi, tetapi kami belum tahu bagaimana cara bershalawat kepada-Mu ya Rasul? Rasul menjawab: begini saja katakan Allahumma shalli .. (dst). Pada hadits yg lain disebutkan عن أبي حميد الساعدي رضي الله عنه قال: قالوا يا رسول الله، كيف نصلي عليك؟ قال : قولوا: "اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته كما صليت على إبراهيم وبارك لى محمد وعلى أزواجه وذريته كما باركت على إبراهيم، إنك حميد مجيد (متفق عليه). Dari Abu Hamid Assa’idi radhiyallahu anhu, ia berkata: Orang-orang bertanya wahai Rasulullah: bagaimana cara kita bershalawat kepadamu? Rasul menjawab: Ktakanlah: Allahumma shalli (dst sesuai matan hadits) Jamatal muslimin Ketika ditanya tentang cara bershalawat, rasulullah tidak menjelaskan tentang tatacaranya ataupun waktunya. Ada hadits yang menganjurkan kita untuk memperbanyak bershalawat pada hari Jum’at, karena hari Jumat merupakan hari paling afdhal. Hal itu bukan berarti di luar hari Jum’at, tidak perlu bershalawat. Bershalawat bisa dilakukan pada malam Jum’ah, malam Senin, Senin malam, pada moment-moment tertentu, atau pun setiap saat. Bershalawat bisa lakukan kapan saja, pagi, siang, malam. Bershalawat bisa dilakukan sendiri, berdua, berkelompok, berjamaah dan sebagainya. Jamaatal muslimin Pelaksanaan ibadah selalu melibatkan aspek budaya atau menyatu dengan budaya. Untuk melaksanakan shalat, kita berpakaian. Model pakaian yang dikenakan adalah budaya. Muslim indonesia umumnya mengenakan sarung dan songkok hitam. Muslimin Saudi mengenakan jubah panjang. Muslimin India/pakistan, mengenakan baju panjang sampai antara pantat dan lutut. Pelaksanaan bershalawat pun tidak bisa dipisahkan dari budaya, terlebih membaca shalawat bukan merupakan ibadah mahdhah, melainkan ibadah sebagai salah satu cerminan rasa cinta kepada Rasul. Dalam budaya masyarakat Arab Saudi, mereka bershalawat secara pribadi-pribadi dan tidak dengan suara keras. Dalam masyarakat Indonesia, bershalawat selain dilakukan secara pribadi, juga banyak dilakukan secara melembaga pada berbagai moment, tidak jarang dengan suara keras, dilagukan, dan sebagainya. Jamaatal muslimin Terhadap saudara dan kolega kita yang tidak tertarik dengan budaya bershalawatan (bershalawat dengan berjamaah dan suara keras), kita tidak perlu memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak suka bershalawat. Mungkin mereka justru bershalawat lebih banyak, karena mereka bershalawat kapan saja, tanpa menunggu momen khusus dan tanpa menunggu berkumpulnya jamaah. Sebaliknya, terhadap saudara dan kolega yang senang bershalawatan berjamaah dalam berbagai momen dan majlis shalawat, tidak perlu dikatakan bahwa mereka itu melakukan bid’ah. Demikian halnya, bershalawat dengan membaca barzanji, diba’, shalawat badar, dan sejenisnya tidak perlu kita bid’ah-bid’ahkan, karena pembacaan barzanji, diba’, dan sejenisnya adalah kegiatan seni-budaya. Barzanji, diba’, dan sejenisnya pada hakikatnya adalah karya sastra yang berisi riwayat hidup Rasul dan puji-pujian kepada beliau. Karya sastra yang berisi sanjungan dan ujian dalam sastra Arab disebut Madah, lawan kata dari hija’, yaitu karya sastra yang berisi sindiran dan kritikan. Madah atau karya sastra yang secara khusus berisi pepujian kepada Nabi Muhammad, semisal maulid barzanji dan maulid diba’ itu disebut madah nabawi. Dalam maulid barzanji, maulid diba’i, dan sejenisnya terdapat lafal-lafal shalawat kepada Nabi. meskipun tidak berasal dari Nabi, lafal-lafal dimaksud tidak bertentangan dengan isi lafal shalawat yang diajarkan Nabi. Berikut beberapa contoh shalawat dimaksud. Contoh 1 (Ya Rabbi limpahkan salawat kepada Muhammad) يا رب صل على محمد (Ya Rabbi limpahkan kepadanya salawat dan keselamatan) يا رب صل عليه وسلم (karya Ad-Daiba i) Contoh 2 ‘Wahai Nabi damai untukmu’ يا نبي سلام