Back To Top

Search This Blog

Thursday, 21 April 2022

 PADUAN CANTIK ARSITEKTUR MU DENGAN ORNAMEN NU

DALAM SHALAT TARAWIH DI MUSHALA NURUL MUSTHAFA BUNUL ASRI MALANG

(20-4-2022)

 

Oleh:

 Imam Asrori

Universitas Negeri Malang

Yayasan As-Sanabila Malang

 

Mushala Nurul Musthafa dibangun pada awal tahun 90-an abad 20 melalui swadaya warga perumahan Bunul Asri. Perumahan Bunul Asri terdiri atas dua blok (A dan B) dan secara administrative juga dibagi menjadi dua RT, yaitu RT 04 dan RT 05 yang berada di wilayah RW 19 Kelurahan Bunulrejo Kecamatan Blimbing Kota Malang. Mushala telah mengalami beberapa kali renovasi. Setelah renovasi yang terakhir tahun 2020-2021, mushala Nurul Musthafa minimal bisa menampung 150 jamaah.

Mushala Nurul Musthafa menjadi pusat kegiatan peribadatan bagi warga Bunul Asri. Shalat berjamaah lima waktu dilaksanakan di mushala. Setiap malama Jum’at (ba’da maghrib) dilaksanakan tahlil, pembacaan shalawat, atau istighatsah secara bergantian. Pada malam Jum’at ke 2 dan keempat juga diselenggarakan kajian atau majlis ta’lim yang diasuh oleh Habid Hadi al-Kaf.

            Pada bulan Ramadhan, mushala Nurul Musthafa selalu digunakan untuk pelaksanaan shalat Tarawih. Shalat Tarawih di Perumahan Bunul Asri bahkan sudah diselenggarakan sejak sebelum mushala ini dibangun. Pada waktu itu warga mengadakan shalat Tarawih di salah satu rumah kosong (yang belum ditempati oleh pemiliknya).

            Ada hal yang menarik dan unik dalam pelaksanaan shalat Tarawih di Mushala Nurul Musthafa ini. Sejak pertama kali diselenggarakan shalat Tarawih di Perumahan Bunul Asri, tarawih dilaksanakan dalam delapan rakaat saja dan shalat witir tiga rakaat dengan satu salam. Jumlah rakaat tarawih dan witir ini ibarat arsitektur bangunan. Bangunan shalat Tarawih dan Witir di Nurul Musthafa menggunakan gaya arsitektur MU, yaitu 8 + (3 rakaat x 1 salam).

            Gaya arsitektur MU ini dipadukan dan dipercantik dengan ornament-ornamen NU. Ketika akan memulai shalat tarawih, ada petugas khusus—dikenal dengan sebutan bilal—yang mengumandangkan seruan dimulainya shalat tarawih. Sang bilal mengucapkan

 صَلُّوْا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةَ رَحِمَكُمُ اللهُ

"Shallu sunnatat tarawiihi rak'ataini jaami'atan rahimakumullah

Artinya

"Mari mendirikan salat sunah Tarawih dua rakaat berjemaah. Semoga Allah merahmatimu"

 Jamaah salat Tarawih menyahut:

الصلاةُ لا إلهَ إلا الله

 "ash-shalatu laa ilaaha illaLLaah"

Artinya:

"mari shalat .. tidak ada tuhan selain Allah"

 Bilal kemudian menimpali lagi dengan mengucapkan

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

"Allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad"

 Artinya:

"Semoga salawat dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ShallaLLaahu alaihi wasallam"

 

Jamaah pun menyahut:

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ

 "Allahumma shalli wasallim 'alaih"

 Artinya:

"Semoga salawat dan keselamatan dilimpahkan kepada beliau"

Setiap selesai dua rakaat, sebelum melanjutkan dua rakaat berikutnya, bilal memberikan aba-aba yang sama dengan Ketika akan memulai tarawih dan jamaah pun menyahut dengan cara yang sama.

 Setelah selesai delapan rakaat tarawih, untuk lanjut ke shalat witir, bilal memberi aba-aba dimulainya shalat witir berikut:

 

صَلُّوا سُنَّةَ الوِتْرِ  ثلاثَ رَكَعَاتٍ جامعة رحمكم الله

“shalluu sunnatal witri tsalaatsa rakaatin jaami’atan rahimakumuLLaah”

 Artinya:

Mari kita laksanakan shalat witir 3 rakaat secara berjamaah, semoga Allah merahmati kalian’

 Para jamaah pun menyahut sebagaimana pada waktu akan memulai shalat tarawih.