عليك ‘Wahai Rasul salam untukmu’ يا رسول سلام عليك ‘Wahai kekasih salam untukmu’ يا حبيب سلام عليك ‘salawat Allah senantiasa untukmu’ صلوات الله عليك (karya Al-Barzanji) Contoh 3 ‘Salawat dan keselamatan dari Allah ’ صلاة الله سلام الله ‘semoga dilimpahkan kepada Thaha Utusan Allah’ على طه رسول الله ‘Selawat dan keselamatan dari Allah’ صلاة الله سلام الله ‘semoga dilimpahkan kepada Yasin Kekasih Allah Ya Allah على يس حبيب الله (shalawat Badar) Lafal-lafal shalawat tersebut sangat mirip dengan lafal shalawat paling pendek yang diajarkan Rasulullah اللهم صل على محمد وعلى آل محمد Jamaatal muslimin Sebagai madah nabawi, maulid barzanji dan lainnya tentu mengandung bait-bait pujian, misalnya: Contoh 1 ‘Telah terbit purnama dari Tsaniyatil wada (Mekah)’ طلع البدر علينا من ثنية الوداع ‘Wajib kita bersyukur وجب الشكر علينا ‘atas seruan kepada Allah yang diserukan oleh sang penyeru’’ ما دعا لله داع Contoh 1 Asyraqa al-badru alaina: / fa ikhtafat minhu al-budu:r Mitsla husnika ma: ra`aina: / qaththu ya: wajha as-surur Anta syamsun anta badrun / anta nu:run fauqa nur Telah terbit purnama أشرق البدر علينا maka sirnalah semua purnama فاختفت منه البدور Seindah wajahmu yang ceria, tak kan pernah kulihat مثل حسنك ما رأينا selamanya wahai wajah yang penuh gembira قط يا وجه السرور Engkau matahari engkau purnama, أنت شمس أنت بدر engkau cahaya di atas cahaya أنت نور فوق نور (karya Al-Barzanji) Membaca lafal shalawat yang ada dalam Maulid Barzanji dan sejenisnya tentu sangat dibolehkan dan tetap dihitung bershalawat, karena esensi yang diperintahkan adalah bershalawatnya itu sendiri. Bahkan jika pembacaannya dilakukan dalam acara seni dan budaya pun menurut saya tetap boleh dan berpahala, karena kegiatan seni ini mendorong cinta Rasul. Jika membaca shalawat yang lafalnya bukan dari Rasul ini tidak dibolehkan, tentu mengucapkan: “semoga shalawat dan salam dicurahkan untuk Rasulullah” tentu juga tidak dibolehkan. Jamatal muslimin Memang terdapat lafal shalawat atau pepujian yang secara tekstual menimbulkan tanda tanya, misalnya ungkapan “anta nur fauqa nur” yang arti harfiahnya adalah ‘engkau cahaya di atas cahaya’ (karya Al-Barzanji). Secara harfiah lafal tersebut mirip dengan “nurun ala nur” ‘cahaya di atas cahaya’ (Q.S An-Nur: 35) yang ditujukan kepada Allah. Perlu diketahui bahwa barzanji adalag karya sastra yang penuh dengan gaya bahasa, salah satunya hiperbola (mubalaghah). Karena itu setiap kata dan bainya tidak bisa dipahami secara harfiah, tetapi harus diapresiasi secara sastrawi. Contoh lain, shalawat Badar baris ketiga berbunyi توسلنا ببسم الله وبالهادي رسول الله ‘kami berwasilah dengan membaca basmalah dan Rasulullah sang pemberi petunjuk. Banyak kalangan yang tidak mau menerima bait ini karena Nabi Muhammad diberi sifat Al-Hadi ‘pemberi petunjuk’. Alasan mereka bukankah sang pemberi petunjuk itu hanyalah Allah? إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ (al-QasOs: 56). Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang Kau cintai sekalipun, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapapun yang Ia kehendaki. Petunjuk yang dimaksud di sini adalah petunjuk taufiq-ilham. Adapun petunjuk dalam bentuk memberi penjelasan dan pengarahan tentulah bisa dilakukan oleh Rasulullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi hidayah”. [Ar Ra‘d/13 : 7]. Dan Allah berfirman tentang diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ صِرَاطِ اللَّهِ “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memberi hidayah kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah”. [Asy Syura/42 : 52-53] Makna “engkau memberi hidayah” di sini ialah, engkau memberi petunjuk dan bimbingan ke jalan yang lurus dengan beragam petunjuk dan bimbingan,

 

contoh iklan

Site Links