 

            Dengan adanya aba-aba dari bilal dan jawaban para jamaah, suasana menjadi lebih semarak dan bersemangat. Di sela-sela shalat tarawih, shalawat dan tasbih berkumandang. Lebih penting dari itu adalah para jamaah merasa nyaman melaksanakan shalat dengan model paduan arsitektur MU dan ornament NU tersebut. Dalam tarawih 8 rakaat, pembacaan surat al-Fatihan dan surat-surat lainnya dilakukan dengan kecepatan normal sebagaimana dalam shalat-shalat rawatib. Gerakan shalat, perpindahan dari berdiri ke rukuk, dari rukuk ke sujud, dan seterusnya juga dilaksanakan secara normal tanpa ketergesaan. Dengan demikian shalat tarawih dapat dilaksanakan dengan cukup thama’ninah. Karena itu, semua jamaah bisa mengikuti shalat tarawih dengan tenang. Jamaah yang sudah agak tua, yang mengalami gangguan Kesehatan pada kaki atau lainnya pun tidak tertinggal apalagi terpontal-pontal. Jamaah yang sebelum tinggal di perumahan mungkin biasa melaksanakan tarawih 20 rakaat tetap nyaman melaksanakan tarawih 8 rakaat karena mereka masih bisa menikmati aba-aba sang bilal dan menjawabnya dengan penuh semangat. Demikian halnya para jamaah yang sebelum tinggal di perumahan tidak biasa dengan adanya aba-aba bilal, juga tidak terganggu olehnya. Lebih dari itu mereka pun ikut menyahut memberikan jawaban atas aba-aba sang bilal.

           Selain pada jumlah rakaat tarawih, arsitektur MU berwujud pada jumlah salam shalat witir. Shalat witir dalam arsitektur MU adalah 3 rakaat 1 salam. Adapun dalam arsitektur NU, sama-sama 3 rakaat, tetapi dengan 2 salam (2 rakaat + 1 rakaat). Shalat witir 3 rakaat dengan satu salam inipun berlangsung sejak awal diselenggarakannya shalat tarawih di Nurul Musthafa.

            Ornamen NU lainnya dalam shalat tarawih di Nurul Musthafa tampak pada wirid/dzikir/doa berjamaah setelah witir. Para jamaah Bersama-sama membaca doa berikut:

(mahasuci  sang Raja Yang Mahasuci)x3    سُبْحَانَ المَلِكِ القدُّوس 

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الملائكة والروح (mahasuci Tuhan Kami dan Tuhan Para Malaikat, serta Tuhan Jibril)

أشهد أن لا إله إلا الله (Saya bersaksi Tidak ada Tuhan selain Allah)

أستغفر الله (Saya meminta ampunan kepada Allah)

نسألك رضاك والجنة (Kami memohon kepada-Mu Ridha-Mu dan surga  sang Raja Yang Mahasuci)

ونعوذ بك من سخطك والنار (kami berlinduk kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka  sang Raja Yang Mahasuci)

اللهم إنك عفو كريم (Ya Allah sesungguhnya engkau Mahapemaaf dan mahapemurah)

تحب العفو فاعف عنا  (Engkau suka memberi maaf, maafkanlah kami)

 

            Setelah membaca Bersama-sama tasbih, syahadat, istighfar, dan doa-doa tersebut dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipandu oleh imam. Setiap selesai memandu doa, imam memandu pelafalan niat puasa untuk esuk hari dengan lafal niat berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عن أدَاءِ فَرضِ شَهْرِ رَمضَانَ هذِهِ السنةِ فَرضًا لله تعالى

Artinya:

Saya berniat puasa esuk hari sebagai pelaksanaan kewajiban puasa Ramadhan tahun ini fardhu karena Allah.

            Ornamen pelafalan niat puasa setiap selesai shalat witir ini penting karena menurut Imam Syafi’I niat puasa Ramadhan harus dilakukan di malam hari dan setiap hari (malam). Yang menarik, pada malam tarawih pertama tahun ini (2022), seorang jamaah meminta saya memandu niat puasa sebulan penuh sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Malik. Menurut Imam Malik, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan sekali di awal Ramadhan dengan niat berpuasa sebulan penuh. Niat puasa Ramadhan sebulan penuh yang sudah dilafalkan Bersama-sama di malam pertama Ramadhan diperkuat dengan niat puasa Ramadhan setiap hari.

             Selain berarsitektur MU dengan ornament MU, shalat tarawih dan witir di Mushala Nurul Musthafa ini juga dihiasi dengan ornamen MU. Ornamen MU dimaksud adalah dilaksanakannya kuliah tujuh menit (KULTUM) di antara shalat Isyak dan Tarawih. Dengan adanya kultum tarawih, para jamaah mendapatkan pencerahan-pencerahan dari para ustadz setempat.

Kegiatan kultum tarawih ini saya sebut sebagai ornamen MU karena kegiatan ini lebih banyak ditradisikan di masjid-masjid MU. Hari ini kultum tarawih sudah sangat  menyebar di masjid-masjid dan mushala-mushalla di perkotaan. Jika Umar bin Khathab menyebut shalat tarawih berjamaah dengan satu imam sebagai ni’mal bid’ah ‘bid’ah ternikmat’, kegiatan kultum tarawih—dan kultum-kultum lainnya—juga dapat dipandang sebagai bidah yang indah juga. Sepertinya tidak ada Riwayat bahwa Rasulullah mengadakan kultum (sejenisnya) menjelang shalat tarawih, tetapi alhamdulillah kegiatan ini tidak pernah ada yang mempermasalahkan.  

Pada tahun-tahun awal pelaksanaan tarawih di Nurul Musthafa, ada 1-2 jamaah yang selalu pulang lebih dulu Ketika selesai tarawih 8 rakaat (sebelum shalat witir). Hal itu mungkin karena mereka bermaksud melengkapi shalat tarawihnya di rumah agar mencapai 23 rakaat. Mereka tidak mau melaksanakan shalat witir bersama imam tarawih di mushalla, karena mungkin mereka pernah mendapat penjelasan bahwa shalat witir adalah penutup shalat malam, sehingga mereka berpikir, bahwa setelah shalat witir di dalam masjid/mushala, mereka tidak boleh/bisa menyempurnakan shalat tarawihnya menjadi 23 rakaat.

            Melihat fenomena itu, Ketika mendapatkan jadwal mengisi kultum, saya menyampaikan hadits Rasulullah berikut ini:

من صلى مع الإمام حتى ينصرِف كُتب له قيام ليلة

‘man shallaa ma’al imam hattaa yansharifa kutiba lahuu qiyaamu lailah’

Artinya:

Barang siapa yang shalat (malam/tarawih) bersama imam sampai imam selesai, makai a dicatat telah melaksanakan shalat malam semalam.

 Meninggalkan mushalla sebelum shalat witir itu boleh, kemudian melanjutkan shalat tarawih di rumah sampai 20 rakaat dan witir di rumah itu baik-baik saja karena ia melakukan shalat dengan jumlah rakaat lebih banyak dari pada di mushalla. Tetapi jika kita melakukan demikian, kita kehilangan keutamaan shalat Bersama imam sampai tuntas. Apa keutamaannya? Jika kita shalat tarawih Bersama imam sampai tuntas kita dicatat melakukan shalat malam semalam penuh. Dicatat shalat tarawih semalam suntuk tentu lebih baik daripada shalat tarawih dan witir 23 rakaat. Karena itu, lebih baik kita tuntaskan sampai witir Bersama imam. Setelah kita witir Bersama imam, jika  tengah malam nanti kita ingin nambah lagi shalat malam, boleh-boleh saja. Kita tinggal nambah shalat malam di rumah seperti biasa, tanpa shalat witir lagi dan tidak perlu lebih dulu shalat satu rakaat untuk membatalkan witir yang telah kita tunaikan Bersama imam di mushalla. Jika kita biasa shalat tarawih 8 rakaat, tetapi suatu saat kita ikut berjamaah di masjid yang shalat tarawihnya 20 rakaat, maka menurut hadits tadi kita juga dianjurkan untuk tetap bersama imam sampai dengan shalat witir. Dengan demikian kita akan mendapatkan keutamaan shalat lail semalam. Alhamdulillah dengan penjelasan tersebut, akhirnya semua jamaah mengikuti shalat tarawih dan witir Bersama imam sampai selesai.

            Demikianlah paduan indah shalat tarawih dan witir berarsitektur MU dengan ornament-ornamen NU. Semoga kebersamaan dan kerukunan dalam beribadah yang terjalin indah dalam keragaman tetap lestari atau bahkan berkembang berbalut rahmat dan ridha dari Allah subhanahu wata’ala. waLLaahu waliyyut taufiiq.

 

contoh iklan

Site Links